Jasad; Kehampaan yang Menganga

Penyesalan yang bersifat masif menyerangku ketika sampai di rumah, tubuhku luluh lantak meringkuk di atas tempat tidur bagai bayi meriang. Satu-satu tetes air mataku membasahi sprai biru lautku, aku merasa begitu kotor. Begitu berdosa. Kumaki diriku sendiri atas apa yang kulakukan tadi, bagaimana bisa aku menyetubuhi mayat? Apakah aku gila? Kemana perginya rasionalitasku? Aku bagai anak kecil yang tersesat di dalam hutan lebat hingga menemukan rumah yang terbuat dari permen milik nenek sihir, alih-alih dijadikan sup, aku malah membakar tubuh nenek sihir itu dan memakan habis tubuhnya yang sudah matang.

Tidak pernah aku merasakan begitu tak berdaya di lembah dosa yang hina dina, aku berlutut dan meminta ampunan dari Tuhan. Dengan suara parau aku memohon kepadanya agar tak digolongkan dalam pendosa yang mengantre untuk diceburkan ke dalam lautan api. Aku tidak mau dimasukan ke dalam sana, berendam di dalam air hangat saja sudah membuatku tergelepar.

Aku tidak keluar hingga makan malam, ibu tiriku, Marliana mengira aku sakit dan mengantarkan semangkuk sup dan obat demam. Ia berpesan untuk setidak menghabiskan sup itu agar bisa menenggak obat lalu tidur, ia tidak mengerti, bukan sup atau obat-obatan yang aku butuhkan. Apakah ia tidak melihat aku sedang melakukan kontak langsung dengan Tuhan, aku sebentar lagi akan jadi penghuni neraka! Aku teringat akan cerita salah satu temanku dulu, kala itu ia untuk pertama kalinya memberanikan menyewa pelacur untuk melampiaskan libidonya dan keingintahuannya akan seks. Ia berakhir di kubangan penyesalan yang tidak berujung sama sepertiku, aku masih ingat ceritanya. Dengan segala keberanian yang tersisa, ia mengguyur tubuhnya dengan  sederigen bensin. Untuk membersihkan najis dari asmara terlarang itu dari tubuhnya, aku waktu itu hanya menanggapinya dengan tawa melengking. Kini aku mulai menimbang-nimbang untuk melakukan hal yang sama.

Adegan penyiraman sederigen bensin ke seluruh tubuhku tidak pernah terjadi, aku hanya melakukan perjanjian kecil antara diriku dan Tuhan agar mengubur sisi diriku yang muncul siang tadi dalam-dalam, diriku yang mencintai Anjani harus kubunuh demi kasih Tuhan yang dapat menyelamatkanku dari derita neraka yang mengerikan.

Aku mengundurkan diri dari posisi asisten dosen, seperti tebakanku sebelumnya, dokter Andre mencibir atas pengunduran diri itu, ia menganggapku sama seperti mahasiwa lain yang sok tahu dan langsung menyesal begitu merasakan konsekuensinya. Hal lain kutangkap dari tatapan pak Tomo, ia agak menyayangkan keputusanku. Namun, pada akhirnya ia menghormatinya, akhirnya sejawatnya harus pergi. Aku mulai memfokuskan diri ke perkuliahan sepenuhnya, tidak ada lagi bayang-bayang Anjani yang mampu menghadirkan apa yang aku cari; ketentraman dan kesempurnaan.

Setahun kemudian aku berhasil menyelesaikan masa akademisku di fakultas kedokteran, Bapak lumayan bangga. Foto kami ketika aku diwisuda ia pajang di ruang tamu untuk menunjukan pada siapa saja yang datang bahwa anaknya sudah berhasil menyelesaikan tugasnya tanpa cacat. Kini anaknya resmi menjadi seorang dokter walaupun masih berstatus teoritis belum profesi.

Tahapan selanjutnya yang harus kulalui adalah KOAS, dan ini merupakan masa terburuk di antara seluruh tahapan yang sudah kulalui. Pihak kampus sudah memberikan segambreng daftar rumah sakit di mana aku harus mengabdikan diri sebagai dokter muda, beberapa di antaranya masih berada di wilayah Jabodetabek dan yang lainnya di luar kota. Dua tahun aku menjalani KOAS, dan pada titik inilah aku memulai membuka diri. Aku mulai berhubungan dengan beberapa perempuan setelah Erin, hubunganku dengan mereka sedikit banyak membuka pikiranku yang mampat. Ini adalah bagian dari pencarianku akan jati diri.

Rumah sakit pertama yang kusinggahi adalah rumah sakit almamaterku sendiri. Di sini aku tidak sendiri, aku bersama empat teman seangkatanku. Kehadiran mereka membuat tugasku semakin ringan, ketika kami tidak sedang disibukan oleh pasien kami menghabiskan waktu bersama dengan bermain kartu, menonton film di laptop, atau hanya sekadar ngopi-ngopi. Di sinilah perkenalanku dengan Catalina, satu-satunya perempuan di grup kecil kami. Dari saling lirik ketika bermain kartu atau berpapasan saat menangani pasien, kami berakhir di bincang-bincang ringan di sela tugas. Aku tidak pernah mengenal Catalina sebelumnya walau kami satu kelas, yang kutahu adalah ia penganut hedonisme akut.

Satu minggu berlalu, Catalina memberikan nomor telponnya. Semenjak saat itu komunikasi kami mulai intens. Mulai dari basa-basi mengucapkan selamat pagi atau selamat tidur, sampai ke perhatian remeh seperti sudah makan atau belum. Aku tidak mengira hubungan kami akan berlangsung lebih jauh, pesan-pesan yang ia kirimkan semakin nakal menantang instingku sebagai seorang lelaki. Suatu malam ketika kami sedang chatting, kuladeni pesan nakalnya dengan ajakan menginap di hotel. Dan ia menyetujuinya.

Dua hari kemudian kami berakhir di sebuah hotel kecil di Timur Jakarta, aku berbaring di atas tempat tidur hanya memakai celana boxer dan ia berdiri di hadapanku sembari menanggalkan pakaiannya satu per satu. Aku terpukau akan keindahan tubuhnya, garis tubuhnya begitu sempura. Lekukan yang cukup mencolok terbentuk di area pinggul, libidoku pelan-pelan naik.

Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, Catalina merangkak naik ke tempat tidur seperti harimau yang sedang mengunci posisi mangsanya. Ia langsung menerjangku ketika tangannya sapai di pinggul, dengan buas bibirnya melumat bibirku yang masih kaku akibat kurang pengalaman. Aku harus akui kelihaiannya dalam seni berciuman, lidahnya seperti memliki mata, setiap titik yang mampu membangkitkan syahwat ia gerayangi tanpa ampun. Aku mirip boneka baginya. Pengalaman seks yang aku alami selanjutnya adalah pengalaman yang luar biasa, nikmatnya melebihi ketika aku bersama Anjani. Namun, kegundahan membekukan diriku ketika Catalina berbaring di pelukanku, mulutnya tidak berhenti mengoceh betapa menyeyangkannya seranjang denganku. Rupanya pengalaman ini bukan yang pertama kali, ia melakukannya beberapa kali dengan dokter-dokter yang namanya kukenal. Ini adalah skandal dunia medis pertama yang aku ketahui.

Di balik pengalaman seksnya yang mampu membuat dengkulku mendadak lemas, aku merasa ada kehampaan yang tidak bisa ditepis. Ada sesuatu yang menjijikan di balik ciuman penuh nafsunya, aku merasa ada hasrat yang terlalu besar yang perlahan-lahan melumpuhkanku. Aku hanya menjadi tahanan pemuas nafsunya saja, tidak ada satu kesatuan yang rendah hati mau membaur di antara kami. Yang ada hanya seorang perempuan yang melakukan apapun untuk meraih puncak kenikmatan tertinggi, sedangkan aku hanya undakan tangga yang tidak terlalu penting. Aku hanya dihadiahi sensasi pecahnya libidoku yang sudah lama terpupuk, selain itu kosong. Tidak ada apa-apa.

Malam itu aku belajar bahwa seks tidak mampu menyatukan dua orang, tetapi cintalah yang mampu. Cinta menyeimbangkan sifat dasar manusia yang selalu menuntut lebih; selalu ingin mendapatkan puncak kenikmatan tertinggi lewat jalur seks. Cinta membuka mata kita bahwa kesempurnaan yang sesungguhnya adalah rasa ingin melayani antara satu sama lain tanpa menuntut, ketika dua jiwa saling mengenal dan melayani dengan tulus di sanalah mereka akan menyatu. Kebahagiaan mereka bukan lagi tergantung dari seberapa ideal tubuh pasanganmu, seberapa elok wajah mereka, atau seberapa fantastis seks yang bisa mereka tawarkan. Kebahagiaan mereka terletak pada saling percaya untuk menerima, menopang kekurangan satu sama lain dan saling melayani.

Empat kali aku dan Catalina melakukan hubungan seks panas, aku biarkan diriku menikmati permainan semunya. Malam itu aku hanya mendapatkan seks yang luar biasa nikmatnya, dan keesokan paginya aku pergi dengan sebuah kehampaan yang menganga besar.

Jasad; Bercumbu Dengan Kematian

Semester baru dimulai, sebagian teman-temanku salut akan statusku sebagai asisten dosen di matakuliah anatomi dua. Kendati begitu, ada juga yang menilai usahaku ini adalah tindakan bodoh dan cari mati. Aku tidak peduli, si pria gagah adalah satu-satunya tujuanku melakukan ini.

Sebagai asisten dosen aku bertugas meenyiapkan ruang anatomi ketika akan sebelum digunakan, untuk ini aku tidak bekerja sendiri. Aku bekerja bersama pak Tomo, seorang tenaga ahli yang sudah bekerja di kampusku selama dua puluh tahun. Ia adalah pria paruh baya yang ramah, ia pernah bercerita kepadaku bahwa ia berharap salah satu anaknya akan berkuliah di sini tapi semuanya pupus. Anak pertamanya adalah seorang guru, dan anak keduanya adalah seorang pegawai bank. Sebagai gantinya akulah yang ia anggap anak.

“Saya tidak pernah melihat pemuda yang begitu besemangat kayak kamu.” Pujinya pada sebuah kesempatan.

Di hari pertamaku bekerja untuk dokter Andre, aku terkesiap karena si pria gagah bukan lagi jadi obyek pembelajaran kami. Pak Tomo mengatakan bahwa cadaver yang dipakai berbeda pada setiap semesternya, seorang perempuan menggantikan si pria gagah. sesalku sirna ketika melihat sosok perempuan pengganti si pria gagah, perempuan itu benar-benar cantik. Persendianku dibuatnya lemas ketika mengangkat tubuhnya dari bak berisi formalin ke meja praktik, untung saja tangan pak Tomo sigap mengantisipasinya.

“Gak apa-apa, saya juga dulu sempat mual kok.” Ia memaklumi.

Aku hanya bisa tertawa pahit, aku tidak mual sama sekali. Aku justru terpesona.

Helai-helai rambut panjangnya masih menempel di kepalanya, postur tubuhnya terasa pas, tidak gemuk tapi tidak kurus. Hidungnya mancung sedangkan tulang pipinya menonjol tegas, dan bibir atasnya yang tipis begitu kontras dengan bibir bawahnya yang tebal. Sepertinya ia tampak begitu tenang ketika mati. Tanpa kusadari libidoku naik, segera kututupi sebelum pak Tomo menyadarinya.

Di kelas anatomi dua yang kuikuti aku memfokuskan diri kepada materi yang disampaikan dokter Andre agar aku tidak ketinggalan, dan kecurigaan Erin semakin pupus. Baru ketika praktik selesai dan waktunya aku menunggui ruang anatomi sampai jam praktik selanjutnya dimulai, aku berani mendekatinya. Aku menamainya Anjani karena parasnya yang kental dengan ciri khas perempuan Jawa nan ayu. Dari awal aku melihat si pria gagah hingga Anjani, aku sama sekali tidak terganggu dengan rupa mereka yang menurut teman-temanku menyeramkan. Kulit hitam mereka seakan menjadi sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang akan kau temui di dalam mimpi buruk. Belum lagi bagian dada hingga perut yang terbuka lebar, mempertontonkan organ-organ dalam yang masih utuh, lembek, membuat beberapa mahasiswa yang belum memiliki pertahanan yang kuat muntah-muntah. Aku tidak mengerti mengapa si pria gagah dan Anjani tampak seperti benda yang menjijikkan, padahal mereka juga manusia. Sama seperti aku dan semua orang yang menjadikannya sumber belajar, reaksi kimia dari formalin pun tidak mengubah apa-apa. Mereka tetap tampak sempurna.

Aku justru jijik melihat kelakuan mereka yang diam-diam mempermainkan alat vital si pria gagah, mengabadikannya dengan kamera ponsel untuk jadi bahan lelucon atau menjadikan wajah si pria gagah sebagai foto utama akun media sosial. apakah mereka tidak menyadari bahwa mereka lebih buruk dari makhluk hidup manapun.

Aku menikmati setiap waktu luangku bersama Anjani, berjam-jam aku menatap wajahnya tanpa pernah bosan. Kurapikan helaian rambutnya dan kusentuh wajahnya yang dingin, ada semacam keintiman yang terjalin di antara kami berdua. Hubungan yang erat mulai terjalin dari kebersamaan kami yang diisi oleh hening panjang, jika manusia terkoneksi antara satu dan yang lainnya lewat komunikasi verbal dan bahasa tubuh, aku dan Anjani terkoneksi lewat udara berbau fomalin dan tatapanku yang tak berujung. aku mungkin terlalu bertele-tele, jawaban sesungguhnya adalah kematian yang mengikat kami. Tubuh matinya melengkapi jiwaku yang telah mati.

Hari berganti hari, aku mulai memberanikan diri melakukan kontak fisik dengan Anjani. Tanganku yang terbalut oleh sarung tangan karet mulai menjajahi tubuhnya, mulai dari wajah kemudian ke payudara, dan berakhir di pangkal pahanya. Jari telunjukku menggelitik permukaan alat kelaminnya yang sudah mengeras, aku menggelinjang. Bulu romaku meremang bersamaan dengan libido yang tahu-tahu naik tinggi, tak tertahankan. Perasaanku berkecamuk di dalam dada, tali yang menjalin kami mulai menarikku kuat untuk melampiaskan cinta yang sudah kepalang bergebu-gebu di dalam dada. Tanganku gemetaran, dan persendianku menegang. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih, yang ada di dalam pikiranku hanya sosok Anjani yang terbujur kaku di meja praktik tanpa sehelaipun busana dan keinginanku yang tak terbendung untuk memeluknya.

Kulirik jam dinding di dalam ruangan, praktik selanjutnya dimulai setengah jam lagi dan pak Tomo baru akan datang lima belas menit lagi. Aku masih punya waktu lima belas menit untuk menuntaskan hasratku terhadap Anjani, ini pilihan yang berat. Akhirnya aku menyerah.

Aku bangkit ke pintu untuk memantau kondisi di luar ruangan, aman, lorong tampak sepi. Aku berlari kecil ke meja peralatan untuk mengambil sarung tangan karet, setelah itu kuraih gunting stainless yang tergeletak di sana. Kupotong bagian jari tengah pada sarung tangan karet lalu membawanya ke meja praktik.

Aku membelai wajah Anjani dengan lembut, kukatakan bahwa dirinyalah yang kucari selama ini. Ia mampu mengisi kekosongan di dalam diriku.

Gerakan tanganku begitu gesit ketika membuka celana kain yang kukenakan berserta celana dalam abu-abuku, dengan tangan gemetar kupasang potongan sarung tangan karet yang mirip kondom ke kepala penis hingga menutup setengah batang penis. Terlalu pendek memang tapi cukup untuk melindungi penisku dari cairan formalin yang dapat membakar alat kelaminku.

Aku memanjat meja praktik seperti maling yang sedang menyatroni rumah korbannya, dan tubuhku mulai menindih Anjani. Sekilas dapat kulihat ekspresi wajahnya ketika tubuhku menindihnya, ia tampak begitu menikmati. Bola matanya liar menatapku, gigi kecilnya mulai mengigit bibir bawahnya. Suara erangan halusnya mengiringi napasku yang tersengal-sengal, aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Seakan nadiku kembali berdenyut normal, aku merasa kembali hidup.

Kejadian itu berlangsung singkat tapi indah. Tergesa-gesa aku membersihkan Anjani dengan disinfektan dan menyingkirkan barang bukti agar tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara aku dan Anjani. Tidak lupa aku merapikan celana dan kemeja yang kukenakan lagu duduk di kursi penjaga seakan tidak terjadi apa-apa.

Pak Tomo masuk ke dalam ruangan dua menit kemudian, ia membawakanku teh hangat.

“Diminum dulu, kamu pasti cape nunggu di sini. Setidaknya teh hangat bisa melemaskan otot-otot yang tegang.” Pak Tomo menyerahkan secangkir teh, aku menerimanya.

Kutenggak teh itu hingga tandas, tenggorokanku kering bukan main. Untung saja teh itu tidak terlalu panas, jika ia lidahku pasti sudah terbakar. Pak Tomo memerhatikanku, ia tertawa singkat. “Minumnya pelan-pelan saja, kayak abis ngerjain orang aja.” Pak Tomo berkelakar.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan gerakan mata ke arah Anjani.

“Aku percaya kau tidak akan membocorkan rahasia kita kepada siapapun,” ucapku dalam hati, “lagipula kau sudah mati, dan orang mati tidak bisa bicara, sayang.”

Anjani mengguratkan sebuah senyuman samar-samar, bola matanya bergerak ke arahku ketika bibirnya bergerak lambat.

“Aku adalah perempuan yang penurut, sayang.” Ia menyahut.

Lalu pak Tomo mengaburkan lamunanku, dokter Andre dan mahasiswanya sudah datang. Kami harus segera meninggalkan ruangan.

Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi antara diriku dan Anjani hari itu.