Jasad; Aku Mulai Mencintai Kematian

9

Selain The Beatles, aku mulai mendengarkan musik alternatif era sembilan puluhan. Band seperti  Nirvana, Radiohead, Pearl jam, mulai mengusir kesendirianku.

Aku mulai mencocokan lagu dari band-band itu kepada hidupku, bagaimana aku merasa aneh terhadap diriku sendiri. Aku yang kaku, pendiam, dan sering dianggap memiliki gangguan mental karena luar biasa tenang. Kerap kali orang menemukan tatapan mataku kosong melompong mirip manekin yang dapat bergerak dan bernapas, terima kasih kepada didikan Mamak yang memagari gerak-gerikku di ruang publik. Ia tidak ingin boneka kesayangannya melakukan tindakan yang tidak pantas, walaupun begitu aku tetap menyayanginya hingga saat ini. Sebenci apapun kau dengan Mamak, di tempat terkecil di dalam hatiku aku selalu tulus mencintainya.

Aku menolak dan menegaskan kepada diriku sendiri bahwa aku bukan orang aneh, aku tidak memiliki keanehan apa-apa. Aku hanya butuh sedikit berusaha membaur dengan lingkungan sekitar dan itu aku lakukan sepeninggal Mamak. kumanfaatkan waktu untuk membuka diri kepada teman baru, aku berhasil. Di kelas dan di lingkungan tempatku tinggal aku mempunyai teman, dan sosok Erin pernah mengisi hidupku walau singkat. Aku yakin bahwa tidak ada yang janggal dalam diriku, aku adalah mahasiswa kedokteran yang sehat tanpa pengaruh obat-obatan atau tukan hisap ganja. Satu-satunya benda laknat yang pernah masuk ke dalam tubuhku adalah nikotin rokok, aku sempat belajar merokok sampai akhirnya menjadi perokok kecil-kecilan di tahun terakhirku di SMA. Namun, semua itu sudah kutinggalkan.

Menginjak tahun keempat, aku ditampar dengan kenyataan yang dulu pernah menghantuiku; aku adalah seorang yang aneh, ada sesuatu yang salah di dalam diriku. Kala itu tidak seperti biasanya, Bapak menelponku untuk pulang lebih awal.

“Kita makan malam bersama, sudah lama kita tidak melakukan itu.” Ia berkata dengan semangat membara di seberang telpon.

Aku hanya membalas dengan anggukan curiga yang tidak ia lihat, bibirku bergerak lambat, “iya, ini aku langsung pulang.”

Sepanjang perjalanan pulang, aku banyak melamun di dalam bis kota. Aku mempertanyakan ajakan makan malam bersama Bapak yang tiba-tiba itu, aku tidak suka keadaan seperti ini. Pasti ada sesuatu di balik sikapnya.

Semua terjawab ketika aku sampai di rumah, ada sebuah mobil terparkir di depan. Mobil putih itu lagi. Mobil Bapak terparkir tenang di dalam garasi. Aku masuk ke dalam rumah dengan tenang, ruang tamu tampak lengang tapi ada sebuah kegaduhan di dapur. Suara perabotan dapur dan suara seseorang yang sedang bercakap-cakap sampai ke telingaku, dengan langkah hati-hati aku mendekati dapur. Setidaknya ada tiga suara berbeda di dapur, dua suara perempuan dan suara ayahku. mereka sedang asyik bersenda gurau. Langkahku terhenti di pintu dapur, mataku mengerjap-ngerjap melihat seorang perempuan seusia Bapak dan seorang gadis muda tengah memasak sambil tertawa terkekeh-kekeh. siapa gerangan mereka? mengapa Bapak kelihatan akrab dengan mereka.

Kehadiranku membawa kecanggungan di rona wajah mereka, Bapak melepaskan rangkulan tangannya di pinggang perempuan itu. Ia menatapku dan tersenyum.

“Sudah pulang, Andra. Cepat mandi dan ganti baju, abis itu makan.”

Aku tidak menghiraukan ucapan Bapak, mataku menyorot pada perempuan dan gadis itu. Mereka salah tingkah dengan tatapanku.

“Oh,” pekik Bapak seakan baru teringat sesuatu, “kenalkan ini tante Marliana dan anaknya Tari.”

Mereka maju beberapa langkah untuk menyalamiku, aku pun menyambut mereka. Tante Marliana adalah perempuan berusia awal empat puluh yang masih tetap terlihat cantik, rambut hitamnya tertata rapi. Ia mengenakan kemeja krem berkancing besar berwarna perak dan rok hitam selutut. Sedangkan Tari mirip gadis pada umumnya, umurnya kuperkirakan baru menginjak tujuh belas tahun atau delapan belas. Ia memakai jeans dan kaus berwarna cokelat.

Bibirku sudah gatal ingin menyerang mereka dengan rentetan pertanyaan, tetapi Bapak memaksaku untuk segera mandi dan berpakaian yang pantas. Mereka akan menungguku di meja makan.

Aku keluar kamar masih dengan semangat yang sama untuk mendapatkan informasi lebih tentang jati diri tante Marliana dan anaknya Tari, dan yang terpenting apa yang mereka lakukan di sini. Aku duduk bersama mereka di meja makan dengan aneka ragam makan yang terhidang, sepertinya enak. Diam-diam perutku berbunyi karena belum diisi semenjak siang.

Kami memulai makan malam, mataku lincah berpindah-pindah dari Bapak ke tante Marliana dan Tari. Aku menuntut penjelasan dari mereka, siapa saja yang bicara aku tidak peduli.

Akhirnya Bapak angkat bicara.

“Bapak menyuruh kamu pulang memang bukan tanpa alasan,” Bapak menurunkan sendok dan garpunya, perhatiannya terpusat padaku, “Bapak dan tante Marliana sudah cukup lama saling kenal, kebetulan tante Marliana bekerja untuk salah satu klien Bapak.”

Aku teringat akan mobil bercat putih itu, mobil itu adalah mobil yang mengantar Bapak pulang malam itu ketika mobilnya rusak.

“Cukup lama Bapak dan tante Marliana saling mengenal hingga akhirnya kami memutuskan semua ini, kamu sudah dewasa dan Bapak yakin sudah paham keadaan kita pasca kepergian Mamak. Jujur, Bapak kesepian dan membutuhkan seseorang untuk mendampingi Bapak. Bukan karena Bapak tidak mencintai mamak lagi, tapi karena Bapak ingin melanjutkan hidup dan sekarang hidup Bapak ada di tante Marliana. Bapak yakin ini juga yang ibumu kehendaki.”

Setelah kepergian Mamak, ini kali pertamanya Bapak berbicara panjang lebar seperti ini. Aku terpukau seakan mendengar suaranya untuk yang pertama kali.

“Kami sudah menimbang semuanya dari jauh-jauh hari, jadi ini buka keputusan buru-buru. Banyak proses yang kami tempuh hingga kami sampai di keputusan untuk menikah. Tante Marliana sudah lama pisah dari suaminya dan sekarang dia tinggal sama anak-anaknya, dan Bapak pun duda beranak satu. Bapak pikir tidak ada pihak yang dirugikan akan keputusan kami.”

Aku melihat tante Marliana menggenggam tangan Bapak.

“Tari sudah mengizinkan kami untuk membina rumah tangga yang baru, begitu juga keluarga besar tante Marliana. Saat ini kami berdua ingin meminta izinmu, Andra. Kamu adalah anak Bapak satu-satunya, dan satu-satunya yang Bapak miliki sekarang.”

“Tante harap kamu bisa merestui hubungan kami.” Akhirnya tante Marliana bersuara, aku pikir dia patung bernyawa yang tidak dapat bicara.

Aku tidak merespon apa-apa, kupandangi mereka dan Tari yang tidak hentinya tersenyum kepadaku. Seakan-akan ada sebuah tulisan berisi “selamat datang kakak tiri” tersulam di bibirnya.

“Bagaimana, Andra. Apakah kamu merestui hubungan kami?” lanjut Bapak dengan nada penuh harap.

Tentu saja aku tidak setuju, apakah Bapak sudah sinting? Menikah lagi tidak menghasilkan apa-apa, lagi pula ia tidak akan bisa menggantikan aura dari sosok Mamak untuk rumah ini. Kehadirannya nanti tidak akan serta merta membuat rumah ini hidup lagi, aku sudah cukup nyaman dengan keadaan kita dan tolong jangan memperparah. Aku bukannya egois, aku hanya tidak merasakan kebahagiaan yang berkobar di bola mata kalian, kebahagiaan ini hanyalah untuk kalian bukan untukku. surga kalian akan berubah menjadi neraka bagiku. Aku kebas, tidak ada sedikitpun kehangatan yang terpancar dari kalian mengenaiku. Aku tetap dingin dan gelap, Bapak hanya mencari jalan keluar untuknya sendiri bukan untukku.

Di bawah meja, tanganku mulai mengepal. Namun, aku tidak kuasa untuk mengatakan tidak. Jika itu kulakukan maka aku akan sama egoisnya dengan Bapak, biarlah dia dengan kebahagiaannya sendiri dan aku dengan kesendirianku sendiri. Yang jelas mereka tidak akan bisa menjangkauku, aku sudah terpental jauh dan tersesat.

“Baiklah, kalo itu yang terbaik menurut Bapak. Aku nurut.” Jawabku singkat dengan suara putus-putus.

Keceriaan bercampur kelegaan terpancar dari wajah mereka, tante Marliana berulang kali mengucapkan terima kasih kepadaku. Puncaknya ia beranjak dan mengecup keningku sebagai tanda ikatan hangat antara ibu dan anak tiri.

Satu bulan setelah makan malam itu Bapak menikah di gereja tempat kami beribadah, tidak ada resepsi megah hanya sebatas pemberkatan di gereja. Kami resmi hidup sebagai sebuah keluarga yang utuh lagi; ayah, ibu, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan. Tentu tempatku akan selalu kosong karena aku selalu menghindari mereka, kegiatan kuliahku yang semakin sibuk mejadi alasan yang tidak terpatahkan tentang seringnya aku absen setiap kali ada pertemuan keluarga besar. Aku tidak ingin diriku bersanding dengan mereka, aku akan selalu bersanding dengan Mamak yang sudah membusuk tinggal tulang di liang lahatnya.

Semenjak itu aku mengakui bahwa aku berbeda dengan orang lain, ada perasaan dingin yang abadi berkobar di dalam hatiku, aku tak lagi merasakan hal-hal tertentu. Ada satu indera yang mati di dalam tubuhku, indera itu adalah mata hatiku. Aku melihat tapi buta, aku hidup tapi mati. Aku berbicara tapi diam.

Mulai saat itu aku mati di tengah-tengah hidupku; hatiku mati, asaku mati, cintaku mati; aku mulai mencintai hal-hal yang berhubungan dengan kematian.

10

Pertengahan tahun 2008 aku sudah sampai di tahun akademisiku yang terakhir, waktu yang kupunya semakin sempit. Tumpukan ilmu-ilmu yang seakan tidak ada habisnya terus dijejalkan dalam otakku, beberapa ilmu medis yang bersangkutan dengan KOAS seperti ilmu kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kandungan, ilmu kesehatan kulit, ilmu penyakit mata, ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan jiwa, dan berbagai macam ilmu lainnya yang sudah tak mampu lagi kuhafal satu per satu. Terlepas dari keruwetan aktivitas akademisku yang semakin menjerat, setidaknya ada keuntungan yang kudapat dari sana. Aku jadi jarang di rumah, sebagian besar waktu kuhabiskan di kampus bersama rekan-rekan sefakultas dan dosen. Tidak ada tatapan sinis atau curiga dari Bapak yang mencium aroma penolakanku, aku bebas dari tuduhan apapun.

Lebih dari itu, Bapak justru memberikanku sebuah mobil Nissan Xtrail miliknya demi menunjang mobilitasku.

“Sudah waktunya kau punya kendaraan, sebentar lagi kau jadi dokter muda.” Bisiknya ketika menyerahkan kunci mobil yang baru saja ia bayar lunas dari dealer.

Sebagai gantinya ayah menjual mobil lama kami, ia membeli sebuah mobil ekonomis sebagai kendaraan sehari-harinya. Aku agak canggung menerima pemberian yang begitu melimpah dari Bapak, bertahun-tahun aku menggunkan bus kota dan berongkos pas-pasan. Kita aku sudah mengendarai sebuah mobil bagus dan uang jutaan rupiah di dompet, belum lagi uang di rekeningku yang membengkak bagai ransel yang dijejali begitu banyak pakaian. Penampilanku kini sudah lebih mirip mahasiswa kedokteran sekarang.

Selain memberiku mobil, Bapak juga membelikan sebuah laptop keluaran terbaru untuk menggantikan komputer usangku. Sesungguhnya aku masih ingin menggunkan komputer berlayar cembung dan ber-keyboard putih kotor itu. Namun, kesibukkanku dan keengananku berada di rumah memaksa kami untuk berpisah, terima kasih karena sudah menemaniku selama ini, sobat. Kau akan selalu jadi komputer yang terbaik untukku. setidaknya seminggu dua kali Bapak menyuruhku membeli kemeja baru, sebagai calon dokter aku tidak pantas memakai kaus dan jeans belel lagi. Aku harus bertransformasi demi gengsi yang berujung pada nilai jualku nanti.

Tante Marliana berdecak kagum kepadaku, ia terus menerus mengutarakan betapa bangganya ia tatkala menatapku dan ibuku pasti akan merasakan hal yang sama.

Perubahan besar-besaran bukan hanya terjadi penampilanku, tetapi juga terjadi pada pencarianku. Walaupun tidak yakin, kejadian itu sempat membuatku berpikir bahwa aku menemukan apa yang aku cari selama ini. Aku menemukan pengisi dalam kekosongan hatiku meski dalam bentuk yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Semua bermula ketika aku mempelajari ilmu anatomi dasar manusia,  ilmu anatomi dibagi menjadi dua mata kuliah berbobot empat SKS. Cukup berat memang, namun aku langsung menyukai mata kuliah anatomi satu semenjak hari pertama. Mataku berbinar-binar ketika mengetahui bahwa selama satu semester aku akan belajar lewat media cadaver. Aku melihat sesuatu yang menarik di balik rupa cadaver yang hitam dengan kulit sekeras kayu itu, ada sesuatu yang mengagumkan dari sikap diamnya yang sempurna; diam tanpa nyawa. Mengingatkanku akan sosok Mamak ketika terakhir kali aku melihatnya dalam tubuh yang sudah dikuasai formalin. Bisa dibilang aku jatuh cinta semenjak pertama kali aku melihat cadaver yang akan menjadi obyek pembelajaran selama satu semester, aku yakin ketika hidup ia adalah sesosok pria yang disegani melihat postur tubuhnya yang bongsor dengan dada bidang yang menjulang bak benteng kokoh yang mampu menahan musuh dalam jumlah besar. Mata kuliah anatomi satu lebih menitik beratkan pada tulang manusia, dari mulai dari Ossa crani atau tulang tengkorak sampai tulang belakang.

Ini adalah mata kuliah terumit yang pernah kupelajari selama masa akademisku, tetapi itu semua tidak menyurutkan semangatku. Ada yang berhasil menarik perhatianku sepanjang tiga jam yang melelahkan; sosok cadaver lelaki. Tanpa sepengetahuan siapa-siapa aku mengagumi sosok itu, bak seorang model lukis berparas luar biasa sempurna ia menyihirku dalam diamnya yang terasa gemerlap. Beberapa kali kutangkap matanya yang terbuka tertuju kepadaku, bibir hitamnya melengkungkan senyum tulus. Ingin rasanya aku lari ke dalam pelukannya yang mungkin saja bisa membakar kulitku akibat kandungan formalin yang menjajah setiap lapisan tubuhnya, aku tidak akan keberatan.

Baru kali ini aku melihat sosok manusia yang begitu polos tanpa sedikitpun polesan duniawi, aku seperti melihat sosok bayi yang baru lahir ke dunia. Sebuah senyuman sumringah menjawab tatapannya padaku, sedetik kemudian aku menyadari bahwa sepasang mata Erin sedang tertuju padaku, menatapku heran. Erin adalah satu-satunya mahasiswa yang berdiri tegap menatapku, yang lain tengah membungkuk dan mempelajari tulang lengan atas.

Aku tersadar dengan napas terengah-engah, kulirik cepat wajah cadaver itu, matanya tertutup, bibirnya bagai garis lurus.

Aku melepaskan tatapanku pada Erin dan ikut membungkuk bersama teman-temanku, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku bersama puluhan mahasiswa lain tengah belajar tentang tulang lengan atas.

Sepuluh detik berselang kembali kulirik Erin, ia masih menatapku dengan tatapan aneh. Ia mungkin sedang menerka-nerka senyum sumringahku, ia tidak juga menemukan jawaban pasti. Akhirnya ia menyerah dan berhenti menatapku.

Mata kuliah anatomi satu berjalan lancar, aku mendapatkan nilai yang cukup baik. Berbekal nilai itulah aku mendatangi dokter Andre yang kelak menjadi dosen untuk anatomi dua.

“Kamu yakin mau menjadi asisten saya?” tanya dokter Andre, ia mengerutkan kening.

“Iya, dok. Saya yakin dan siap dengan konsekuensi yang harus saya tanggung.” Jawabku mantap.

Dokter Andre mendorong tubuhnya ke sandaran kursi, ia tampak tengah menimbang-nimbang. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan, aku tak mau segala upayaku berakhir pada sebuah penolakan.

Aku sudah bersusah payah membuat janji dengan dokter Andre yang merangkap menjadi dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di rumah sakit, dan aku tidak mau gagal.

“Sesungguhnya yang tersulit jadi asisten dosen adalah kamu harus bisa membagi waktu antara kuliahmu dan tugas sebagai asisten dosen. Semester nanti kamu juga akan mendapatkan anatomi dua, kan?”

“Iya, dok. Saya yakin saya bisa membagi waktu, kalau tidak mana mungkin saya susah-susah mendatangi dokter ke sini.” Sorot mataku lurus dan tajam.

Dokter Andre mengangguk kecil, “baiklah, jika tekad kamu sudah mantap. Saya kasih kesempatan, tapi kalo kamu mempermainkan kepercayaan saya, udah bisa saya pastiin kamu gak akan lulus.” Ujarnya singkat.

Aku senang campur takut, setelah bicara itu aku pamit meninggalkan dokter Andre. Setidaknya ancaman itu sepadan karena jika aku menjadi asisten dosen maka aksesku pada ruangan anatomi akan semakin mudah karena ruangan itu menjadi tanggung jawabku, dan kans untuk lebih mengenal si pria gagah itu semakin besar. Jantungku berdegup kencang menunggu kesempatan itu datang.

Jasad; Selamat Tinggal Erin

6

Baru tidur satu setengah jam aku sudah kembali terjaga, belakang kepalaku sakit dan tenggorokanku kering. Aku bangkit sempoyongan dari tempat tidur seperti orang mabuk, kulirik komputerku masih menyala dengan sleep mode. Tertatih kuhampiri komputerku untuk meraih tetikus yang diam bagai prajurit yang mati di medan perang, kubuat satu gerakan ke atas layar komputer menyala. Masih ada jendela yahoo messenger dan liveconnectors yang terbuka, Erin sudah sign out rupanya. Aku memang sering lupa mematikan komputer setelah memakainya, segera kututup jendela-jendela chatting hampa itu dan mematikan komputer. Aku berdiri selama dua menit untuk memastikan komputer benar-benar mati, setelah itu aku melangkah keluar sambil memegangi kepalaku yang nyut-nyutan.

Seingatku ada setangkap roti bekas tadi pagi di atas meja, lumayan untuk mengganjal perut sebelum meminum obat sakit kepala. Kaki-kaki telanjangku perlahan menjejaki lantai yang dingin, seluruh lampu rumah sudah mati kecuali lampu teras dan dapur. Ketika sampai di meja makan aku mengintip ke kamar Bapak, lampunya padam. Dia belum pulang larut lagi.

Rumah ini terasa begitu besar sekarang, mirip rumah hantu di pasar malam yang dulu gencar digelar dari kampung ke kampung. Besar, lega, tanpa penghuni. Pintu kulkas dua pintu ukuran besar yang nyempil di sudut dapur terasa begitu berat karena terlalu banyak muatannya, tidak ada yang rajin membersihkan kulkas ini. Bapak memang hobi membeli ini itu tanpa ia sentuh sekalipun, di sisi kulkas bertumpuk empat krat bir. Bir ini adalah tabungan Bapak kalo nanti ada acara keluarga.

Sebuah botol air mineral yang masih disegel menjadi satu-satunya benda yang aku ambil dari tumpukan sampah itu, dari kulkas besar aku bergeser ke kulkas kecil yang berada di depan sebelah kiri kulkas besar. Di atas kulkas kecil terdapat sebuah keranjang bekas parcel yang digunakan untuk menyimpan obat-obatan, beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa keluargaku sampai mempunyai dua kulkas. Alasannya sepele, Bapak tidak suka makanan langsung makan disatukan dengan daging mentah. Jadilah keluarga kami mempunyai dua buah kulkas, terima kasih Bapak atas higenitasmu yang tinggi.

Aku terhuyung-huyung ke meja makan dengan sebotol air mineral dan satu strip obat sakit kepala, aku menghempaskan bokongku ke kursi makan. Ah, nikmatnya. Setelah termenung selama beberapa detik segera kubuka tudung saji berwarna merah yang sudah ada semenjak aku lahir, voila, setangkap roti berselai srikaya menunggu dalam ketidakpastian. Apakah ia akan dimakan atau dibiarkan sampai berjamur. Saat ini nasibmu beruntung wahai roti dingin nan keras, aku membutuhkanmu untuk alas labung sebelum racikan kimia ini masuk ke dalamnya.

Susah payah aku mengunyah roti dengan rahang yang sepertinya sudah lelah, rasanya masih enak tapi kerasnya ampun-ampunan.

Butuh perjuangan besar untuk mengunyah dan menelan roti malang itu, tetapi dorongan air dingin adalah cahaya ilahi. Akhirnya air bah mampu merontokkan bendungan yang menyumpal saluran pencernaanku. Sebutir obat sakit kepala menjadi penutup camilan malamku, aku meninggalkan dapur setelah itu. Air mineral sisa dan obat sakit kepala yang masih tersisa tiga butir kubawa bersamaku, jika nanti aku membutuhkannya lagi.

Kututup pintu kamar pelan-pelan lalu berjalan menuju tempat tidur, air mineral dan obat sakit kepala harus rela tinggal di meja komputer. Alih-alih kembali tidur aku malah duduk di bibir tempat tidur sembari melamunkan hal yang tidak-tidak, banyak pikiran mengerumuni kepalaku seperti lalat di tempat sampah. Aku bahkan tidak bisa mengidentifikasi mereka satu-satu, mereka hanya datang dan pergi di kepalaku yang mirip bejana kosong.

Suara deru mesin mobil mengembalikan kesadaranku, bukan mobil Bapak tapi berhenti tepat di depan rumahku. Apakah ada tamu yang datang selarut ini?

Aku bangkit setengah berlari menuju jendela, sebuah mobil bercat putih berhenti tepat di pintu pagar rumahku. Bapak turun dari kursi penumpang bagian depan, sejak kapan Bapak punya mobil berwarna putih. Lagi pula mobil Bapak kan sedang berada di bengkel dan baru besok bisa diambil.

Aku mengamati Bapak seperti buser mengamati targetnya, wajahku sengaja aku samarkan dibalik tirai putih. Bapak berputar ke kursi pengemudi, ia berdiri di sana cukup lama. Sedang bercakap-cakap sempertinya, beberapa kali ia mengangkat tangannya dan tersenyum. Sangat akrab.

Siapakah orang yang sedang bercakap-cakap dengan Bapak? Dari tempatku memata-matai aku tidak dapat melihat sosok dibalik kemudi mobil putih itu, tubuh Bapak yang agak tambun semakin memperkecil sudut pandangku. Tidak lama kemudian Bapak masuk dan mobil itu pergi.

Siapapun orang itu, dia pasti mempunyai hubungan akrab dengan Bapak. Padahal sangat sedikit orang yang bisa akrab dengan Bapak, soalnya Bapak termasuk orang yang pelit senyum dan terkesan galak, hanya dua orang yang dapat membuat Bapak tersenyum lepas. Pertama nenekku, kedua Mamak.

Sekarang daftar itu bertambah satu, orang asing pemilik mobil putih itu.

7

Hubunganku dengan Erin semakin akrab, kami tidak lagi malu mempertontonkan kebersamaan kami sebagai teman. Banyak cemoohan yang singgah kepadaku, aku dinilai sebagai pengeran rakyat jelata dan Erin seorang putri dari kerajaan nun jauh di sana. Aku tidak peduli, Erin adalah pribadi yang baik dan santun. Tidak pernah memandang orang dari kasta, dan yang terpenting aku nyaman bersamanya.

“Kita jalan, yuk.” Ujar Erin pada suatu siang di kantin kampus.

“Jalan kemana?” tanyaku pura-pura polos.

“Kemana kek, ke Taman Anggrek kek, atau ke Sency kek.” Sahut Erin. Kutenggelamkan perhatianku pada buku Sobotta Anatomi satu di hadapanku.

“Ih, Andra mah gitu. Aku dicuekin.” Protesenya dengan bibir manyun.

“Iya, kenapa sih Erin.” Aku akhirnya menutup buku dan menatap wajahnya yang selalu membuatku grogi.

“Kita jalan, aku bosen di nongkrong di kampus terus.”

Aku mendorong tubuhku sedikit ke belakang.

“Gak suka jalan-jalan ke mall.” Jawabku agar ketus.

“Kenapa?”

“Rame, gak suka yang rame-rame.” Imbuhku singkat.

Ia diam, tampaknya sedang berpikir.

Sesungguhnya alasanku itu hanya bohong semata, aku tidak pernah punya kebencian terhadap mall dan tempat-tempat perbelanjaan lain. Aku hanya takut uang jajanku hari itu yang hanya cukup untuk satu kali naik bisa disambung ojek tidak mencukupi biaya selama kami di sana, barang kali untuk parkirpun tidak cukup.

“Ya udah kalo gak suka mall, tempat selain mall juga gak apa-apa asal kita pergi dari sini. Sumpah, bosen aku di sini.” Akhirnya ia luluh.

“Oke, bagaimana jika ke taman mini?”

Erin mengerutkan dahi, ia menyangka aku sedang bercanda. Raut wajahku yang konstan tanpa perubahan ke arah guyon menegaskan kepadanya bahwa aku serius.

“Ya, bolehlah.”

Aku membereskan buku-buku dan jurnalku yang berserakan di atas meja dan meninggalkan kantin bersama Erin.

“Naik mobil aku atau kamu?” ujarnya ketika kami sedang berjalan bersama.

Aku mendadak batuk ringan.

“Mobil kamu aja.” Suaraku hampir tidak terdengar.

“Oke.”

Erin menggiringku ke mobilnya, Honda Jazz keluaran terbaru berwarna merah. Dari kampus ia memacu mobilnya melalui Cililitan.

Sesampainya di Taman Mini, kami mengunjungi banyak tempat. Mulai dari museum air tawar, museum ilmu pengetahuan, hingga rumah-rumah adat. Kami menjadi pengungjung tertua siang itu selain guru taman kanak-kanak yang memandu puluhan murid mereka. Aku sedikit merasa bersalah kepada Erin, ia tidak layak mendapatkan kencan murahan seperti ini. Mungkin sekarang ia sedang tersiksa tapi pura-pura baik-baik saja.

Namun, ketika aku menatap langsung ke matanya ia tampak sangat senang, terutama ketika kami berpapasan dengan murid taman kanak-kanak ketika melihat ikan-ikan besar asal Amazon. Tanpa segan Erin malah ikut menjelaskan ikan-ikan itu kepada kerumunan anak-anak.

Lelah mengelilingi Taman Mini, aku dan Erin duduk di sebuah kedai deret di persimpangan jalan utama. Aku memesan sebuah jus sirsak sedangkan Erin memesan makanan.

“Kamu gak makan?” tanyanya.

“Gak ah, tadi di kampus udah makan. Masih kenyang.” Tepisku. Padahal aku tak makam lantaran dompetku tidak mengizinkan untuk memesan macam-macam.

“Ya udah, jangan ilfeel yang liat aku makan. Aku laper banget, jadi makannya kayak kuli.” Ujar Erin dengan senyum tipis malu-malu.

Aku berusaha memakluminya, lagi pula aku bukan orang yang berpikir aneh jika seorang gadis cantik makan banyak. Seorang perempuan dewasa setidaknya butuh 2000 kalori perhari, jika sedang bekerja lebih mungkin lebih banyak. Makanlah senyaman mungkin, Erin.

Aku tercengang ketika pesanan Erin datang, yang ia maksud makan ala kuli adalah seporsi kecil spaghetti. Ya ampun, Mamak saja makan lebih banyak dari itu ketika ia masih berjuang melawan kankernya.

“Kenapa ngeliatin? Mau?” Erin menyodorkan sepaghetti-nya. Aku menggeleng sopan.

“Cuma heran, ternyata yang kamu maksud makan porsi kuli tuh segini. Mungkin buat bokap gue ini hanya sekali jilat doang.” Ungkapku jujur.

Erin tertawa terpingkal-pingkal, aku dapat melihat sesuatu yang bersinar-sinar di dalam matanya. Sebuah kebahagiaan yang murni.

Aku dan Erin menghabiskan waktu satu jam di kedai itu sebelum kami memutuskan untuk pulang, Erin memaksa untuk meneraktirku hari itu dan aku tidak berkutik. Di dalam hati aku bersyukur. Belum puas sampai di situ, Erin kembali berulah. Ia memaksa untuk mengantarkanku pulang sampai rumah, mau taruh di mana kejantananku ini? Masa aku harus rela di antarkan oleh perempuan di kencan pertama ini.

Namun, sekali lagi dengan berat hari aku harus rela meluluskan keinginan Erin. Ia menurunkanku di depan pagar.

“Gak usah mampir, lagi pula gak ada orang di rumah.” Tukasku ketika melihat gelagat Erin yang tidak enak jika tidak mampir.

“Oh, gitu. Aku langsung pulang, ketemu besok di kampus ya.” Erin melambaikan tangan dan tersenyum, tidak lama kemudian ia menginjak pedal gas.

Aku berdiri di depan pagar rumahku, melambaikan tangan sedikit kemudian diam mematung melihat mobil Erin yang menghilang di jalanan komplek yang sepi.

Hari ini sisa ongkos kuliahku utuh. Untuk pertama kalinya seorang mahasiwa kedokteran yang pas-pasan macam diriku punya sisa ongkos kuliah, prestasi ini harus kucatat di buku biografiku nanti.

8

Kencan pertama yang bisa dibilang berhasil membuat Erin semakin berani mengekspresikan kedekatan kami di muka publik, kasak-kusuk tentang hubungan kami menyebar ke mana-mana. Beberapa teman sekelas pun mulai mendesak untuk segera menyatakan cinta kepadanya, tapi aku bagai mesin yang mogok. Tak terbersit sedikitpun niat untuk menyatakan cinta kepadanya. Jangan salah paham dulu, aku bukannya sok kecakepan dan dengan sombong mengeliminasi Erin yang begitu sempurna dari tipe perempuan incaranku. Aku hanya tidak yakin apakah ia yang aku cari selama ini, sejauh ini dia memang orang yang paling dekat denganku. Namun, tidak ada tanda-tanda kekosongan dalam diriku terisi dengan kehadirannya.

Satu-satu alasan mengapa aku tetap berhubungan dengan Erin adalah karena aku suka melihat senyumnya, setiap kali senyum itu terbit aku merasa sedikit beban ini lepas begitu saja seperti sepasang merpati yang terbang bebas.

Aku dan Erin menghabiskan waktu bersama di sela-sela perkuliahan (walaupun ruang gerak kami hanya kampus dan sekitarnya karena ongkosku yang pas-pasan), kami menikmati kehadrian satu sama lain. Hubunganku dan Erin mulai renggang ketika sosok Fernando masuk, dia anak seorang lawyer kawakan di Jakarta, perawakan tubuhnya tegap dengan perangai Sumatra Utara tulen yang gagah perkasa. Tidak perlu ditanya lagi seberapa kaya orang tua Fernando, melihat mobilnya yang lebih cocok digunakan untuk masuk hutan rimba ketimbang menggilas jalanan kampus saja membuat siapa saja ciut. Mobil besar berharga miliran rupiah itu baru gertakan awal.

Rupanya Fernando sudah menyukai Erin semenjak lama, di balik tubuhnya yang kekar bak petinju tersimpan pribadi yang keringat dingin jika berada di dekat perempuan yang ia suka. Sama sepertiku, menang badan besar aja. Dua bulan belakangan si tubuh besar berhati lembut ini memantau hubunganku dan Erin, hatinya terbakar cemburu melihat pujaan hatinya lebih dekat dengan seorang mahasiswa kurus yang lebih mirip loper koran. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk merebut Erin dariku secara terang-terangan.

Ia mulai sering muncul di kantin atau taman kampus saat kami sedang berduaan lalu mengajak Erin pergi, ajakan itu sering ditolak tapi beberapa kali diterima. Mungkin Erin pun sudah mulai bosan mengikuti gaya hidup iritku, jiwa sosialita di dalam diri Erin sudah mulai menjerit-jerit. Aku tahu pikiranku memang picik, belum tentu Erin seperti apa yang aku pikirkan. Sesungguhnya aku pun tidak percaya ia seperti itu, tetapi aku lebih memilih untuk mengikuti pransangka burukku saja.

Kekalahanku terjadi di suatu hari Jumat yang panas, ketika itu aku dan Erin sedang berada di taman membaca beberapa buku pengantar. Fernando datang dari arah gedung kampus.

“Rupanya di sini kau.” Pekik Fernando sambil mengelap keringatnya.

Aku dan Erin menoleh bersamaan.

“Emang ada apaan sampe nyari-nyari gitu?” Erin berkata dengan wajah bingung.

“Adikku besok ulang tahun, aku ingin mencari kado untuknya. Mungkin macam dress gitu, berhubung aku ini gak tahu mode. Aku ingin memintamu menemaniku sekalian memilih kado yang cocok untuk adikku, sesama perempuan biasa punya selera yang sama.” ujar Fernando sambil cengar-cengir.

Bagus juga taktiknya.

Erin merespon dengan ekspresi bimbang, ia ingin menolak tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ia berharap seseorang menyelamatkannya, dan itu aku.

“Aku lagi nemenin Andra, masa aku ninggalin gitu aja. Ini pembahasannya belum selesai. Iya kan, Andra?” Erin menatapku penuh harap agar aku merebutnya dari tangan Fernando.

Aku gelagapan, entah harus menjawab apa aku. Mungkin saatnya aku harus jujur, aku tidak mau merantai Erin untuk terus mengikuti ketidakpastianku. Ia berhak mendapatkan yang lebih baik.

“Gak apa-apa, kok. Aku bisa nerusin sendirian, kamu nemenin Fernando aja.” Jawabku seraya tersenyum agak pahit.

Erin terkejut dengan ucapanku yang sungguh diluar perkiraan, aku ini bodoh atau buta hingga melepaskan perempuan paling diincar di kelas. Aku bukannya naif, aku hanya mencoba untuk realistis. Lihat saja diriku ini, seorang mahasiswa yang masuk ke dalam golongan miskin di fakultas kedokteran. Lalu, lihat Erin, seorang mahasiswi yang sempurna dan berasal dari keluarga kaya. Yang lebih parah lagi, lihat Fernando, seorang mahasiswa putra seorang lawyer milyuner yang lebih dapat mengimbangi Erin. Akan kacau jika Erin yang anak orang kaya harus berpacaran dengan aku yang sehari-hari menumpang bus kota untuk pergi ke kampus.

Selarik kesedihan tergambar di wajah Erin, ia kecewa atas ucapanku.

“Oke, deh.” Ujar Erin singkat.

Ia beranjak dan meninggalkanku bersama Fernando, tidak sama sekali melihatku.

Maafkan aku Erin, aku bukanlah seseorang yang menilai apa-apa dari harta. Aku berhak mendapatkanmu sama seperti orang lain terlepas dari selisih uang yang kita punya, tetapi lebih dalam dari itu aku tidak menemukan apa-apa di dalam dirimu. Kau adalah perempuan baik dan sangat cantik, namun kau bukanlah orang yang kucari. Kau bukan pelepas dahaga hidupku. Aku yakin kau pasti bahagia di pelukan si tubuh besar berhati lembut bernama Fernando.

Setelah kejadian siang itu aku sengaja mulai menjauhi Erin, aku tidak lagi membalas chatting-nya, bahkan ketika ia sedang online aku buru-buru menonaktifkan akun yahoo messanger. Ketika berada di kampus pun aku melakukan hal yang sama, aku menghindarinya di kelas, kantin, dan taman kampus. Aku lebih banyak menghabiskan waktu luangku bersama teman-teman lelaki, lama kelamaan ia pun sadar bahwa aku menjauhinya. Erin menyerah dan pergi dari hidupku , ia tidak lagi menyapaku ataupun chatting denganku.

Mungkin memang lebih baik seperti itu, jelajahilah hidupmu Erin. Kencani setiap lelaki tampan nan kaya raya, jika menemukan yang sungguh dapat mengisi hatimu maka katakanlah iya ketika mereka melamarmu. Lahirkan anak perempuan yang sama cantiknya denganmu atau anak laki-laki yang sama tampannya dengan suamimu.

Biarkanlah aku melanjutkan pencarianku atas penutup lubang besar di jiwaku sepeninggal Mamak, doakanlah aku segera menemukan apa yang aku cari karena hidup bersama lubang ini melelahkan. Aku sedang berjalan di gurun pasir yang panas hingga membakar kulit kakiku demi sebuah oase teduh penuh rerimbunan pohon dengan kolam berisi air segar, ketahuilah bahwa aku adalah umat Musa yang sedang berkelana mencari tanah perjanjian.

Kau akan tetap menjadi salah satu orang yang pernah begitu dekat denganku, Erin.

Jasad; Erin

3

“Bangun, kau. Pulang sana.” Aku mendengar suara Bapak, seketika itu tubuhku bergerak-gerak. Aku membuka mata, Bapak membungkuk di dekatku. Kancing kemeja yang ia kenakan sudah terbuka beberapa, dasi merahnya masih melingkar di leher.

“Jangan kau ganggu Mamak, dia butuh istirahat cukup.” Imbuh Bapak sambil berjalan ke kamar mandi.

Aku agak kesal, malam itu aku ingin sekali tidur sama Mamak. Perasaanku mengatakan bahwa waktuku bersama Mamak tidak akan lama lagi, aku harus memanfaatkannya atau menyesal. Kutatap wajah Mamak sebelum pergi, napasnya berat, pelan bagai hitungan satu, dua, tiga yang diucapkan lambat-lambat. Kudekatkan bibirku ke telinganya, “Andra sayang Mamak.”

Lalu kukecup dahinya yang hangat. Aku tergesa-gesa pulang, air mataku sudah tidak bisa kutahan. Aku tidak ingin Mamak terbangun karena tangisku, saat ini bukan tangisku yang ia butuhkan.

Semenjak Mamak sakit rumahku mulai ramai oleh saudara jauh dan sekat yang berdatangan untuk memberikan penghiburan, aku hanya bisa diam dan manggut-manggut ketika nenekku dan saudara-saudara ibuku datang dari kampung. Aku tidak mengerti bahasa mereka, sedari kecil aku memang tidak diajarkan bahasa Sumatra Utara dan orang tuaku pun jarang memakainya saat ngomong di rumah. Jika ada acara khusus yang dihadiri oleh perkumpulan barulah mereka berbicara bahasa itu, seperti yang bisa kau tebak, aku hanya menjadi boneka mereka. Aku mereka pamerkan ke mana-mana tanpa bisa memberikan reaksi lain kecuali anggukan dan senyuman yang semakin lama semakin hilang maknanya. Senyumku berubah menjadi keharusan saja.

Baru ketika ada kerabat yang mengajakku berbicara dalam bahasa Indonesia aku benar-benar berkomunikasi dua arah bersama mereka, lagi pula apa yang mereka katakan sama saja. Rata-rata nasihat untuk tegar dan mengajariku bahwa semua ini adalah cobaan dari Tuhan, pergumulan Mamak dengan penyakitnya adalah bentuk dari kasih Yesus. Apakah Tuhan gak punya cara lebih bagus untuk mengasihi Mamak? Pengabdian Mamak apakah sepadan dengan kanker yang perlahan-lahan membunuhnya? Sejujurnya aku tidak mengerti cara kerja Tuhan, aku hanya bisa menerka-nerka seperti umatnya yang lain.

Di antara semua yang hadir menjenguk Mamak, ada Frans di sana, ia salah satu anak adik Mamak yang tampak berbeda dari yang lain. Pertama ia tidak menunjukan wajah iba sama sekali, ia tampak santai duduk di sofa. Ia mengambil kue kering di dalam topeles dan memakannya, kadang ia tersenyum aneh melihat rombongan kerabat kami yang sedang berdoa. Aku sengaja duduk di dekatnya tanpa menyapanya, aku yakin dia akan menyapaku terlebih dahulu.

“Mamak lo bakalan mati,” Frans berujar kepadaku, remahan kue kering masih menyelimuti lidahnya.

“Auranya udah gak enak, dan menurut logika gue itu yang bakal terjadi, jangan tersingung.” Lanjutnya.

Sesaat aku merasa tersinggung, berani benar cecunguk ini bicara seperti itu. Namun, aku tidak bisa marah terhadapnya, ia mengatakan yang sesungguhnya. Aku pun tahu hal itu, hanya saja sedikit menyakitkan mendengarnya dari mulut orang lain.

Melihat ekspresiku yang tidak mengenakkan, ia mengangkat tangan.

“Maaf, gue gak bermaksud kurang aja di acara penghiburan. Gue cuma jujur di dalam kemunafikan ini, lo pasti paham.”

Ya, aku memang mengerti tapi itu bukan alasan untukmu mengatakannya di hadapanku.

“Mamak lo, ia dulu sering datang ke rumah gue dan bawain mainan buat gue. Malahan gue udah mengidolakan Mamak lo dari dulu, ke orangtua sendiri aja gue gak gitu-gitu amat.”

Frans termenung, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Hal buruk selalu menimpa orang baik. Mamak lo mengidap kanker, sedangkan emak gue masih sehat wal afiat. Padahal lebih cocok dia yang mati, udah sok tau demen marah-marah lagi.”

Aku sudah mengenal Frans semenjak kecil, hampir setiap bulan orang tuanya selalu mengajaknya ke rumahku. Aku pun sering bertandang ke rumahnya, orang tuanya sangat kaya. Bila dibanding dengan orang tuaku, orang tuaku lebih mirip kelas menengah dari pada orang yang punya. Rumahnya di Pondok Indah, rumahku di Jatibening. Ayahnya punya empat mobil mewah sedangkan orang tuaku hanya memiliki dua jika kijang tua yang selalu ibuku pakai ke pasar masuk hitungan. Padahal mobil itu sudah tidak cocok disebut mobil karena kondisinya yang tua renta.

Aku tidak terlalu tahu kehidupannya seperti apa, yang aku tahu orang tuanya bercerai ketika ia berumur sepuluh tahun. Ibunya memenangkan hak asuh dan ayahnya harus membayar uang bulanan sesuai yang disepakati pengadilan, tidak lama setelah itu ayah dan ibunya menikah lagi. Frans tidak pernah lagi datang ke rumahku, ini adalah pertemuan kami yang pertama kali semenjak umur kami masih sama-sama bocah bau kencur. Aku hanya mendengar bahwa ia masuk SMU favorit di Jakarta.

“Gue juga gak mengerti. Kalau saja gue bisa melakukan sesuatu buat ngilangin penyakit Mamak, gue gak akan berpikir dua kali.” Aku melihat Frans dari ekor mataku.

“Aneh emang, kita udah lama gak ketemu dan akhirnya ketemu lagi di keadaan yang sangat tidak mengenakkan.” Ia menaruh potongan kue kering yang tidak habis ke atas meja lalu menepuk-nepuk tangannya.

“Ke mana aja lo?” tanyaku.

Ia mengangkat alis dan bahu secara bersamaan.

“Gue sibuk menghindari emak gue dan suami barunya,” ia menatapku, “oh, iya. Dan anak baru mereka.” tawanya meledak seperti semua ini adalah lelucon.

Aku kagum dengan cara Frans menyikapi hidupnya.

“Denger ya, Mamak lo itu perempuan yang baik dan ini gak pantas terjadi ke dia tapi terjadi. Gue harap lo mulai melatih diri dari sekarang untuk lepasin dia, orang baik selalu dipanggil terlebih dahulu karena Tuhan menyayanginya. Itu kata orang, gue juga gak terlalu percaya.” Ia menepuk pundakku.

“Gak ada gunanya berdoa untuk kesembuhan, toh kenyataannya Mamak lo sakit parah. Harapan hidupnya kecil. Gue gak punya waktu untuk muksizat yang gak bakalan kejadian, lebih baik lo kuatin Mamak lo, pandu dia di waktu-waktu terakhirnya. Ia akan menempuh perjalanan panjang yang abadi, ucapkan selamat tinggal dan bilang betapa lo mencintai dia.”

Frans berhenti dan berpaling kepadaku.

“Yang tabah, ya.”

Frans mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, ia mengambil sebuah pulpen di atas meja dan menuliskan nomor di sana lalu menyelipkan ke dalam genggamanku.

“Kalo lo butuh teman untuk sekedar mabuk-mabuk.” Ia tersenyum singkat.

“Kalo emak gue nyari bilang lo gak pernah liat atau ketemu gue, kesankan gue sebagai sesosok alien yang gak pernah ada.” Ia berdiri dan keluar dari pintu depan, suara tawanya berputar-putar di kepalaku, aku tersenyum geli. Frans adalah satu-satunya orang yang berhasil menghiburku dengan cara pikirnya yang realistis dan praktis.

4

Apa yang dikatakan Frans benar, dua minggu setelah hari itu keadaan Mamak memburuk. Ia harus mendapatkan penanganan lebih intensif setelah sel kankernya menyerang balik setelah tetek Mamak diangkat, kini sel-sel jahanam itu mulai menyebar ke organ dari jantung lalu ke paru-paru. Seminggu setelah operasi payudara dilakukan Mamak koma, Mamak tidak membuka lagi matanya setelah itu. Ia tidur seperti pulas seperti bayi dalam rahim, untuk bernapas Mamak harus dibantu selang. Paru-parunya tidak lagi mampu bekerja normal.

Aku terpaksa tidak masuk sekolah untuk menjaga Mamak, setiap malam kuajak Mamak berbincang-bincang. Kuceritakan cerita-cerita lucu agar ia tertawa, aku yakin Mamak mendengarkanku. Pada suatu malam tepat satu minggu Mamak koma, air matanya keluar ketika mendengar salah satu ceritaku. Kuseka air matanya dengan handuk kecil, ini reaksi pertama yang Mamak berikan. Aku sedikit lega.

Satu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya adalah peristiwa malam itu ternyata merupakan salam perpisahan untukku, keesokan paginya Mamak kembali ke tangan Tuhan di hadapanku dan Bapak. Kami mematung menyaksikan kepergian Mamak, kedua tangan Bapak gemetaran dan air mata membasahi wajahnya. Aku melihatnya seperti seseorang yang kehilangan arah pulang, sekarang entah ke mana ia harus pulang. Selain tangis kerabat yang menggerung, tidak sekalipun isakkan Bapak terdengar. Bapak hancur dalam kesunyian.

Pemakaman Mamak dilaksanakan dua hari kemudian setelah seluruh keluarga kumpul, aku tidak pernah meninggalkan jasad Mamak. Aku menyaksikan bagaimana petugas dari rumah sakit mengawetkan jasad Mamak menggunakan lima liter formalin yang disuntikan melalui arteri yang berada di pahanya. Hatiku nyeri ketika melihat paha Mamak harus disayat, tetapi walaupun begitu aku tetap menyaksikannya. Ada sesuatu yang membuatku tertarik melihat bagaimana petugas tanpa ragu sedikit pun membuka lapisan kulit Mamak yang sudah kurus, tidak ada rasa mual yang kurasakan.

Kuperhatikan lekat-lekat jenazah Mamak, ia tampak lebih cantik dari pada ketika ia hidup. Aku tidak pernah melihat wajah Mamak berseri seperti ini, Mamak bebas sekarang. Seketika mata Mamak terbuka, ia menatapku. Bibir melengkungkan senyum manis, aku membalas senyumnya.

Mamak semakin cantik ketika sudah mati.

Frans hadir di acara penghiburan Mamak, ia mengenakan setelan jas rapih sebagai penghormatan tertinggi untuk Mamak. Ia hanya menatapku dari kejauhan tanpa menghampiriku, ia menghilang begitu saja seperti alien yang dalam sedetik berpindah galaksi.

Air mataku sudah mengering dan aku sudah mulai bisa tersenyum kepada kerabat yang hadir untuk mengucapkan duka cita mereka atas wafatnya Mamak. Namun, tanpa mereka sadari ada sesuatu di dalam diriku yang ikut mati bersama Mamak dan tak akan pernah hidup lagi. Ini adalah awal pencarianku akan bagian yang kepalang mati bersama Mamak, bagian ini seperti dahaga yang harus segera dipenuhi demi menggenapkan diriku lagi. Aku tidak tahu secara pasti apa yang kucari, hari itu aku hanya tahu bahwa apa yang kucari pasti ada di luar sana. Aku harus menemukannya.

5

Seperti yang kujanjikan kepada Mamak, aku masuk sekolah kedokteran setelah lulus SMU. Aku bekerja keras untuk itu, aku menjadi lebih anti sosial dari biasanya. Tidak ada senang-senang, tidak ada nongkrong-nongkrong tidak jelas, waktuku seluruhnya kudedikasikan untuk belajar demi masuk ke fakultas kedokteran dan aku pun lulus. Tahun 2005 aku resmi menjadi mahasiswa kedokteran, aku tahu biaya yang aku butuhkan tidak sedikit tapi Bapak berjanji akan membayarnya hingga aku lulus.

Hidup setelah kepergian Mamak lebih berat dari biasanya, aku dan Bapak semakin jauh. Rumah pun tampak kian semakin sepi. Aku dan Bapak mulai tidak menganggap keberadaan masing-masing, aku selalu sibuk dengan kuliahku dan ia sibuk dengan bisnisnya. Seakan-akan tugas Bapak hanya memberiku uang dan membayar kuliah, sisanya kami lakukan sendiri. Kami adalah dua pria yang tidak pernah sejalan, selalu bertolak belakang, Mamak yang biasanya menyatukan kami sudah tiada. Sekarang hanya tinggal dua orang asing yang selalu salah tingkah jika berhadapan satu sama lain.

Rumahku jadi rumah hantu; lampu di dalam rumahku hampir selalu dalam keadaan mati. Hanya teman-temanku yang sering menginap di akhir pekan mampu mengubahnya menjadi rumah yang ditinggali manusia bukan hantu-hantu muram. Keberadaan mereka kerap menganggu Bapak ketika ia pulang ke rumah, tetapi ia tidak pernah menegurku.

Aku tumbuh menjadi orang yang tidak terlalu luwes dalam pergaulan, aku dapat berbicara lancar hanya ketika berhadapan dengan teman lelaki, sedangkan ketika berhadapan dengan lawan jenis mendadak mulutku terkunci. Tergagap-gagap aku mengimbangi cara bicara mereka yang cenderung lincah, aku seperti anak gemuk yang adu lari dengan pelari profesional. Makhluk aneh bernama perempuan ini memang luar biasa membingungkan, mereka selalu punya cara untuk mengintimidasi karakterku. Cara bicara, nada suara, dan gestur tubuh mereka penuh teka-teki. Aku panik setiap kali mereka terang-terangan menggodaku setiap kali aku berada di kelas, semakin mereka menyukaiku mereka akan semakin gencar mengincarku.

Tahun awalku di fakultas kedokteran menjadikanku ninja yang selalu menghilang di balik kepulan asap putih ketika sedang tersudut, tetapi harus aku akui bahwa tidak seluruh mahasiswi di kelasku seperti itu. Ada juga yang bersikap ramah kepadaku.

Erina salah satunya.

Ia adalah perempuan pertama yang dapat membuatku nyaman bila berada di dekatnya, sesungguhnya ia adalah perempuan yang cantik jika aku boleh jujur. Aku tidak mengerti mengapa ia mau berteman denganku, wajahku memang agak lumayan. Namun, bila dibanding dengan temanku yang lain aku ini bukan apa-apa. Aku begitu sederhana untuk ukuran mahasiswa kedokteran yang didominasi anak konglomerat, baju yang kukenakan lebih banyak baju lawas ketimbang baju baru. Aku naik bus setiap hari, tidak ada mobil mewah yang setia seperti teman-temanku yang lain. Aku tidak berani mempertanyakan apa yang sudah Bapak berikan, apa lagi merongrongnya. Aku tahu ia sudah keluar uang banyak untuk membiayai kuliahku.

Aku dan Erin sering mengobrol melalui dunia maya, setiap kali yahoo messanger-ku aktif ia selalu menyapaku dan dilanjutkan dengan chatting sampai berjam-jam. Walaupun terlahir dari keluarga orang kaya, Erin tidak pernah memamerkan hartanya. Tidak ada topik yang berhubungan dengan fasilitas mewah, kami lebih sering membahas hobi, selera musik, dan sedikit tentang studi kami.

Notifikasi yahoo messanger berkedip-kedip di layar komputer yang kubiarkan menyala saat aku sedang mandi, aku duduk di meja komputerku dan menggerakan tetikus untuk membuka jendela chat yang baru saja masuk. Itu Erina.

“Hai, baru sampe rumah, ya?” ia menambahkan emoticon tertawa lebar. Kau tahu, emoticon yang terdiri dari tanda titik dua dan huruf “d” kapital.

Aku menarik keyboard komputerku dan membalasnya, “kok tahu aja, sih.”

Aku menggosok rambutku yang masih terasa lepek dengan handuk kecil seraya mengenakan celana pendek. Erina membalas.

“Aku kan paranormal, aku juga tahu pasti kamu lagi duduk bengong sambil main gitar.”

Aku menyeringai mengejek, sayang sekali tebakanmu salah. Kau tidak berbakat jadi paranormal.

“Salah! baru aja mandi, yeee.”

Ia membalas dengan deretan “hahaha” panjang.

Aku meninggalkan komputerku sejenak dan pergi ke dapur untuk membuat mie instan, pembantu tengah hari di rumahku tidak datang karena sakit. Ketika aku kembali ke kamar aku menemukan notifikasi chatting menyala lagi.

“Maaf sebelumnya kalo aku lancang, tapi kata anak-anak ibu kamu sudah meninggal, ya?”

“Iya, pas masih SMU.”

Aku meniup uap mie instanku yang mengepul, kugunakan garpu untuk menarik seutas mie dan kumasukan ke dalam mulutku. Sial, masih panas!

“Aduh Andra, maafin aku, ya. Aku gak maksud bikin kamu sedih loh, sekali lagi maaf aku udah lancang.”

Aku sesungguhnya sudah tidak lagi merasa sedih ketika orang menanyakan Mamak, aku malah iba pada mereka yang harus berkali-kali minta maaf ketika menanyakan itu. Dua tahun ini aku sudah dapat menerima kepergiannya tanpa kesedihan sedikitpun.

“Gak apa-apa kok, udah gak sedih, ini baca chatting sambil makan mie.” Balasku tidak lupa menyelipkan emoticon mengejek.

“Ah, Andra. Aku udah deg-degan aja, takut kamu marah. Eh, malah lagi makan mie. Bagi doooong.”

“Mau? Bikin sendiri!”

Tanpa kusadari senyum tak pernah lepas dari wajahku kala itu.

“Tapi pasti sepi ya di sana?”

“Kadang, sih. Tapi suka ada temen main ke sini, ya gak sepi-sepi juga.”

Mie instan di tanganku sudah hampir habis, perutku memang keroncongan akut.

“Ibu kamu pasti bangga, punya anak pinter kayak kamu. Calon dokter lagi.”

“Ah, bisa aja. Ngomong-ngomong tugas apa yang bisa dibantu?”

Aku hampir bisa menerawang ekspresi Erin ketika membaca chatting-ku, antara sebal dan geregetan.

“Ah, Andra. Aku emang kayak yang lain apa, aku bener-bener memuji loh. Kamu beruntung dapet pujian dari aku, bukannya bersyukur malah ngeledek. Huh.”

Aku tertawa kecil ketika membalasnya, “iya,deh. Makasih, ya nona Erin atas pujiannya.”

Erin benar, aku seharusnya bersyukur mendapat pujian darinya. Ia adalah salah satu mahasiswi paling diincar di kelasku. Rambut lurus panjang yang selalu tertata rapi setiap hari, wajah tirus dengan rahang tegas bak supermodel, tubuh ideal, dan kaki jenjang. Siapa yang tidak tergila-gila. Erin memiliki komposisi ras yang sempurna, bayangkan apa yang terjadi jika Sumatra Utara, Tionghoa, dan Belanda bercampur menjadi satu? Erin adalah jawabannya.

“Kamu harus kuat Andra, ibu kamu sekarang udah tenang sama Tuhan.”

Ya, ya, ya. Kata-kata itu lagi, aku mulai bosan dengan itu. Setiap orang yang tahu bahwa Mamak sudah tiada pasti mengatakan bahwa saat ini pasti ia ada di tempat paling indah.

“Makasih Erin. Gak nyangka kamu itu berhati ibu peri.”

“Ah, Andra. Serius dikit kek.” Balasnya jengkel.

Lalu ia membalas lagi, “hahaha”

Aku suka melihatmu tertawa Erin, andai saja aku sekarang berada di sana dan melihatmu tertawa. Kau boleh saja membicarakan Mamak sepuasmu tanpa membuatku sedih sama sekali.

Jasad; Awal

1

Aku lahir di keluarga yang serba ada, Bapak dan Mamak berdarah Sumatra Utara tulen. Mereka mengadu nasib di Jakarta puluhan tahun silam dan akhirnya dapat bertahan di pusat segala modernitas, aku anak satu-satunya yang dapat mereka hasilkan sepanjang pernikahan mereka. Dokter mengatakan bahwa rahim Mamak kering sehingga ia sulit untuk punya anak lagi, semenjak itu aku menjadi satu-satunya harapan mereka. Bapaku bernama Bertus dan Mamak Melati, sama seperti orang Sumatra Utara lain, mereka sangat memelihara tradisi. Aku dididik untuk selalu patuh dengan semua peraturan yang ada, aku harus ikuti daftar kegiatanku sehari-hari; sekolah, les bahasa inggris, les piano, dan bimbingan belajar. Tidak ada satupun yang boleh terlewat, imbasnya aku jadi jarang keluar rumah untuk bermain. Temanku hanyalah anak-anak kerabat yang kebetulan tinggal di komplek yang sama, mereka sering hadir ketika ada acara arisan atau ibadah. Aku mulai berteman dengan mereka, dan hanya mereka teman yang aku punya.

Aku tumbuh di keluarga yang begitu teratur dan dingin, Mamak adalah figur yang sangat mempengaruhiku. Ia adalah sosok yang dapat menjadi seorang penyayang dan ototriter secara bersamaan, caranya menjaga sikap ketika berhadapan dengan orang lain sungguh luar biasa. Seakan setiap langkahnya sudah ia hitung dan gerakan yang ia buat sudah ia rencanakan dengan matang agar tidak ada yang mubazir, caranya berbicara dapat membuat lawan bicaranya grogi. Mamak memang sangat disegani oleh setiap lawan bicaranya, sama seperti Bapak.

Namun, di mataku ia tidak selalu seperti itu. Di lain kesempatan ia tampak sangat perhatian, ia sering memelukku ketika aku diomeli Bapak karena nilai ujian yang jelek. Ia menjadi satu-satunya lentera yang menerangi hubunganku dengan Bapak. Bapak bukanlah orang yang mudah disukai, sikapnya yang arogan terhadap siapapun termasuk anaknya membuatnya seperti besi panas yang menyakiti siapa saja yang menyentuhnya. Ia adalah sosok yang tegas dan pendiam, caranya berbicara sungguh jujur. Itulah bagian yang mengerikan, kejujurannya seperti duri tajam.

Musik adalah satu-satunya kebahagianku di masa kecil, piano menjadi pintu gerbangku. Aku menyukai puluhan tuts yang bernada itu, setiap kombinasi tuts menghasilkan simfoni yang berbeda. Walaupun begitu, umurku dengan alat musik itu tidak langgeng. Aku mulai jengah ketika alat musik itu mulai sulit untuk dimengerti, partitur sulit menghadangku untuk menikmati setiap nada yang ia hasilkan. Aku mulai membencinya atas peraturan yang tidak membiarkanku bebas untuk mengeksplorasi, aku meninggalkannya.

Aku mulai beralih ke gitar, alat musik petik yang tidak sengaja kutemui di rumah temanku ketika SMP. Awalnya aku hanya memetiknya secara acak untuk mendengar bagaimana alat itu berbunyi, rupanya Yohanes, temanku, melihatnya dan menyadari ketertarikanku. Ia bersedia mengajarkanku bermain gitar, semenjak itu setiap pulang sekolah aku mengisi waktu yang tadinya aku gunakan untuk les piano untuk belajar gitar bersama Yohanes.

Lima bulan aku belajar gitar bersamanya, aku pun membeli gitar pertamaku. Sembilan bulan belajar gitar bersama Yohanes dan memiliki gitar sendiri, aku memutuskan untuk berhenti. Aku takut aku mulai membenci gitar ketika pola sulit dan peraturan yang mengekang menghadang lagi seperti ketika belajar piano.

Aku keluar dari kamar Yohanes dengan ilmu yang cukup, semua kunci sudah kukuasai. Selanjutnya aku akan menikmatinya untuk diriku sendiri, aku begitu percaya diri.

Semenjak SD hingga SMP aku menjadi anak yang berprestasi, tidak pernah lepas dari tiga besar. Untuk itu semua aku harus rela jadi anak yang kurang pergaulan, aku adalah kutu buku berkacamata yang selalu didaulat untuk menjadi guru dadakan ketika ujian sudah dekat. Walaupun begitu ketampananku tidak begitu saja luntur, banyak cewek yang diam-diam menaruh hati kepadaku. Aku tidak menggubris mereka, aku sibuk dengan gitarku. Aku menjadi pribadi yang tidak bisa benar-benar masuk ke dalam pergaulan sehari-hari, aku bergabung sebagai orang luar. Aku memerhatikaan teman-temanku, tertawa bersama mereka, menghabiskan bersama mereka tetapi tidak benar-benar membaur. Aku berdiri di luar lingkaran, aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian mereka, selalu ada jarak antara aku dan orang-orang di sekitarku.

Aku tak pernah bisa melihat seperti apa yang mereka lihat atau merasakan kecerian yang menyala-nyala seperti mereka. aku terlalu redup, tersembunyi di dalam bayang hitam yang tak pernah hilang. Aku ada tapi tak ada, kehadiranku hanya sebatas raga tak bernyawa. Aku lebih nyaman menutup rapat-rapat pintu kamarku, menguncinya dan diam berhari-hari di sana sendirian. Hanya aku, dan pikiranku yang seluas langit dan sedalam lautan tapi tak pernah sekalipun kujamah. Mereka sesuci perawan Maria. Aku belajar memahami diriku sendiri dalam diam.

Aku mulai mempelajari lagu-lagu The Beatles dengan gitarku, sudah lama aku ingin mempelajari lagu dari musisi yang sudah kudengar karyanya semenjak aku masih orok. Bapak penggemar The Beatles.

Sehari-hari kuhabiskan dengan gitar, lagu-lagu The Beatles, dan suara falsku. Aku juga mulai membuka diri kepada lagu-lagu baru yang cocok dengan telingaku, tetapi misi utamaku tetap The Beatles. Aku memiliki daftar lagu sendiri untuk kumainkan dalam keadaan tertentu. Ketika aku sedang sedih, aku memainkan let it be di gitarku hingga aku pulih. Ketika aku sedang senang, kumainkan all you need is love, don’t let me down, ticket to ride, dan sederetan lagu The Beatles yang agak rock and roll.

Ketika aku sedang mempertanyakan hidupku, aku memainkan across the universe, happiness in warm gun, because, dan strawberry fields forever.

Selalu ada lagu yang cocok untuk setiap momen yang aku rasakan, itulah yang membuatku mendewakan The Beatles.

2

Penderitaanku dimulai ketika aku duduk di bangku SMU, tepatnya Agustus 2002. Setelah sekian lama Mamak akhirnya memeriksakan rasa nyeri di dada yang bertahun-tahun ia sembunyikan, rasa nyeri itu sudah berubah jadi benjolah sebesar buah anggur. Sore itu kami berkendara ke rumah sakit untuk memeriksakan benjolan itu, setelah dua jam pemeriksaan secara detil dan menyeluruh. Mamak resmi dinyatakan mengidap kanker payudara, aku masih ingat ekspresi Bapak ketika mendengarnya; tidak ada ekspresi apa-apa di wajahnya, tetapi matanya yang perlahan basah menjelaskan segalanya. Jauh di dalam sana Bapak jatuh dalam tangisnya.

Kanker yang makam derita semakin parah merupakan akibat dari sikap diamnya, mengapa ia bisa bertahan selama itu?

Aku tidak kuasa menahan diriku, aku terpekur dan menangis tersedu-sedu. Aku tahu hitungan mundur sudah mulai berjalan bagi Mamak, kemungkinan kesembuhan 60/40. Dokter berjanji untuk melakukan apapun untuk memerangi kanker yang diidap Mamak, tetapi itu tetap tidak bisa menghilangkan kesedihan di dalam hatiku.

Semenjak itu rumah sakit telah jadi tempat favorit baru kami bertiga, jika tidak Bapak, akulah yang mengantar Mamak. Aku menyaksikan bagaimana Mamak berubah perlahan-lahan karena deru rasa sakit dari berbagai macam obat dan tindakan yang ia jalani ditambah hatinya yang semakin hari semakin hancur, badan Mamak makin kurus, kulitnya mulai kusam dan wajahnya pucat. Rambuntnya rontok sehelai demi sehelai, tetapi ia tetap tegar. Tahun itu adalah tahun-tahun terberat dalam hidupku, tahun di mana sekeras apapun perlawanan ibuku terhadap kanker ia tetap kalah. Kanker itu datang, dan datang lagi seperti tamu yang tidak diinginkan.

Suatu malam, ketika aku menemani Mamak di dalam kamar perawatan. Ia mengusap wajahku dengan tangan kurusnya. Ya Tuhan, tangan Mamak sudah mirip rangka.

“Kamu harus jadi orang sukses, Andra.” Ucap Mamak, bibirnya begetar.

“Iya, Mak. Andra akan jadi orang sukses buat Mamak, tapi Mamak juga harus sembuh buat Andra.”

Mamak tidak menjawab, matanya malah menerawang kemana-mana.

Mamak kembali menatap wajahku, “kamu harus jadi dokter, selamatkan orang-orang seperti Mamak. Kuatkan keluarga mereka.”

Aku sedih tatkala melihat rahang Mamak yang begitu nyata terlihat di balik kulit tipisnya.

“Kamu mau mengabulkan permintaan Mamak?”

“Iya, Mak. Andra akan menuruti permintaan Mamak. Andra akan berusaha sebisa mungkin untuk jadi dokter.”

Mamak tersenyum lepas.

“Kamu tahu, Bapak itu sayang kamu. Dia menangis ketika kamu lahir, kamu adalah cahaya hidupnya.” Suara Mamak sudah tidak setegas dulu. Ibuku yang otoriter sudah pergi.

Aku tidak menjawab, Mamak dapat melihat keraguan di wajahku.

“Bapak memang bukan orang yang mudah menekspresikan rasa cintanya, Dia itu orangnya keras tapi percayalah dia itu sayang sama kamu.” Mamak menggenggam tanganku.

“Apa Mamak bakalan mati?” aku tidak bisa menahan diri untuk menanyakan itu, pertanyaan itu sudah menghantuiku semenjak hari Mamak divonis mengidap kanker.

“Mamak tidak akan mati, nak. Mamak akan selalu hidup untukmu, di sini.” Mamak menunjuk dadaku, “tidak ada seorang ibupun yang meninggalkan anaknya sendirian.”

Bola mataku mulai basah, dadaku sesak, aku tidak tahu harus menatakan apa. Aku memeluk Mamak erat dan menangis di dekapannya, aku tidak tahu apakah ini kesempatanku yang terakhir untuk memnangis di dalam dekapannya.

Malam itu kami berbicara berdua untuk pertama kalinya, aku berbaring di sisi Mamak. Ia memelukku, tangannya melingkar di leherku dan berakhir di kening. Ia menceritakan bagaimana bahagianya ketika ia melahirkanku, ia adalah perempuan paling bahagia saat itu.

“Pas kamu masih kecil, kamu gak bisa diem. Selalu ada hal yang membuatmu tertarik. Mamak harus bekerja ekstra untuk menjagamu dari hewan berbahaya di halaman, dan memastikan kamu gak makan tanah.” Ia tertawa kecil.

“Ketika ulang tahunmu yang ke tujuh, Mamak bikin perayaan kecil-kecilan. Ketika itu ada gadis kecil yang tidak sengaja terantuk kursi, lututnya tergores. Kamu tahu, kamu anak yang paling khawatir. Mamak ingat bagaimana kamu lari sekencang-kecangnya dan berteriak meminta bantuan. Ketika Mamak membalut lukanya kau memperhatikan baik-baik, sesekali kau bertanya apakah lukanya bakal sembuh.”

“Mamak bisa melihat jiwa seorang penolong sejati di sana, kamu suka membantu orang.”

Cara Mamak bercerita membuatku tenang, ia seperti sedang menceritakan kisah dongeng alih-alih masa kecilku.

Di akhir setiap ucapannya aku bisa merasakan semangatnya untuk menjadikanku orang sukses, kata-kata itu lebih mirip mantra bagiku. Aku sendiri tidak tahu arti kata itu, jadilah aku seorang yang dihantui oleh hal yang abstrak.

Kami bercerita ke sana kemari hingga kau tertidur dalam pelukannya, aku merasa begitu damai hingga sempat berpikir bahwa aku mati dalam dekapan Mamak.

Jasad; Pembukaan

Awal maret 2014

Banyak orang mengatakan ‘menulislah ketika ada sesuatu yang ingin kau ceritakan’, aku setuju dengan apa yang mereka katakan. Meski aku bukanlah seorang penulis yang mahir, aku hanya punya sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada siapa saja yang membaca manuskrip ini. Di saat yang sama aku hanya berusaha jujur kepada diriku sendiri tentang apa yang aku rasakan, selama ini aku lelah berkubang di dalam kebohongan. Aku babi gemuk yang jenuh dengan lumpurnya sendiri walau itu sungguh membuatku nyaman, aku ingin dikenal sebagai diriku sendiri. Aku memang berbeda, itu kenyataan. Sekeras apapun aku mengikuti manusia normal, aku malah semakin tersiksa. Jadi, di sinilah aku. Menulis bak penulis masyur. Mungkin setiap deretan kata yang aku bangun tidak megah tapi ini adalah jujur, kau akan mengenalku apa adanya. Tolong jangan membenciku, apa yang aku alami hanya debu kosmik bumi. Tak ada untungnya bagi semesta atau kalian yang ada di dalamnya. Namun, orang-orang sepertiku memang nyata adanya, walau kerap dicap sebagai manusia tak bermoral. Tak bermaksud untuk sembunyi, tetapi lebih ingin membuka diri.

Namun, aku bahagia. Inilah yang aku cari dalam perjalananku, berbaring di kasur sempit hotel melati di antah berantah bersama Michelle. Ia adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal, rendah hati, tidak neko-neko, dan yang pasti tulus menyayangiku. Aku punya luka di dalam dadaku, banyak, tetapi ia tidak peduli. Michelle merangkulku setiap kali ketakutanku datang lagi, dalam diamnya aku menemukan rumah penuh cinta yang telah lama hilang. Surga dengan anggur dan susu yang tak pernah habis.

Waktuku tidak banyak, sesegera mungkin mereka bisa datang, aku harus menulis cepat jika ingin kisahku ini dapat terselesaikan. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun yang membaca ini, aku yakin kau telah menerima kisahku tanpa penghakiman yang menyakitkan, mereka yang berhati bersih semenjak membuka halaman pertama. Ini janjiku, aku tidak akan mengecewakan, siapa pun kau.

Aku sekarang berada di tempat terakhirku, jika kalian bertanya-tanya. Kamar hotel kelas kacangan –hotel yang biasa dipakai supir truk menghabiskan malam bersama lonte di kawasan melarat- bersama Michelle. Kalian akan mengenal Michelle, aku tidak perlu memberitahu sekarang.

Udara di kamar ini sangat pengap, asap rokok mengepul di mana-mana, bola mataku perih akibat nikotin yang pekat. Aku perokok berat yang payah, sama asap rokok sendiri pun keok. Maafkan aku, Michelle. Aku tahu kau tidak suka aku merokok, mau bagaimana lagi? Hanya rokoklah yang dapat menenangkanku saat ini.

“Selesaikan kisahmu, aku akan selalu bersamamu sayang.” Michelle berbisik di telingaku dengan suara lembutnya setengah merayu.

Aku melepaskan pelukanku lalu bangkit menyingkirkan pakaianku yang berserakan di mana-mana, kamar ini mirip kapal pecah. Aku duduk di meja kecil dengan cermin penuh ukiran asal-asalan, jenis cermin ini sering aku lihat dibawa oleh tukang perabotan keliling di komplek ketika aku masih kecil. Aku melihat pantulan diriku sendiri di dalam cermin, seorang pria berumur dua puluh delapan tahun dengan rambut hitam berminyak dan janggut menyedihkan yang mulai tumbuh. Aku mirip sekali gelandangan yang biasa tidur di kolong jembatan, dan itu mengecewakan diriku sendiri. Dulu aku adalah pria yang tampan, seorang keturunan terbaik dari pohon keturunan Sumatra Utara yang memiliki rahang tak terlalu kotak dan berkulit putih. Kacamata yang kukenakan menambah kesan pintar di wajah yang sudah menjadi modal dasarku, aku dilahirkan dengan nama Diandra. Namaku memang tidak seperti nama orang Sumatra Utara lain yang khas dengan nama bule, ayahku memang bukan orang yang terlalu suka nama yang kebarat-baratan. Ia suka nama pribumi yang ringkas, jadilah namaku yang kayak begitu. Aku sepenuhnya setuju dengan ide ayahku, tidak pernah terbayangkan jika namaku meniru orang asing yang selalu berlebihan di telingaku. Bisa-bisa tahi kupingku bertambah tebal setiap kali orang memanggil nama lengkapku, aku lebih suka orang memanggilku Andra.

Aku jadi malas untuk menulis karena sudah keburu tenggelam dalam keputusasaan kepada penampilanku yang tidak setampan biasanya, namun ketika aku melirik ke belakang, Michelle duduk di atas tempat tidur kami yang usang.

“Tidak apa-apa, menulislah. Kamu tetap pria paling seksi menurutku.” Ia mengedipkan matanya genit.

Semangatku terbakar bagai api tersulut bensin, kubuka buku catatanku dan mulai menulis. Aku menulis dengan tanganku sendiri, aku meninggalkan laptopku di rumah. Aku meninggalkannya bukan karena aku lupa, tetapi karena kau memang tidak membutuhkannya. Diluar hujan deras, aku bisa mendengar suara guyuran airnya. Aku melamun sejenak dan mulai menggerakan penaku di atas kertas putih yang masih suci, sesuci hidupku sebelum ini. Sayangnya aku tidak bahagia hidup di dalamnya, aku memutuskan untuk keluar.

Dan aku memulai kisahku ini.