Jasad; Selamat Tinggal Erin

6

Baru tidur satu setengah jam aku sudah kembali terjaga, belakang kepalaku sakit dan tenggorokanku kering. Aku bangkit sempoyongan dari tempat tidur seperti orang mabuk, kulirik komputerku masih menyala dengan sleep mode. Tertatih kuhampiri komputerku untuk meraih tetikus yang diam bagai prajurit yang mati di medan perang, kubuat satu gerakan ke atas layar komputer menyala. Masih ada jendela yahoo messenger dan liveconnectors yang terbuka, Erin sudah sign out rupanya. Aku memang sering lupa mematikan komputer setelah memakainya, segera kututup jendela-jendela chatting hampa itu dan mematikan komputer. Aku berdiri selama dua menit untuk memastikan komputer benar-benar mati, setelah itu aku melangkah keluar sambil memegangi kepalaku yang nyut-nyutan.

Seingatku ada setangkap roti bekas tadi pagi di atas meja, lumayan untuk mengganjal perut sebelum meminum obat sakit kepala. Kaki-kaki telanjangku perlahan menjejaki lantai yang dingin, seluruh lampu rumah sudah mati kecuali lampu teras dan dapur. Ketika sampai di meja makan aku mengintip ke kamar Bapak, lampunya padam. Dia belum pulang larut lagi.

Rumah ini terasa begitu besar sekarang, mirip rumah hantu di pasar malam yang dulu gencar digelar dari kampung ke kampung. Besar, lega, tanpa penghuni. Pintu kulkas dua pintu ukuran besar yang nyempil di sudut dapur terasa begitu berat karena terlalu banyak muatannya, tidak ada yang rajin membersihkan kulkas ini. Bapak memang hobi membeli ini itu tanpa ia sentuh sekalipun, di sisi kulkas bertumpuk empat krat bir. Bir ini adalah tabungan Bapak kalo nanti ada acara keluarga.

Sebuah botol air mineral yang masih disegel menjadi satu-satunya benda yang aku ambil dari tumpukan sampah itu, dari kulkas besar aku bergeser ke kulkas kecil yang berada di depan sebelah kiri kulkas besar. Di atas kulkas kecil terdapat sebuah keranjang bekas parcel yang digunakan untuk menyimpan obat-obatan, beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa keluargaku sampai mempunyai dua kulkas. Alasannya sepele, Bapak tidak suka makanan langsung makan disatukan dengan daging mentah. Jadilah keluarga kami mempunyai dua buah kulkas, terima kasih Bapak atas higenitasmu yang tinggi.

Aku terhuyung-huyung ke meja makan dengan sebotol air mineral dan satu strip obat sakit kepala, aku menghempaskan bokongku ke kursi makan. Ah, nikmatnya. Setelah termenung selama beberapa detik segera kubuka tudung saji berwarna merah yang sudah ada semenjak aku lahir, voila, setangkap roti berselai srikaya menunggu dalam ketidakpastian. Apakah ia akan dimakan atau dibiarkan sampai berjamur. Saat ini nasibmu beruntung wahai roti dingin nan keras, aku membutuhkanmu untuk alas labung sebelum racikan kimia ini masuk ke dalamnya.

Susah payah aku mengunyah roti dengan rahang yang sepertinya sudah lelah, rasanya masih enak tapi kerasnya ampun-ampunan.

Butuh perjuangan besar untuk mengunyah dan menelan roti malang itu, tetapi dorongan air dingin adalah cahaya ilahi. Akhirnya air bah mampu merontokkan bendungan yang menyumpal saluran pencernaanku. Sebutir obat sakit kepala menjadi penutup camilan malamku, aku meninggalkan dapur setelah itu. Air mineral sisa dan obat sakit kepala yang masih tersisa tiga butir kubawa bersamaku, jika nanti aku membutuhkannya lagi.

Kututup pintu kamar pelan-pelan lalu berjalan menuju tempat tidur, air mineral dan obat sakit kepala harus rela tinggal di meja komputer. Alih-alih kembali tidur aku malah duduk di bibir tempat tidur sembari melamunkan hal yang tidak-tidak, banyak pikiran mengerumuni kepalaku seperti lalat di tempat sampah. Aku bahkan tidak bisa mengidentifikasi mereka satu-satu, mereka hanya datang dan pergi di kepalaku yang mirip bejana kosong.

Suara deru mesin mobil mengembalikan kesadaranku, bukan mobil Bapak tapi berhenti tepat di depan rumahku. Apakah ada tamu yang datang selarut ini?

Aku bangkit setengah berlari menuju jendela, sebuah mobil bercat putih berhenti tepat di pintu pagar rumahku. Bapak turun dari kursi penumpang bagian depan, sejak kapan Bapak punya mobil berwarna putih. Lagi pula mobil Bapak kan sedang berada di bengkel dan baru besok bisa diambil.

Aku mengamati Bapak seperti buser mengamati targetnya, wajahku sengaja aku samarkan dibalik tirai putih. Bapak berputar ke kursi pengemudi, ia berdiri di sana cukup lama. Sedang bercakap-cakap sempertinya, beberapa kali ia mengangkat tangannya dan tersenyum. Sangat akrab.

Siapakah orang yang sedang bercakap-cakap dengan Bapak? Dari tempatku memata-matai aku tidak dapat melihat sosok dibalik kemudi mobil putih itu, tubuh Bapak yang agak tambun semakin memperkecil sudut pandangku. Tidak lama kemudian Bapak masuk dan mobil itu pergi.

Siapapun orang itu, dia pasti mempunyai hubungan akrab dengan Bapak. Padahal sangat sedikit orang yang bisa akrab dengan Bapak, soalnya Bapak termasuk orang yang pelit senyum dan terkesan galak, hanya dua orang yang dapat membuat Bapak tersenyum lepas. Pertama nenekku, kedua Mamak.

Sekarang daftar itu bertambah satu, orang asing pemilik mobil putih itu.

7

Hubunganku dengan Erin semakin akrab, kami tidak lagi malu mempertontonkan kebersamaan kami sebagai teman. Banyak cemoohan yang singgah kepadaku, aku dinilai sebagai pengeran rakyat jelata dan Erin seorang putri dari kerajaan nun jauh di sana. Aku tidak peduli, Erin adalah pribadi yang baik dan santun. Tidak pernah memandang orang dari kasta, dan yang terpenting aku nyaman bersamanya.

“Kita jalan, yuk.” Ujar Erin pada suatu siang di kantin kampus.

“Jalan kemana?” tanyaku pura-pura polos.

“Kemana kek, ke Taman Anggrek kek, atau ke Sency kek.” Sahut Erin. Kutenggelamkan perhatianku pada buku Sobotta Anatomi satu di hadapanku.

“Ih, Andra mah gitu. Aku dicuekin.” Protesenya dengan bibir manyun.

“Iya, kenapa sih Erin.” Aku akhirnya menutup buku dan menatap wajahnya yang selalu membuatku grogi.

“Kita jalan, aku bosen di nongkrong di kampus terus.”

Aku mendorong tubuhku sedikit ke belakang.

“Gak suka jalan-jalan ke mall.” Jawabku agar ketus.

“Kenapa?”

“Rame, gak suka yang rame-rame.” Imbuhku singkat.

Ia diam, tampaknya sedang berpikir.

Sesungguhnya alasanku itu hanya bohong semata, aku tidak pernah punya kebencian terhadap mall dan tempat-tempat perbelanjaan lain. Aku hanya takut uang jajanku hari itu yang hanya cukup untuk satu kali naik bisa disambung ojek tidak mencukupi biaya selama kami di sana, barang kali untuk parkirpun tidak cukup.

“Ya udah kalo gak suka mall, tempat selain mall juga gak apa-apa asal kita pergi dari sini. Sumpah, bosen aku di sini.” Akhirnya ia luluh.

“Oke, bagaimana jika ke taman mini?”

Erin mengerutkan dahi, ia menyangka aku sedang bercanda. Raut wajahku yang konstan tanpa perubahan ke arah guyon menegaskan kepadanya bahwa aku serius.

“Ya, bolehlah.”

Aku membereskan buku-buku dan jurnalku yang berserakan di atas meja dan meninggalkan kantin bersama Erin.

“Naik mobil aku atau kamu?” ujarnya ketika kami sedang berjalan bersama.

Aku mendadak batuk ringan.

“Mobil kamu aja.” Suaraku hampir tidak terdengar.

“Oke.”

Erin menggiringku ke mobilnya, Honda Jazz keluaran terbaru berwarna merah. Dari kampus ia memacu mobilnya melalui Cililitan.

Sesampainya di Taman Mini, kami mengunjungi banyak tempat. Mulai dari museum air tawar, museum ilmu pengetahuan, hingga rumah-rumah adat. Kami menjadi pengungjung tertua siang itu selain guru taman kanak-kanak yang memandu puluhan murid mereka. Aku sedikit merasa bersalah kepada Erin, ia tidak layak mendapatkan kencan murahan seperti ini. Mungkin sekarang ia sedang tersiksa tapi pura-pura baik-baik saja.

Namun, ketika aku menatap langsung ke matanya ia tampak sangat senang, terutama ketika kami berpapasan dengan murid taman kanak-kanak ketika melihat ikan-ikan besar asal Amazon. Tanpa segan Erin malah ikut menjelaskan ikan-ikan itu kepada kerumunan anak-anak.

Lelah mengelilingi Taman Mini, aku dan Erin duduk di sebuah kedai deret di persimpangan jalan utama. Aku memesan sebuah jus sirsak sedangkan Erin memesan makanan.

“Kamu gak makan?” tanyanya.

“Gak ah, tadi di kampus udah makan. Masih kenyang.” Tepisku. Padahal aku tak makam lantaran dompetku tidak mengizinkan untuk memesan macam-macam.

“Ya udah, jangan ilfeel yang liat aku makan. Aku laper banget, jadi makannya kayak kuli.” Ujar Erin dengan senyum tipis malu-malu.

Aku berusaha memakluminya, lagi pula aku bukan orang yang berpikir aneh jika seorang gadis cantik makan banyak. Seorang perempuan dewasa setidaknya butuh 2000 kalori perhari, jika sedang bekerja lebih mungkin lebih banyak. Makanlah senyaman mungkin, Erin.

Aku tercengang ketika pesanan Erin datang, yang ia maksud makan ala kuli adalah seporsi kecil spaghetti. Ya ampun, Mamak saja makan lebih banyak dari itu ketika ia masih berjuang melawan kankernya.

“Kenapa ngeliatin? Mau?” Erin menyodorkan sepaghetti-nya. Aku menggeleng sopan.

“Cuma heran, ternyata yang kamu maksud makan porsi kuli tuh segini. Mungkin buat bokap gue ini hanya sekali jilat doang.” Ungkapku jujur.

Erin tertawa terpingkal-pingkal, aku dapat melihat sesuatu yang bersinar-sinar di dalam matanya. Sebuah kebahagiaan yang murni.

Aku dan Erin menghabiskan waktu satu jam di kedai itu sebelum kami memutuskan untuk pulang, Erin memaksa untuk meneraktirku hari itu dan aku tidak berkutik. Di dalam hati aku bersyukur. Belum puas sampai di situ, Erin kembali berulah. Ia memaksa untuk mengantarkanku pulang sampai rumah, mau taruh di mana kejantananku ini? Masa aku harus rela di antarkan oleh perempuan di kencan pertama ini.

Namun, sekali lagi dengan berat hari aku harus rela meluluskan keinginan Erin. Ia menurunkanku di depan pagar.

“Gak usah mampir, lagi pula gak ada orang di rumah.” Tukasku ketika melihat gelagat Erin yang tidak enak jika tidak mampir.

“Oh, gitu. Aku langsung pulang, ketemu besok di kampus ya.” Erin melambaikan tangan dan tersenyum, tidak lama kemudian ia menginjak pedal gas.

Aku berdiri di depan pagar rumahku, melambaikan tangan sedikit kemudian diam mematung melihat mobil Erin yang menghilang di jalanan komplek yang sepi.

Hari ini sisa ongkos kuliahku utuh. Untuk pertama kalinya seorang mahasiwa kedokteran yang pas-pasan macam diriku punya sisa ongkos kuliah, prestasi ini harus kucatat di buku biografiku nanti.

8

Kencan pertama yang bisa dibilang berhasil membuat Erin semakin berani mengekspresikan kedekatan kami di muka publik, kasak-kusuk tentang hubungan kami menyebar ke mana-mana. Beberapa teman sekelas pun mulai mendesak untuk segera menyatakan cinta kepadanya, tapi aku bagai mesin yang mogok. Tak terbersit sedikitpun niat untuk menyatakan cinta kepadanya. Jangan salah paham dulu, aku bukannya sok kecakepan dan dengan sombong mengeliminasi Erin yang begitu sempurna dari tipe perempuan incaranku. Aku hanya tidak yakin apakah ia yang aku cari selama ini, sejauh ini dia memang orang yang paling dekat denganku. Namun, tidak ada tanda-tanda kekosongan dalam diriku terisi dengan kehadirannya.

Satu-satu alasan mengapa aku tetap berhubungan dengan Erin adalah karena aku suka melihat senyumnya, setiap kali senyum itu terbit aku merasa sedikit beban ini lepas begitu saja seperti sepasang merpati yang terbang bebas.

Aku dan Erin menghabiskan waktu bersama di sela-sela perkuliahan (walaupun ruang gerak kami hanya kampus dan sekitarnya karena ongkosku yang pas-pasan), kami menikmati kehadrian satu sama lain. Hubunganku dan Erin mulai renggang ketika sosok Fernando masuk, dia anak seorang lawyer kawakan di Jakarta, perawakan tubuhnya tegap dengan perangai Sumatra Utara tulen yang gagah perkasa. Tidak perlu ditanya lagi seberapa kaya orang tua Fernando, melihat mobilnya yang lebih cocok digunakan untuk masuk hutan rimba ketimbang menggilas jalanan kampus saja membuat siapa saja ciut. Mobil besar berharga miliran rupiah itu baru gertakan awal.

Rupanya Fernando sudah menyukai Erin semenjak lama, di balik tubuhnya yang kekar bak petinju tersimpan pribadi yang keringat dingin jika berada di dekat perempuan yang ia suka. Sama sepertiku, menang badan besar aja. Dua bulan belakangan si tubuh besar berhati lembut ini memantau hubunganku dan Erin, hatinya terbakar cemburu melihat pujaan hatinya lebih dekat dengan seorang mahasiswa kurus yang lebih mirip loper koran. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk merebut Erin dariku secara terang-terangan.

Ia mulai sering muncul di kantin atau taman kampus saat kami sedang berduaan lalu mengajak Erin pergi, ajakan itu sering ditolak tapi beberapa kali diterima. Mungkin Erin pun sudah mulai bosan mengikuti gaya hidup iritku, jiwa sosialita di dalam diri Erin sudah mulai menjerit-jerit. Aku tahu pikiranku memang picik, belum tentu Erin seperti apa yang aku pikirkan. Sesungguhnya aku pun tidak percaya ia seperti itu, tetapi aku lebih memilih untuk mengikuti pransangka burukku saja.

Kekalahanku terjadi di suatu hari Jumat yang panas, ketika itu aku dan Erin sedang berada di taman membaca beberapa buku pengantar. Fernando datang dari arah gedung kampus.

“Rupanya di sini kau.” Pekik Fernando sambil mengelap keringatnya.

Aku dan Erin menoleh bersamaan.

“Emang ada apaan sampe nyari-nyari gitu?” Erin berkata dengan wajah bingung.

“Adikku besok ulang tahun, aku ingin mencari kado untuknya. Mungkin macam dress gitu, berhubung aku ini gak tahu mode. Aku ingin memintamu menemaniku sekalian memilih kado yang cocok untuk adikku, sesama perempuan biasa punya selera yang sama.” ujar Fernando sambil cengar-cengir.

Bagus juga taktiknya.

Erin merespon dengan ekspresi bimbang, ia ingin menolak tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ia berharap seseorang menyelamatkannya, dan itu aku.

“Aku lagi nemenin Andra, masa aku ninggalin gitu aja. Ini pembahasannya belum selesai. Iya kan, Andra?” Erin menatapku penuh harap agar aku merebutnya dari tangan Fernando.

Aku gelagapan, entah harus menjawab apa aku. Mungkin saatnya aku harus jujur, aku tidak mau merantai Erin untuk terus mengikuti ketidakpastianku. Ia berhak mendapatkan yang lebih baik.

“Gak apa-apa, kok. Aku bisa nerusin sendirian, kamu nemenin Fernando aja.” Jawabku seraya tersenyum agak pahit.

Erin terkejut dengan ucapanku yang sungguh diluar perkiraan, aku ini bodoh atau buta hingga melepaskan perempuan paling diincar di kelas. Aku bukannya naif, aku hanya mencoba untuk realistis. Lihat saja diriku ini, seorang mahasiswa yang masuk ke dalam golongan miskin di fakultas kedokteran. Lalu, lihat Erin, seorang mahasiswi yang sempurna dan berasal dari keluarga kaya. Yang lebih parah lagi, lihat Fernando, seorang mahasiswa putra seorang lawyer milyuner yang lebih dapat mengimbangi Erin. Akan kacau jika Erin yang anak orang kaya harus berpacaran dengan aku yang sehari-hari menumpang bus kota untuk pergi ke kampus.

Selarik kesedihan tergambar di wajah Erin, ia kecewa atas ucapanku.

“Oke, deh.” Ujar Erin singkat.

Ia beranjak dan meninggalkanku bersama Fernando, tidak sama sekali melihatku.

Maafkan aku Erin, aku bukanlah seseorang yang menilai apa-apa dari harta. Aku berhak mendapatkanmu sama seperti orang lain terlepas dari selisih uang yang kita punya, tetapi lebih dalam dari itu aku tidak menemukan apa-apa di dalam dirimu. Kau adalah perempuan baik dan sangat cantik, namun kau bukanlah orang yang kucari. Kau bukan pelepas dahaga hidupku. Aku yakin kau pasti bahagia di pelukan si tubuh besar berhati lembut bernama Fernando.

Setelah kejadian siang itu aku sengaja mulai menjauhi Erin, aku tidak lagi membalas chatting-nya, bahkan ketika ia sedang online aku buru-buru menonaktifkan akun yahoo messanger. Ketika berada di kampus pun aku melakukan hal yang sama, aku menghindarinya di kelas, kantin, dan taman kampus. Aku lebih banyak menghabiskan waktu luangku bersama teman-teman lelaki, lama kelamaan ia pun sadar bahwa aku menjauhinya. Erin menyerah dan pergi dari hidupku , ia tidak lagi menyapaku ataupun chatting denganku.

Mungkin memang lebih baik seperti itu, jelajahilah hidupmu Erin. Kencani setiap lelaki tampan nan kaya raya, jika menemukan yang sungguh dapat mengisi hatimu maka katakanlah iya ketika mereka melamarmu. Lahirkan anak perempuan yang sama cantiknya denganmu atau anak laki-laki yang sama tampannya dengan suamimu.

Biarkanlah aku melanjutkan pencarianku atas penutup lubang besar di jiwaku sepeninggal Mamak, doakanlah aku segera menemukan apa yang aku cari karena hidup bersama lubang ini melelahkan. Aku sedang berjalan di gurun pasir yang panas hingga membakar kulit kakiku demi sebuah oase teduh penuh rerimbunan pohon dengan kolam berisi air segar, ketahuilah bahwa aku adalah umat Musa yang sedang berkelana mencari tanah perjanjian.

Kau akan tetap menjadi salah satu orang yang pernah begitu dekat denganku, Erin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *