Jasad; Selamat Tinggal Erin

6

Baru tidur satu setengah jam aku sudah kembali terjaga, belakang kepalaku sakit dan tenggorokanku kering. Aku bangkit sempoyongan dari tempat tidur seperti orang mabuk, kulirik komputerku masih menyala dengan sleep mode. Tertatih kuhampiri komputerku untuk meraih tetikus yang diam bagai prajurit yang mati di medan perang, kubuat satu gerakan ke atas layar komputer menyala. Masih ada jendela yahoo messenger dan liveconnectors yang terbuka, Erin sudah sign out rupanya. Aku memang sering lupa mematikan komputer setelah memakainya, segera kututup jendela-jendela chatting hampa itu dan mematikan komputer. Aku berdiri selama dua menit untuk memastikan komputer benar-benar mati, setelah itu aku melangkah keluar sambil memegangi kepalaku yang nyut-nyutan.

Seingatku ada setangkap roti bekas tadi pagi di atas meja, lumayan untuk mengganjal perut sebelum meminum obat sakit kepala. Kaki-kaki telanjangku perlahan menjejaki lantai yang dingin, seluruh lampu rumah sudah mati kecuali lampu teras dan dapur. Ketika sampai di meja makan aku mengintip ke kamar Bapak, lampunya padam. Dia belum pulang larut lagi.

Rumah ini terasa begitu besar sekarang, mirip rumah hantu di pasar malam yang dulu gencar digelar dari kampung ke kampung. Besar, lega, tanpa penghuni. Pintu kulkas dua pintu ukuran besar yang nyempil di sudut dapur terasa begitu berat karena terlalu banyak muatannya, tidak ada yang rajin membersihkan kulkas ini. Bapak memang hobi membeli ini itu tanpa ia sentuh sekalipun, di sisi kulkas bertumpuk empat krat bir. Bir ini adalah tabungan Bapak kalo nanti ada acara keluarga.

Sebuah botol air mineral yang masih disegel menjadi satu-satunya benda yang aku ambil dari tumpukan sampah itu, dari kulkas besar aku bergeser ke kulkas kecil yang berada di depan sebelah kiri kulkas besar. Di atas kulkas kecil terdapat sebuah keranjang bekas parcel yang digunakan untuk menyimpan obat-obatan, beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa keluargaku sampai mempunyai dua kulkas. Alasannya sepele, Bapak tidak suka makanan langsung makan disatukan dengan daging mentah. Jadilah keluarga kami mempunyai dua buah kulkas, terima kasih Bapak atas higenitasmu yang tinggi.

Aku terhuyung-huyung ke meja makan dengan sebotol air mineral dan satu strip obat sakit kepala, aku menghempaskan bokongku ke kursi makan. Ah, nikmatnya. Setelah termenung selama beberapa detik segera kubuka tudung saji berwarna merah yang sudah ada semenjak aku lahir, voila, setangkap roti berselai srikaya menunggu dalam ketidakpastian. Apakah ia akan dimakan atau dibiarkan sampai berjamur. Saat ini nasibmu beruntung wahai roti dingin nan keras, aku membutuhkanmu untuk alas labung sebelum racikan kimia ini masuk ke dalamnya.

Susah payah aku mengunyah roti dengan rahang yang sepertinya sudah lelah, rasanya masih enak tapi kerasnya ampun-ampunan.

Butuh perjuangan besar untuk mengunyah dan menelan roti malang itu, tetapi dorongan air dingin adalah cahaya ilahi. Akhirnya air bah mampu merontokkan bendungan yang menyumpal saluran pencernaanku. Sebutir obat sakit kepala menjadi penutup camilan malamku, aku meninggalkan dapur setelah itu. Air mineral sisa dan obat sakit kepala yang masih tersisa tiga butir kubawa bersamaku, jika nanti aku membutuhkannya lagi.

Kututup pintu kamar pelan-pelan lalu berjalan menuju tempat tidur, air mineral dan obat sakit kepala harus rela tinggal di meja komputer. Alih-alih kembali tidur aku malah duduk di bibir tempat tidur sembari melamunkan hal yang tidak-tidak, banyak pikiran mengerumuni kepalaku seperti lalat di tempat sampah. Aku bahkan tidak bisa mengidentifikasi mereka satu-satu, mereka hanya datang dan pergi di kepalaku yang mirip bejana kosong.

Suara deru mesin mobil mengembalikan kesadaranku, bukan mobil Bapak tapi berhenti tepat di depan rumahku. Apakah ada tamu yang datang selarut ini?

Aku bangkit setengah berlari menuju jendela, sebuah mobil bercat putih berhenti tepat di pintu pagar rumahku. Bapak turun dari kursi penumpang bagian depan, sejak kapan Bapak punya mobil berwarna putih. Lagi pula mobil Bapak kan sedang berada di bengkel dan baru besok bisa diambil.

Aku mengamati Bapak seperti buser mengamati targetnya, wajahku sengaja aku samarkan dibalik tirai putih. Bapak berputar ke kursi pengemudi, ia berdiri di sana cukup lama. Sedang bercakap-cakap sempertinya, beberapa kali ia mengangkat tangannya dan tersenyum. Sangat akrab.

Siapakah orang yang sedang bercakap-cakap dengan Bapak? Dari tempatku memata-matai aku tidak dapat melihat sosok dibalik kemudi mobil putih itu, tubuh Bapak yang agak tambun semakin memperkecil sudut pandangku. Tidak lama kemudian Bapak masuk dan mobil itu pergi.

Siapapun orang itu, dia pasti mempunyai hubungan akrab dengan Bapak. Padahal sangat sedikit orang yang bisa akrab dengan Bapak, soalnya Bapak termasuk orang yang pelit senyum dan terkesan galak, hanya dua orang yang dapat membuat Bapak tersenyum lepas. Pertama nenekku, kedua Mamak.

Sekarang daftar itu bertambah satu, orang asing pemilik mobil putih itu.

7

Hubunganku dengan Erin semakin akrab, kami tidak lagi malu mempertontonkan kebersamaan kami sebagai teman. Banyak cemoohan yang singgah kepadaku, aku dinilai sebagai pengeran rakyat jelata dan Erin seorang putri dari kerajaan nun jauh di sana. Aku tidak peduli, Erin adalah pribadi yang baik dan santun. Tidak pernah memandang orang dari kasta, dan yang terpenting aku nyaman bersamanya.

“Kita jalan, yuk.” Ujar Erin pada suatu siang di kantin kampus.

“Jalan kemana?” tanyaku pura-pura polos.

“Kemana kek, ke Taman Anggrek kek, atau ke Sency kek.” Sahut Erin. Kutenggelamkan perhatianku pada buku Sobotta Anatomi satu di hadapanku.

“Ih, Andra mah gitu. Aku dicuekin.” Protesenya dengan bibir manyun.

“Iya, kenapa sih Erin.” Aku akhirnya menutup buku dan menatap wajahnya yang selalu membuatku grogi.

“Kita jalan, aku bosen di nongkrong di kampus terus.”

Aku mendorong tubuhku sedikit ke belakang.

“Gak suka jalan-jalan ke mall.” Jawabku agar ketus.

“Kenapa?”

“Rame, gak suka yang rame-rame.” Imbuhku singkat.

Ia diam, tampaknya sedang berpikir.

Sesungguhnya alasanku itu hanya bohong semata, aku tidak pernah punya kebencian terhadap mall dan tempat-tempat perbelanjaan lain. Aku hanya takut uang jajanku hari itu yang hanya cukup untuk satu kali naik bisa disambung ojek tidak mencukupi biaya selama kami di sana, barang kali untuk parkirpun tidak cukup.

“Ya udah kalo gak suka mall, tempat selain mall juga gak apa-apa asal kita pergi dari sini. Sumpah, bosen aku di sini.” Akhirnya ia luluh.

“Oke, bagaimana jika ke taman mini?”

Erin mengerutkan dahi, ia menyangka aku sedang bercanda. Raut wajahku yang konstan tanpa perubahan ke arah guyon menegaskan kepadanya bahwa aku serius.

“Ya, bolehlah.”

Aku membereskan buku-buku dan jurnalku yang berserakan di atas meja dan meninggalkan kantin bersama Erin.

“Naik mobil aku atau kamu?” ujarnya ketika kami sedang berjalan bersama.

Aku mendadak batuk ringan.

“Mobil kamu aja.” Suaraku hampir tidak terdengar.

“Oke.”

Erin menggiringku ke mobilnya, Honda Jazz keluaran terbaru berwarna merah. Dari kampus ia memacu mobilnya melalui Cililitan.

Sesampainya di Taman Mini, kami mengunjungi banyak tempat. Mulai dari museum air tawar, museum ilmu pengetahuan, hingga rumah-rumah adat. Kami menjadi pengungjung tertua siang itu selain guru taman kanak-kanak yang memandu puluhan murid mereka. Aku sedikit merasa bersalah kepada Erin, ia tidak layak mendapatkan kencan murahan seperti ini. Mungkin sekarang ia sedang tersiksa tapi pura-pura baik-baik saja.

Namun, ketika aku menatap langsung ke matanya ia tampak sangat senang, terutama ketika kami berpapasan dengan murid taman kanak-kanak ketika melihat ikan-ikan besar asal Amazon. Tanpa segan Erin malah ikut menjelaskan ikan-ikan itu kepada kerumunan anak-anak.

Lelah mengelilingi Taman Mini, aku dan Erin duduk di sebuah kedai deret di persimpangan jalan utama. Aku memesan sebuah jus sirsak sedangkan Erin memesan makanan.

“Kamu gak makan?” tanyanya.

“Gak ah, tadi di kampus udah makan. Masih kenyang.” Tepisku. Padahal aku tak makam lantaran dompetku tidak mengizinkan untuk memesan macam-macam.

“Ya udah, jangan ilfeel yang liat aku makan. Aku laper banget, jadi makannya kayak kuli.” Ujar Erin dengan senyum tipis malu-malu.

Aku berusaha memakluminya, lagi pula aku bukan orang yang berpikir aneh jika seorang gadis cantik makan banyak. Seorang perempuan dewasa setidaknya butuh 2000 kalori perhari, jika sedang bekerja lebih mungkin lebih banyak. Makanlah senyaman mungkin, Erin.

Aku tercengang ketika pesanan Erin datang, yang ia maksud makan ala kuli adalah seporsi kecil spaghetti. Ya ampun, Mamak saja makan lebih banyak dari itu ketika ia masih berjuang melawan kankernya.

“Kenapa ngeliatin? Mau?” Erin menyodorkan sepaghetti-nya. Aku menggeleng sopan.

“Cuma heran, ternyata yang kamu maksud makan porsi kuli tuh segini. Mungkin buat bokap gue ini hanya sekali jilat doang.” Ungkapku jujur.

Erin tertawa terpingkal-pingkal, aku dapat melihat sesuatu yang bersinar-sinar di dalam matanya. Sebuah kebahagiaan yang murni.

Aku dan Erin menghabiskan waktu satu jam di kedai itu sebelum kami memutuskan untuk pulang, Erin memaksa untuk meneraktirku hari itu dan aku tidak berkutik. Di dalam hati aku bersyukur. Belum puas sampai di situ, Erin kembali berulah. Ia memaksa untuk mengantarkanku pulang sampai rumah, mau taruh di mana kejantananku ini? Masa aku harus rela di antarkan oleh perempuan di kencan pertama ini.

Namun, sekali lagi dengan berat hari aku harus rela meluluskan keinginan Erin. Ia menurunkanku di depan pagar.

“Gak usah mampir, lagi pula gak ada orang di rumah.” Tukasku ketika melihat gelagat Erin yang tidak enak jika tidak mampir.

“Oh, gitu. Aku langsung pulang, ketemu besok di kampus ya.” Erin melambaikan tangan dan tersenyum, tidak lama kemudian ia menginjak pedal gas.

Aku berdiri di depan pagar rumahku, melambaikan tangan sedikit kemudian diam mematung melihat mobil Erin yang menghilang di jalanan komplek yang sepi.

Hari ini sisa ongkos kuliahku utuh. Untuk pertama kalinya seorang mahasiwa kedokteran yang pas-pasan macam diriku punya sisa ongkos kuliah, prestasi ini harus kucatat di buku biografiku nanti.

8

Kencan pertama yang bisa dibilang berhasil membuat Erin semakin berani mengekspresikan kedekatan kami di muka publik, kasak-kusuk tentang hubungan kami menyebar ke mana-mana. Beberapa teman sekelas pun mulai mendesak untuk segera menyatakan cinta kepadanya, tapi aku bagai mesin yang mogok. Tak terbersit sedikitpun niat untuk menyatakan cinta kepadanya. Jangan salah paham dulu, aku bukannya sok kecakepan dan dengan sombong mengeliminasi Erin yang begitu sempurna dari tipe perempuan incaranku. Aku hanya tidak yakin apakah ia yang aku cari selama ini, sejauh ini dia memang orang yang paling dekat denganku. Namun, tidak ada tanda-tanda kekosongan dalam diriku terisi dengan kehadirannya.

Satu-satu alasan mengapa aku tetap berhubungan dengan Erin adalah karena aku suka melihat senyumnya, setiap kali senyum itu terbit aku merasa sedikit beban ini lepas begitu saja seperti sepasang merpati yang terbang bebas.

Aku dan Erin menghabiskan waktu bersama di sela-sela perkuliahan (walaupun ruang gerak kami hanya kampus dan sekitarnya karena ongkosku yang pas-pasan), kami menikmati kehadrian satu sama lain. Hubunganku dan Erin mulai renggang ketika sosok Fernando masuk, dia anak seorang lawyer kawakan di Jakarta, perawakan tubuhnya tegap dengan perangai Sumatra Utara tulen yang gagah perkasa. Tidak perlu ditanya lagi seberapa kaya orang tua Fernando, melihat mobilnya yang lebih cocok digunakan untuk masuk hutan rimba ketimbang menggilas jalanan kampus saja membuat siapa saja ciut. Mobil besar berharga miliran rupiah itu baru gertakan awal.

Rupanya Fernando sudah menyukai Erin semenjak lama, di balik tubuhnya yang kekar bak petinju tersimpan pribadi yang keringat dingin jika berada di dekat perempuan yang ia suka. Sama sepertiku, menang badan besar aja. Dua bulan belakangan si tubuh besar berhati lembut ini memantau hubunganku dan Erin, hatinya terbakar cemburu melihat pujaan hatinya lebih dekat dengan seorang mahasiswa kurus yang lebih mirip loper koran. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk merebut Erin dariku secara terang-terangan.

Ia mulai sering muncul di kantin atau taman kampus saat kami sedang berduaan lalu mengajak Erin pergi, ajakan itu sering ditolak tapi beberapa kali diterima. Mungkin Erin pun sudah mulai bosan mengikuti gaya hidup iritku, jiwa sosialita di dalam diri Erin sudah mulai menjerit-jerit. Aku tahu pikiranku memang picik, belum tentu Erin seperti apa yang aku pikirkan. Sesungguhnya aku pun tidak percaya ia seperti itu, tetapi aku lebih memilih untuk mengikuti pransangka burukku saja.

Kekalahanku terjadi di suatu hari Jumat yang panas, ketika itu aku dan Erin sedang berada di taman membaca beberapa buku pengantar. Fernando datang dari arah gedung kampus.

“Rupanya di sini kau.” Pekik Fernando sambil mengelap keringatnya.

Aku dan Erin menoleh bersamaan.

“Emang ada apaan sampe nyari-nyari gitu?” Erin berkata dengan wajah bingung.

“Adikku besok ulang tahun, aku ingin mencari kado untuknya. Mungkin macam dress gitu, berhubung aku ini gak tahu mode. Aku ingin memintamu menemaniku sekalian memilih kado yang cocok untuk adikku, sesama perempuan biasa punya selera yang sama.” ujar Fernando sambil cengar-cengir.

Bagus juga taktiknya.

Erin merespon dengan ekspresi bimbang, ia ingin menolak tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ia berharap seseorang menyelamatkannya, dan itu aku.

“Aku lagi nemenin Andra, masa aku ninggalin gitu aja. Ini pembahasannya belum selesai. Iya kan, Andra?” Erin menatapku penuh harap agar aku merebutnya dari tangan Fernando.

Aku gelagapan, entah harus menjawab apa aku. Mungkin saatnya aku harus jujur, aku tidak mau merantai Erin untuk terus mengikuti ketidakpastianku. Ia berhak mendapatkan yang lebih baik.

“Gak apa-apa, kok. Aku bisa nerusin sendirian, kamu nemenin Fernando aja.” Jawabku seraya tersenyum agak pahit.

Erin terkejut dengan ucapanku yang sungguh diluar perkiraan, aku ini bodoh atau buta hingga melepaskan perempuan paling diincar di kelas. Aku bukannya naif, aku hanya mencoba untuk realistis. Lihat saja diriku ini, seorang mahasiswa yang masuk ke dalam golongan miskin di fakultas kedokteran. Lalu, lihat Erin, seorang mahasiswi yang sempurna dan berasal dari keluarga kaya. Yang lebih parah lagi, lihat Fernando, seorang mahasiswa putra seorang lawyer milyuner yang lebih dapat mengimbangi Erin. Akan kacau jika Erin yang anak orang kaya harus berpacaran dengan aku yang sehari-hari menumpang bus kota untuk pergi ke kampus.

Selarik kesedihan tergambar di wajah Erin, ia kecewa atas ucapanku.

“Oke, deh.” Ujar Erin singkat.

Ia beranjak dan meninggalkanku bersama Fernando, tidak sama sekali melihatku.

Maafkan aku Erin, aku bukanlah seseorang yang menilai apa-apa dari harta. Aku berhak mendapatkanmu sama seperti orang lain terlepas dari selisih uang yang kita punya, tetapi lebih dalam dari itu aku tidak menemukan apa-apa di dalam dirimu. Kau adalah perempuan baik dan sangat cantik, namun kau bukanlah orang yang kucari. Kau bukan pelepas dahaga hidupku. Aku yakin kau pasti bahagia di pelukan si tubuh besar berhati lembut bernama Fernando.

Setelah kejadian siang itu aku sengaja mulai menjauhi Erin, aku tidak lagi membalas chatting-nya, bahkan ketika ia sedang online aku buru-buru menonaktifkan akun yahoo messanger. Ketika berada di kampus pun aku melakukan hal yang sama, aku menghindarinya di kelas, kantin, dan taman kampus. Aku lebih banyak menghabiskan waktu luangku bersama teman-teman lelaki, lama kelamaan ia pun sadar bahwa aku menjauhinya. Erin menyerah dan pergi dari hidupku , ia tidak lagi menyapaku ataupun chatting denganku.

Mungkin memang lebih baik seperti itu, jelajahilah hidupmu Erin. Kencani setiap lelaki tampan nan kaya raya, jika menemukan yang sungguh dapat mengisi hatimu maka katakanlah iya ketika mereka melamarmu. Lahirkan anak perempuan yang sama cantiknya denganmu atau anak laki-laki yang sama tampannya dengan suamimu.

Biarkanlah aku melanjutkan pencarianku atas penutup lubang besar di jiwaku sepeninggal Mamak, doakanlah aku segera menemukan apa yang aku cari karena hidup bersama lubang ini melelahkan. Aku sedang berjalan di gurun pasir yang panas hingga membakar kulit kakiku demi sebuah oase teduh penuh rerimbunan pohon dengan kolam berisi air segar, ketahuilah bahwa aku adalah umat Musa yang sedang berkelana mencari tanah perjanjian.

Kau akan tetap menjadi salah satu orang yang pernah begitu dekat denganku, Erin.

Jasad; Erin

3

“Bangun, kau. Pulang sana.” Aku mendengar suara Bapak, seketika itu tubuhku bergerak-gerak. Aku membuka mata, Bapak membungkuk di dekatku. Kancing kemeja yang ia kenakan sudah terbuka beberapa, dasi merahnya masih melingkar di leher.

“Jangan kau ganggu Mamak, dia butuh istirahat cukup.” Imbuh Bapak sambil berjalan ke kamar mandi.

Aku agak kesal, malam itu aku ingin sekali tidur sama Mamak. Perasaanku mengatakan bahwa waktuku bersama Mamak tidak akan lama lagi, aku harus memanfaatkannya atau menyesal. Kutatap wajah Mamak sebelum pergi, napasnya berat, pelan bagai hitungan satu, dua, tiga yang diucapkan lambat-lambat. Kudekatkan bibirku ke telinganya, “Andra sayang Mamak.”

Lalu kukecup dahinya yang hangat. Aku tergesa-gesa pulang, air mataku sudah tidak bisa kutahan. Aku tidak ingin Mamak terbangun karena tangisku, saat ini bukan tangisku yang ia butuhkan.

Semenjak Mamak sakit rumahku mulai ramai oleh saudara jauh dan sekat yang berdatangan untuk memberikan penghiburan, aku hanya bisa diam dan manggut-manggut ketika nenekku dan saudara-saudara ibuku datang dari kampung. Aku tidak mengerti bahasa mereka, sedari kecil aku memang tidak diajarkan bahasa Sumatra Utara dan orang tuaku pun jarang memakainya saat ngomong di rumah. Jika ada acara khusus yang dihadiri oleh perkumpulan barulah mereka berbicara bahasa itu, seperti yang bisa kau tebak, aku hanya menjadi boneka mereka. Aku mereka pamerkan ke mana-mana tanpa bisa memberikan reaksi lain kecuali anggukan dan senyuman yang semakin lama semakin hilang maknanya. Senyumku berubah menjadi keharusan saja.

Baru ketika ada kerabat yang mengajakku berbicara dalam bahasa Indonesia aku benar-benar berkomunikasi dua arah bersama mereka, lagi pula apa yang mereka katakan sama saja. Rata-rata nasihat untuk tegar dan mengajariku bahwa semua ini adalah cobaan dari Tuhan, pergumulan Mamak dengan penyakitnya adalah bentuk dari kasih Yesus. Apakah Tuhan gak punya cara lebih bagus untuk mengasihi Mamak? Pengabdian Mamak apakah sepadan dengan kanker yang perlahan-lahan membunuhnya? Sejujurnya aku tidak mengerti cara kerja Tuhan, aku hanya bisa menerka-nerka seperti umatnya yang lain.

Di antara semua yang hadir menjenguk Mamak, ada Frans di sana, ia salah satu anak adik Mamak yang tampak berbeda dari yang lain. Pertama ia tidak menunjukan wajah iba sama sekali, ia tampak santai duduk di sofa. Ia mengambil kue kering di dalam topeles dan memakannya, kadang ia tersenyum aneh melihat rombongan kerabat kami yang sedang berdoa. Aku sengaja duduk di dekatnya tanpa menyapanya, aku yakin dia akan menyapaku terlebih dahulu.

“Mamak lo bakalan mati,” Frans berujar kepadaku, remahan kue kering masih menyelimuti lidahnya.

“Auranya udah gak enak, dan menurut logika gue itu yang bakal terjadi, jangan tersingung.” Lanjutnya.

Sesaat aku merasa tersinggung, berani benar cecunguk ini bicara seperti itu. Namun, aku tidak bisa marah terhadapnya, ia mengatakan yang sesungguhnya. Aku pun tahu hal itu, hanya saja sedikit menyakitkan mendengarnya dari mulut orang lain.

Melihat ekspresiku yang tidak mengenakkan, ia mengangkat tangan.

“Maaf, gue gak bermaksud kurang aja di acara penghiburan. Gue cuma jujur di dalam kemunafikan ini, lo pasti paham.”

Ya, aku memang mengerti tapi itu bukan alasan untukmu mengatakannya di hadapanku.

“Mamak lo, ia dulu sering datang ke rumah gue dan bawain mainan buat gue. Malahan gue udah mengidolakan Mamak lo dari dulu, ke orangtua sendiri aja gue gak gitu-gitu amat.”

Frans termenung, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Hal buruk selalu menimpa orang baik. Mamak lo mengidap kanker, sedangkan emak gue masih sehat wal afiat. Padahal lebih cocok dia yang mati, udah sok tau demen marah-marah lagi.”

Aku sudah mengenal Frans semenjak kecil, hampir setiap bulan orang tuanya selalu mengajaknya ke rumahku. Aku pun sering bertandang ke rumahnya, orang tuanya sangat kaya. Bila dibanding dengan orang tuaku, orang tuaku lebih mirip kelas menengah dari pada orang yang punya. Rumahnya di Pondok Indah, rumahku di Jatibening. Ayahnya punya empat mobil mewah sedangkan orang tuaku hanya memiliki dua jika kijang tua yang selalu ibuku pakai ke pasar masuk hitungan. Padahal mobil itu sudah tidak cocok disebut mobil karena kondisinya yang tua renta.

Aku tidak terlalu tahu kehidupannya seperti apa, yang aku tahu orang tuanya bercerai ketika ia berumur sepuluh tahun. Ibunya memenangkan hak asuh dan ayahnya harus membayar uang bulanan sesuai yang disepakati pengadilan, tidak lama setelah itu ayah dan ibunya menikah lagi. Frans tidak pernah lagi datang ke rumahku, ini adalah pertemuan kami yang pertama kali semenjak umur kami masih sama-sama bocah bau kencur. Aku hanya mendengar bahwa ia masuk SMU favorit di Jakarta.

“Gue juga gak mengerti. Kalau saja gue bisa melakukan sesuatu buat ngilangin penyakit Mamak, gue gak akan berpikir dua kali.” Aku melihat Frans dari ekor mataku.

“Aneh emang, kita udah lama gak ketemu dan akhirnya ketemu lagi di keadaan yang sangat tidak mengenakkan.” Ia menaruh potongan kue kering yang tidak habis ke atas meja lalu menepuk-nepuk tangannya.

“Ke mana aja lo?” tanyaku.

Ia mengangkat alis dan bahu secara bersamaan.

“Gue sibuk menghindari emak gue dan suami barunya,” ia menatapku, “oh, iya. Dan anak baru mereka.” tawanya meledak seperti semua ini adalah lelucon.

Aku kagum dengan cara Frans menyikapi hidupnya.

“Denger ya, Mamak lo itu perempuan yang baik dan ini gak pantas terjadi ke dia tapi terjadi. Gue harap lo mulai melatih diri dari sekarang untuk lepasin dia, orang baik selalu dipanggil terlebih dahulu karena Tuhan menyayanginya. Itu kata orang, gue juga gak terlalu percaya.” Ia menepuk pundakku.

“Gak ada gunanya berdoa untuk kesembuhan, toh kenyataannya Mamak lo sakit parah. Harapan hidupnya kecil. Gue gak punya waktu untuk muksizat yang gak bakalan kejadian, lebih baik lo kuatin Mamak lo, pandu dia di waktu-waktu terakhirnya. Ia akan menempuh perjalanan panjang yang abadi, ucapkan selamat tinggal dan bilang betapa lo mencintai dia.”

Frans berhenti dan berpaling kepadaku.

“Yang tabah, ya.”

Frans mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, ia mengambil sebuah pulpen di atas meja dan menuliskan nomor di sana lalu menyelipkan ke dalam genggamanku.

“Kalo lo butuh teman untuk sekedar mabuk-mabuk.” Ia tersenyum singkat.

“Kalo emak gue nyari bilang lo gak pernah liat atau ketemu gue, kesankan gue sebagai sesosok alien yang gak pernah ada.” Ia berdiri dan keluar dari pintu depan, suara tawanya berputar-putar di kepalaku, aku tersenyum geli. Frans adalah satu-satunya orang yang berhasil menghiburku dengan cara pikirnya yang realistis dan praktis.

4

Apa yang dikatakan Frans benar, dua minggu setelah hari itu keadaan Mamak memburuk. Ia harus mendapatkan penanganan lebih intensif setelah sel kankernya menyerang balik setelah tetek Mamak diangkat, kini sel-sel jahanam itu mulai menyebar ke organ dari jantung lalu ke paru-paru. Seminggu setelah operasi payudara dilakukan Mamak koma, Mamak tidak membuka lagi matanya setelah itu. Ia tidur seperti pulas seperti bayi dalam rahim, untuk bernapas Mamak harus dibantu selang. Paru-parunya tidak lagi mampu bekerja normal.

Aku terpaksa tidak masuk sekolah untuk menjaga Mamak, setiap malam kuajak Mamak berbincang-bincang. Kuceritakan cerita-cerita lucu agar ia tertawa, aku yakin Mamak mendengarkanku. Pada suatu malam tepat satu minggu Mamak koma, air matanya keluar ketika mendengar salah satu ceritaku. Kuseka air matanya dengan handuk kecil, ini reaksi pertama yang Mamak berikan. Aku sedikit lega.

Satu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya adalah peristiwa malam itu ternyata merupakan salam perpisahan untukku, keesokan paginya Mamak kembali ke tangan Tuhan di hadapanku dan Bapak. Kami mematung menyaksikan kepergian Mamak, kedua tangan Bapak gemetaran dan air mata membasahi wajahnya. Aku melihatnya seperti seseorang yang kehilangan arah pulang, sekarang entah ke mana ia harus pulang. Selain tangis kerabat yang menggerung, tidak sekalipun isakkan Bapak terdengar. Bapak hancur dalam kesunyian.

Pemakaman Mamak dilaksanakan dua hari kemudian setelah seluruh keluarga kumpul, aku tidak pernah meninggalkan jasad Mamak. Aku menyaksikan bagaimana petugas dari rumah sakit mengawetkan jasad Mamak menggunakan lima liter formalin yang disuntikan melalui arteri yang berada di pahanya. Hatiku nyeri ketika melihat paha Mamak harus disayat, tetapi walaupun begitu aku tetap menyaksikannya. Ada sesuatu yang membuatku tertarik melihat bagaimana petugas tanpa ragu sedikit pun membuka lapisan kulit Mamak yang sudah kurus, tidak ada rasa mual yang kurasakan.

Kuperhatikan lekat-lekat jenazah Mamak, ia tampak lebih cantik dari pada ketika ia hidup. Aku tidak pernah melihat wajah Mamak berseri seperti ini, Mamak bebas sekarang. Seketika mata Mamak terbuka, ia menatapku. Bibir melengkungkan senyum manis, aku membalas senyumnya.

Mamak semakin cantik ketika sudah mati.

Frans hadir di acara penghiburan Mamak, ia mengenakan setelan jas rapih sebagai penghormatan tertinggi untuk Mamak. Ia hanya menatapku dari kejauhan tanpa menghampiriku, ia menghilang begitu saja seperti alien yang dalam sedetik berpindah galaksi.

Air mataku sudah mengering dan aku sudah mulai bisa tersenyum kepada kerabat yang hadir untuk mengucapkan duka cita mereka atas wafatnya Mamak. Namun, tanpa mereka sadari ada sesuatu di dalam diriku yang ikut mati bersama Mamak dan tak akan pernah hidup lagi. Ini adalah awal pencarianku akan bagian yang kepalang mati bersama Mamak, bagian ini seperti dahaga yang harus segera dipenuhi demi menggenapkan diriku lagi. Aku tidak tahu secara pasti apa yang kucari, hari itu aku hanya tahu bahwa apa yang kucari pasti ada di luar sana. Aku harus menemukannya.

5

Seperti yang kujanjikan kepada Mamak, aku masuk sekolah kedokteran setelah lulus SMU. Aku bekerja keras untuk itu, aku menjadi lebih anti sosial dari biasanya. Tidak ada senang-senang, tidak ada nongkrong-nongkrong tidak jelas, waktuku seluruhnya kudedikasikan untuk belajar demi masuk ke fakultas kedokteran dan aku pun lulus. Tahun 2005 aku resmi menjadi mahasiswa kedokteran, aku tahu biaya yang aku butuhkan tidak sedikit tapi Bapak berjanji akan membayarnya hingga aku lulus.

Hidup setelah kepergian Mamak lebih berat dari biasanya, aku dan Bapak semakin jauh. Rumah pun tampak kian semakin sepi. Aku dan Bapak mulai tidak menganggap keberadaan masing-masing, aku selalu sibuk dengan kuliahku dan ia sibuk dengan bisnisnya. Seakan-akan tugas Bapak hanya memberiku uang dan membayar kuliah, sisanya kami lakukan sendiri. Kami adalah dua pria yang tidak pernah sejalan, selalu bertolak belakang, Mamak yang biasanya menyatukan kami sudah tiada. Sekarang hanya tinggal dua orang asing yang selalu salah tingkah jika berhadapan satu sama lain.

Rumahku jadi rumah hantu; lampu di dalam rumahku hampir selalu dalam keadaan mati. Hanya teman-temanku yang sering menginap di akhir pekan mampu mengubahnya menjadi rumah yang ditinggali manusia bukan hantu-hantu muram. Keberadaan mereka kerap menganggu Bapak ketika ia pulang ke rumah, tetapi ia tidak pernah menegurku.

Aku tumbuh menjadi orang yang tidak terlalu luwes dalam pergaulan, aku dapat berbicara lancar hanya ketika berhadapan dengan teman lelaki, sedangkan ketika berhadapan dengan lawan jenis mendadak mulutku terkunci. Tergagap-gagap aku mengimbangi cara bicara mereka yang cenderung lincah, aku seperti anak gemuk yang adu lari dengan pelari profesional. Makhluk aneh bernama perempuan ini memang luar biasa membingungkan, mereka selalu punya cara untuk mengintimidasi karakterku. Cara bicara, nada suara, dan gestur tubuh mereka penuh teka-teki. Aku panik setiap kali mereka terang-terangan menggodaku setiap kali aku berada di kelas, semakin mereka menyukaiku mereka akan semakin gencar mengincarku.

Tahun awalku di fakultas kedokteran menjadikanku ninja yang selalu menghilang di balik kepulan asap putih ketika sedang tersudut, tetapi harus aku akui bahwa tidak seluruh mahasiswi di kelasku seperti itu. Ada juga yang bersikap ramah kepadaku.

Erina salah satunya.

Ia adalah perempuan pertama yang dapat membuatku nyaman bila berada di dekatnya, sesungguhnya ia adalah perempuan yang cantik jika aku boleh jujur. Aku tidak mengerti mengapa ia mau berteman denganku, wajahku memang agak lumayan. Namun, bila dibanding dengan temanku yang lain aku ini bukan apa-apa. Aku begitu sederhana untuk ukuran mahasiswa kedokteran yang didominasi anak konglomerat, baju yang kukenakan lebih banyak baju lawas ketimbang baju baru. Aku naik bus setiap hari, tidak ada mobil mewah yang setia seperti teman-temanku yang lain. Aku tidak berani mempertanyakan apa yang sudah Bapak berikan, apa lagi merongrongnya. Aku tahu ia sudah keluar uang banyak untuk membiayai kuliahku.

Aku dan Erin sering mengobrol melalui dunia maya, setiap kali yahoo messanger-ku aktif ia selalu menyapaku dan dilanjutkan dengan chatting sampai berjam-jam. Walaupun terlahir dari keluarga orang kaya, Erin tidak pernah memamerkan hartanya. Tidak ada topik yang berhubungan dengan fasilitas mewah, kami lebih sering membahas hobi, selera musik, dan sedikit tentang studi kami.

Notifikasi yahoo messanger berkedip-kedip di layar komputer yang kubiarkan menyala saat aku sedang mandi, aku duduk di meja komputerku dan menggerakan tetikus untuk membuka jendela chat yang baru saja masuk. Itu Erina.

“Hai, baru sampe rumah, ya?” ia menambahkan emoticon tertawa lebar. Kau tahu, emoticon yang terdiri dari tanda titik dua dan huruf “d” kapital.

Aku menarik keyboard komputerku dan membalasnya, “kok tahu aja, sih.”

Aku menggosok rambutku yang masih terasa lepek dengan handuk kecil seraya mengenakan celana pendek. Erina membalas.

“Aku kan paranormal, aku juga tahu pasti kamu lagi duduk bengong sambil main gitar.”

Aku menyeringai mengejek, sayang sekali tebakanmu salah. Kau tidak berbakat jadi paranormal.

“Salah! baru aja mandi, yeee.”

Ia membalas dengan deretan “hahaha” panjang.

Aku meninggalkan komputerku sejenak dan pergi ke dapur untuk membuat mie instan, pembantu tengah hari di rumahku tidak datang karena sakit. Ketika aku kembali ke kamar aku menemukan notifikasi chatting menyala lagi.

“Maaf sebelumnya kalo aku lancang, tapi kata anak-anak ibu kamu sudah meninggal, ya?”

“Iya, pas masih SMU.”

Aku meniup uap mie instanku yang mengepul, kugunakan garpu untuk menarik seutas mie dan kumasukan ke dalam mulutku. Sial, masih panas!

“Aduh Andra, maafin aku, ya. Aku gak maksud bikin kamu sedih loh, sekali lagi maaf aku udah lancang.”

Aku sesungguhnya sudah tidak lagi merasa sedih ketika orang menanyakan Mamak, aku malah iba pada mereka yang harus berkali-kali minta maaf ketika menanyakan itu. Dua tahun ini aku sudah dapat menerima kepergiannya tanpa kesedihan sedikitpun.

“Gak apa-apa kok, udah gak sedih, ini baca chatting sambil makan mie.” Balasku tidak lupa menyelipkan emoticon mengejek.

“Ah, Andra. Aku udah deg-degan aja, takut kamu marah. Eh, malah lagi makan mie. Bagi doooong.”

“Mau? Bikin sendiri!”

Tanpa kusadari senyum tak pernah lepas dari wajahku kala itu.

“Tapi pasti sepi ya di sana?”

“Kadang, sih. Tapi suka ada temen main ke sini, ya gak sepi-sepi juga.”

Mie instan di tanganku sudah hampir habis, perutku memang keroncongan akut.

“Ibu kamu pasti bangga, punya anak pinter kayak kamu. Calon dokter lagi.”

“Ah, bisa aja. Ngomong-ngomong tugas apa yang bisa dibantu?”

Aku hampir bisa menerawang ekspresi Erin ketika membaca chatting-ku, antara sebal dan geregetan.

“Ah, Andra. Aku emang kayak yang lain apa, aku bener-bener memuji loh. Kamu beruntung dapet pujian dari aku, bukannya bersyukur malah ngeledek. Huh.”

Aku tertawa kecil ketika membalasnya, “iya,deh. Makasih, ya nona Erin atas pujiannya.”

Erin benar, aku seharusnya bersyukur mendapat pujian darinya. Ia adalah salah satu mahasiswi paling diincar di kelasku. Rambut lurus panjang yang selalu tertata rapi setiap hari, wajah tirus dengan rahang tegas bak supermodel, tubuh ideal, dan kaki jenjang. Siapa yang tidak tergila-gila. Erin memiliki komposisi ras yang sempurna, bayangkan apa yang terjadi jika Sumatra Utara, Tionghoa, dan Belanda bercampur menjadi satu? Erin adalah jawabannya.

“Kamu harus kuat Andra, ibu kamu sekarang udah tenang sama Tuhan.”

Ya, ya, ya. Kata-kata itu lagi, aku mulai bosan dengan itu. Setiap orang yang tahu bahwa Mamak sudah tiada pasti mengatakan bahwa saat ini pasti ia ada di tempat paling indah.

“Makasih Erin. Gak nyangka kamu itu berhati ibu peri.”

“Ah, Andra. Serius dikit kek.” Balasnya jengkel.

Lalu ia membalas lagi, “hahaha”

Aku suka melihatmu tertawa Erin, andai saja aku sekarang berada di sana dan melihatmu tertawa. Kau boleh saja membicarakan Mamak sepuasmu tanpa membuatku sedih sama sekali.