Jasad; Bercumbu Dengan Kematian

Semester baru dimulai, sebagian teman-temanku salut akan statusku sebagai asisten dosen di matakuliah anatomi dua. Kendati begitu, ada juga yang menilai usahaku ini adalah tindakan bodoh dan cari mati. Aku tidak peduli, si pria gagah adalah satu-satunya tujuanku melakukan ini.

Sebagai asisten dosen aku bertugas meenyiapkan ruang anatomi ketika akan sebelum digunakan, untuk ini aku tidak bekerja sendiri. Aku bekerja bersama pak Tomo, seorang tenaga ahli yang sudah bekerja di kampusku selama dua puluh tahun. Ia adalah pria paruh baya yang ramah, ia pernah bercerita kepadaku bahwa ia berharap salah satu anaknya akan berkuliah di sini tapi semuanya pupus. Anak pertamanya adalah seorang guru, dan anak keduanya adalah seorang pegawai bank. Sebagai gantinya akulah yang ia anggap anak.

“Saya tidak pernah melihat pemuda yang begitu besemangat kayak kamu.” Pujinya pada sebuah kesempatan.

Di hari pertamaku bekerja untuk dokter Andre, aku terkesiap karena si pria gagah bukan lagi jadi obyek pembelajaran kami. Pak Tomo mengatakan bahwa cadaver yang dipakai berbeda pada setiap semesternya, seorang perempuan menggantikan si pria gagah. sesalku sirna ketika melihat sosok perempuan pengganti si pria gagah, perempuan itu benar-benar cantik. Persendianku dibuatnya lemas ketika mengangkat tubuhnya dari bak berisi formalin ke meja praktik, untung saja tangan pak Tomo sigap mengantisipasinya.

“Gak apa-apa, saya juga dulu sempat mual kok.” Ia memaklumi.

Aku hanya bisa tertawa pahit, aku tidak mual sama sekali. Aku justru terpesona.

Helai-helai rambut panjangnya masih menempel di kepalanya, postur tubuhnya terasa pas, tidak gemuk tapi tidak kurus. Hidungnya mancung sedangkan tulang pipinya menonjol tegas, dan bibir atasnya yang tipis begitu kontras dengan bibir bawahnya yang tebal. Sepertinya ia tampak begitu tenang ketika mati. Tanpa kusadari libidoku naik, segera kututupi sebelum pak Tomo menyadarinya.

Di kelas anatomi dua yang kuikuti aku memfokuskan diri kepada materi yang disampaikan dokter Andre agar aku tidak ketinggalan, dan kecurigaan Erin semakin pupus. Baru ketika praktik selesai dan waktunya aku menunggui ruang anatomi sampai jam praktik selanjutnya dimulai, aku berani mendekatinya. Aku menamainya Anjani karena parasnya yang kental dengan ciri khas perempuan Jawa nan ayu. Dari awal aku melihat si pria gagah hingga Anjani, aku sama sekali tidak terganggu dengan rupa mereka yang menurut teman-temanku menyeramkan. Kulit hitam mereka seakan menjadi sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang akan kau temui di dalam mimpi buruk. Belum lagi bagian dada hingga perut yang terbuka lebar, mempertontonkan organ-organ dalam yang masih utuh, lembek, membuat beberapa mahasiswa yang belum memiliki pertahanan yang kuat muntah-muntah. Aku tidak mengerti mengapa si pria gagah dan Anjani tampak seperti benda yang menjijikkan, padahal mereka juga manusia. Sama seperti aku dan semua orang yang menjadikannya sumber belajar, reaksi kimia dari formalin pun tidak mengubah apa-apa. Mereka tetap tampak sempurna.

Aku justru jijik melihat kelakuan mereka yang diam-diam mempermainkan alat vital si pria gagah, mengabadikannya dengan kamera ponsel untuk jadi bahan lelucon atau menjadikan wajah si pria gagah sebagai foto utama akun media sosial. apakah mereka tidak menyadari bahwa mereka lebih buruk dari makhluk hidup manapun.

Aku menikmati setiap waktu luangku bersama Anjani, berjam-jam aku menatap wajahnya tanpa pernah bosan. Kurapikan helaian rambutnya dan kusentuh wajahnya yang dingin, ada semacam keintiman yang terjalin di antara kami berdua. Hubungan yang erat mulai terjalin dari kebersamaan kami yang diisi oleh hening panjang, jika manusia terkoneksi antara satu dan yang lainnya lewat komunikasi verbal dan bahasa tubuh, aku dan Anjani terkoneksi lewat udara berbau fomalin dan tatapanku yang tak berujung. aku mungkin terlalu bertele-tele, jawaban sesungguhnya adalah kematian yang mengikat kami. Tubuh matinya melengkapi jiwaku yang telah mati.

Hari berganti hari, aku mulai memberanikan diri melakukan kontak fisik dengan Anjani. Tanganku yang terbalut oleh sarung tangan karet mulai menjajahi tubuhnya, mulai dari wajah kemudian ke payudara, dan berakhir di pangkal pahanya. Jari telunjukku menggelitik permukaan alat kelaminnya yang sudah mengeras, aku menggelinjang. Bulu romaku meremang bersamaan dengan libido yang tahu-tahu naik tinggi, tak tertahankan. Perasaanku berkecamuk di dalam dada, tali yang menjalin kami mulai menarikku kuat untuk melampiaskan cinta yang sudah kepalang bergebu-gebu di dalam dada. Tanganku gemetaran, dan persendianku menegang. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih, yang ada di dalam pikiranku hanya sosok Anjani yang terbujur kaku di meja praktik tanpa sehelaipun busana dan keinginanku yang tak terbendung untuk memeluknya.

Kulirik jam dinding di dalam ruangan, praktik selanjutnya dimulai setengah jam lagi dan pak Tomo baru akan datang lima belas menit lagi. Aku masih punya waktu lima belas menit untuk menuntaskan hasratku terhadap Anjani, ini pilihan yang berat. Akhirnya aku menyerah.

Aku bangkit ke pintu untuk memantau kondisi di luar ruangan, aman, lorong tampak sepi. Aku berlari kecil ke meja peralatan untuk mengambil sarung tangan karet, setelah itu kuraih gunting stainless yang tergeletak di sana. Kupotong bagian jari tengah pada sarung tangan karet lalu membawanya ke meja praktik.

Aku membelai wajah Anjani dengan lembut, kukatakan bahwa dirinyalah yang kucari selama ini. Ia mampu mengisi kekosongan di dalam diriku.

Gerakan tanganku begitu gesit ketika membuka celana kain yang kukenakan berserta celana dalam abu-abuku, dengan tangan gemetar kupasang potongan sarung tangan karet yang mirip kondom ke kepala penis hingga menutup setengah batang penis. Terlalu pendek memang tapi cukup untuk melindungi penisku dari cairan formalin yang dapat membakar alat kelaminku.

Aku memanjat meja praktik seperti maling yang sedang menyatroni rumah korbannya, dan tubuhku mulai menindih Anjani. Sekilas dapat kulihat ekspresi wajahnya ketika tubuhku menindihnya, ia tampak begitu menikmati. Bola matanya liar menatapku, gigi kecilnya mulai mengigit bibir bawahnya. Suara erangan halusnya mengiringi napasku yang tersengal-sengal, aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Seakan nadiku kembali berdenyut normal, aku merasa kembali hidup.

Kejadian itu berlangsung singkat tapi indah. Tergesa-gesa aku membersihkan Anjani dengan disinfektan dan menyingkirkan barang bukti agar tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara aku dan Anjani. Tidak lupa aku merapikan celana dan kemeja yang kukenakan lagu duduk di kursi penjaga seakan tidak terjadi apa-apa.

Pak Tomo masuk ke dalam ruangan dua menit kemudian, ia membawakanku teh hangat.

“Diminum dulu, kamu pasti cape nunggu di sini. Setidaknya teh hangat bisa melemaskan otot-otot yang tegang.” Pak Tomo menyerahkan secangkir teh, aku menerimanya.

Kutenggak teh itu hingga tandas, tenggorokanku kering bukan main. Untung saja teh itu tidak terlalu panas, jika ia lidahku pasti sudah terbakar. Pak Tomo memerhatikanku, ia tertawa singkat. “Minumnya pelan-pelan saja, kayak abis ngerjain orang aja.” Pak Tomo berkelakar.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan gerakan mata ke arah Anjani.

“Aku percaya kau tidak akan membocorkan rahasia kita kepada siapapun,” ucapku dalam hati, “lagipula kau sudah mati, dan orang mati tidak bisa bicara, sayang.”

Anjani mengguratkan sebuah senyuman samar-samar, bola matanya bergerak ke arahku ketika bibirnya bergerak lambat.

“Aku adalah perempuan yang penurut, sayang.” Ia menyahut.

Lalu pak Tomo mengaburkan lamunanku, dokter Andre dan mahasiswanya sudah datang. Kami harus segera meninggalkan ruangan.

Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi antara diriku dan Anjani hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *