Jasad; Erin

3

“Bangun, kau. Pulang sana.” Aku mendengar suara Bapak, seketika itu tubuhku bergerak-gerak. Aku membuka mata, Bapak membungkuk di dekatku. Kancing kemeja yang ia kenakan sudah terbuka beberapa, dasi merahnya masih melingkar di leher.

“Jangan kau ganggu Mamak, dia butuh istirahat cukup.” Imbuh Bapak sambil berjalan ke kamar mandi.

Aku agak kesal, malam itu aku ingin sekali tidur sama Mamak. Perasaanku mengatakan bahwa waktuku bersama Mamak tidak akan lama lagi, aku harus memanfaatkannya atau menyesal. Kutatap wajah Mamak sebelum pergi, napasnya berat, pelan bagai hitungan satu, dua, tiga yang diucapkan lambat-lambat. Kudekatkan bibirku ke telinganya, “Andra sayang Mamak.”

Lalu kukecup dahinya yang hangat. Aku tergesa-gesa pulang, air mataku sudah tidak bisa kutahan. Aku tidak ingin Mamak terbangun karena tangisku, saat ini bukan tangisku yang ia butuhkan.

Semenjak Mamak sakit rumahku mulai ramai oleh saudara jauh dan sekat yang berdatangan untuk memberikan penghiburan, aku hanya bisa diam dan manggut-manggut ketika nenekku dan saudara-saudara ibuku datang dari kampung. Aku tidak mengerti bahasa mereka, sedari kecil aku memang tidak diajarkan bahasa Sumatra Utara dan orang tuaku pun jarang memakainya saat ngomong di rumah. Jika ada acara khusus yang dihadiri oleh perkumpulan barulah mereka berbicara bahasa itu, seperti yang bisa kau tebak, aku hanya menjadi boneka mereka. Aku mereka pamerkan ke mana-mana tanpa bisa memberikan reaksi lain kecuali anggukan dan senyuman yang semakin lama semakin hilang maknanya. Senyumku berubah menjadi keharusan saja.

Baru ketika ada kerabat yang mengajakku berbicara dalam bahasa Indonesia aku benar-benar berkomunikasi dua arah bersama mereka, lagi pula apa yang mereka katakan sama saja. Rata-rata nasihat untuk tegar dan mengajariku bahwa semua ini adalah cobaan dari Tuhan, pergumulan Mamak dengan penyakitnya adalah bentuk dari kasih Yesus. Apakah Tuhan gak punya cara lebih bagus untuk mengasihi Mamak? Pengabdian Mamak apakah sepadan dengan kanker yang perlahan-lahan membunuhnya? Sejujurnya aku tidak mengerti cara kerja Tuhan, aku hanya bisa menerka-nerka seperti umatnya yang lain.

Di antara semua yang hadir menjenguk Mamak, ada Frans di sana, ia salah satu anak adik Mamak yang tampak berbeda dari yang lain. Pertama ia tidak menunjukan wajah iba sama sekali, ia tampak santai duduk di sofa. Ia mengambil kue kering di dalam topeles dan memakannya, kadang ia tersenyum aneh melihat rombongan kerabat kami yang sedang berdoa. Aku sengaja duduk di dekatnya tanpa menyapanya, aku yakin dia akan menyapaku terlebih dahulu.

“Mamak lo bakalan mati,” Frans berujar kepadaku, remahan kue kering masih menyelimuti lidahnya.

“Auranya udah gak enak, dan menurut logika gue itu yang bakal terjadi, jangan tersingung.” Lanjutnya.

Sesaat aku merasa tersinggung, berani benar cecunguk ini bicara seperti itu. Namun, aku tidak bisa marah terhadapnya, ia mengatakan yang sesungguhnya. Aku pun tahu hal itu, hanya saja sedikit menyakitkan mendengarnya dari mulut orang lain.

Melihat ekspresiku yang tidak mengenakkan, ia mengangkat tangan.

“Maaf, gue gak bermaksud kurang aja di acara penghiburan. Gue cuma jujur di dalam kemunafikan ini, lo pasti paham.”

Ya, aku memang mengerti tapi itu bukan alasan untukmu mengatakannya di hadapanku.

“Mamak lo, ia dulu sering datang ke rumah gue dan bawain mainan buat gue. Malahan gue udah mengidolakan Mamak lo dari dulu, ke orangtua sendiri aja gue gak gitu-gitu amat.”

Frans termenung, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Hal buruk selalu menimpa orang baik. Mamak lo mengidap kanker, sedangkan emak gue masih sehat wal afiat. Padahal lebih cocok dia yang mati, udah sok tau demen marah-marah lagi.”

Aku sudah mengenal Frans semenjak kecil, hampir setiap bulan orang tuanya selalu mengajaknya ke rumahku. Aku pun sering bertandang ke rumahnya, orang tuanya sangat kaya. Bila dibanding dengan orang tuaku, orang tuaku lebih mirip kelas menengah dari pada orang yang punya. Rumahnya di Pondok Indah, rumahku di Jatibening. Ayahnya punya empat mobil mewah sedangkan orang tuaku hanya memiliki dua jika kijang tua yang selalu ibuku pakai ke pasar masuk hitungan. Padahal mobil itu sudah tidak cocok disebut mobil karena kondisinya yang tua renta.

Aku tidak terlalu tahu kehidupannya seperti apa, yang aku tahu orang tuanya bercerai ketika ia berumur sepuluh tahun. Ibunya memenangkan hak asuh dan ayahnya harus membayar uang bulanan sesuai yang disepakati pengadilan, tidak lama setelah itu ayah dan ibunya menikah lagi. Frans tidak pernah lagi datang ke rumahku, ini adalah pertemuan kami yang pertama kali semenjak umur kami masih sama-sama bocah bau kencur. Aku hanya mendengar bahwa ia masuk SMU favorit di Jakarta.

“Gue juga gak mengerti. Kalau saja gue bisa melakukan sesuatu buat ngilangin penyakit Mamak, gue gak akan berpikir dua kali.” Aku melihat Frans dari ekor mataku.

“Aneh emang, kita udah lama gak ketemu dan akhirnya ketemu lagi di keadaan yang sangat tidak mengenakkan.” Ia menaruh potongan kue kering yang tidak habis ke atas meja lalu menepuk-nepuk tangannya.

“Ke mana aja lo?” tanyaku.

Ia mengangkat alis dan bahu secara bersamaan.

“Gue sibuk menghindari emak gue dan suami barunya,” ia menatapku, “oh, iya. Dan anak baru mereka.” tawanya meledak seperti semua ini adalah lelucon.

Aku kagum dengan cara Frans menyikapi hidupnya.

“Denger ya, Mamak lo itu perempuan yang baik dan ini gak pantas terjadi ke dia tapi terjadi. Gue harap lo mulai melatih diri dari sekarang untuk lepasin dia, orang baik selalu dipanggil terlebih dahulu karena Tuhan menyayanginya. Itu kata orang, gue juga gak terlalu percaya.” Ia menepuk pundakku.

“Gak ada gunanya berdoa untuk kesembuhan, toh kenyataannya Mamak lo sakit parah. Harapan hidupnya kecil. Gue gak punya waktu untuk muksizat yang gak bakalan kejadian, lebih baik lo kuatin Mamak lo, pandu dia di waktu-waktu terakhirnya. Ia akan menempuh perjalanan panjang yang abadi, ucapkan selamat tinggal dan bilang betapa lo mencintai dia.”

Frans berhenti dan berpaling kepadaku.

“Yang tabah, ya.”

Frans mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, ia mengambil sebuah pulpen di atas meja dan menuliskan nomor di sana lalu menyelipkan ke dalam genggamanku.

“Kalo lo butuh teman untuk sekedar mabuk-mabuk.” Ia tersenyum singkat.

“Kalo emak gue nyari bilang lo gak pernah liat atau ketemu gue, kesankan gue sebagai sesosok alien yang gak pernah ada.” Ia berdiri dan keluar dari pintu depan, suara tawanya berputar-putar di kepalaku, aku tersenyum geli. Frans adalah satu-satunya orang yang berhasil menghiburku dengan cara pikirnya yang realistis dan praktis.

4

Apa yang dikatakan Frans benar, dua minggu setelah hari itu keadaan Mamak memburuk. Ia harus mendapatkan penanganan lebih intensif setelah sel kankernya menyerang balik setelah tetek Mamak diangkat, kini sel-sel jahanam itu mulai menyebar ke organ dari jantung lalu ke paru-paru. Seminggu setelah operasi payudara dilakukan Mamak koma, Mamak tidak membuka lagi matanya setelah itu. Ia tidur seperti pulas seperti bayi dalam rahim, untuk bernapas Mamak harus dibantu selang. Paru-parunya tidak lagi mampu bekerja normal.

Aku terpaksa tidak masuk sekolah untuk menjaga Mamak, setiap malam kuajak Mamak berbincang-bincang. Kuceritakan cerita-cerita lucu agar ia tertawa, aku yakin Mamak mendengarkanku. Pada suatu malam tepat satu minggu Mamak koma, air matanya keluar ketika mendengar salah satu ceritaku. Kuseka air matanya dengan handuk kecil, ini reaksi pertama yang Mamak berikan. Aku sedikit lega.

Satu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya adalah peristiwa malam itu ternyata merupakan salam perpisahan untukku, keesokan paginya Mamak kembali ke tangan Tuhan di hadapanku dan Bapak. Kami mematung menyaksikan kepergian Mamak, kedua tangan Bapak gemetaran dan air mata membasahi wajahnya. Aku melihatnya seperti seseorang yang kehilangan arah pulang, sekarang entah ke mana ia harus pulang. Selain tangis kerabat yang menggerung, tidak sekalipun isakkan Bapak terdengar. Bapak hancur dalam kesunyian.

Pemakaman Mamak dilaksanakan dua hari kemudian setelah seluruh keluarga kumpul, aku tidak pernah meninggalkan jasad Mamak. Aku menyaksikan bagaimana petugas dari rumah sakit mengawetkan jasad Mamak menggunakan lima liter formalin yang disuntikan melalui arteri yang berada di pahanya. Hatiku nyeri ketika melihat paha Mamak harus disayat, tetapi walaupun begitu aku tetap menyaksikannya. Ada sesuatu yang membuatku tertarik melihat bagaimana petugas tanpa ragu sedikit pun membuka lapisan kulit Mamak yang sudah kurus, tidak ada rasa mual yang kurasakan.

Kuperhatikan lekat-lekat jenazah Mamak, ia tampak lebih cantik dari pada ketika ia hidup. Aku tidak pernah melihat wajah Mamak berseri seperti ini, Mamak bebas sekarang. Seketika mata Mamak terbuka, ia menatapku. Bibir melengkungkan senyum manis, aku membalas senyumnya.

Mamak semakin cantik ketika sudah mati.

Frans hadir di acara penghiburan Mamak, ia mengenakan setelan jas rapih sebagai penghormatan tertinggi untuk Mamak. Ia hanya menatapku dari kejauhan tanpa menghampiriku, ia menghilang begitu saja seperti alien yang dalam sedetik berpindah galaksi.

Air mataku sudah mengering dan aku sudah mulai bisa tersenyum kepada kerabat yang hadir untuk mengucapkan duka cita mereka atas wafatnya Mamak. Namun, tanpa mereka sadari ada sesuatu di dalam diriku yang ikut mati bersama Mamak dan tak akan pernah hidup lagi. Ini adalah awal pencarianku akan bagian yang kepalang mati bersama Mamak, bagian ini seperti dahaga yang harus segera dipenuhi demi menggenapkan diriku lagi. Aku tidak tahu secara pasti apa yang kucari, hari itu aku hanya tahu bahwa apa yang kucari pasti ada di luar sana. Aku harus menemukannya.

5

Seperti yang kujanjikan kepada Mamak, aku masuk sekolah kedokteran setelah lulus SMU. Aku bekerja keras untuk itu, aku menjadi lebih anti sosial dari biasanya. Tidak ada senang-senang, tidak ada nongkrong-nongkrong tidak jelas, waktuku seluruhnya kudedikasikan untuk belajar demi masuk ke fakultas kedokteran dan aku pun lulus. Tahun 2005 aku resmi menjadi mahasiswa kedokteran, aku tahu biaya yang aku butuhkan tidak sedikit tapi Bapak berjanji akan membayarnya hingga aku lulus.

Hidup setelah kepergian Mamak lebih berat dari biasanya, aku dan Bapak semakin jauh. Rumah pun tampak kian semakin sepi. Aku dan Bapak mulai tidak menganggap keberadaan masing-masing, aku selalu sibuk dengan kuliahku dan ia sibuk dengan bisnisnya. Seakan-akan tugas Bapak hanya memberiku uang dan membayar kuliah, sisanya kami lakukan sendiri. Kami adalah dua pria yang tidak pernah sejalan, selalu bertolak belakang, Mamak yang biasanya menyatukan kami sudah tiada. Sekarang hanya tinggal dua orang asing yang selalu salah tingkah jika berhadapan satu sama lain.

Rumahku jadi rumah hantu; lampu di dalam rumahku hampir selalu dalam keadaan mati. Hanya teman-temanku yang sering menginap di akhir pekan mampu mengubahnya menjadi rumah yang ditinggali manusia bukan hantu-hantu muram. Keberadaan mereka kerap menganggu Bapak ketika ia pulang ke rumah, tetapi ia tidak pernah menegurku.

Aku tumbuh menjadi orang yang tidak terlalu luwes dalam pergaulan, aku dapat berbicara lancar hanya ketika berhadapan dengan teman lelaki, sedangkan ketika berhadapan dengan lawan jenis mendadak mulutku terkunci. Tergagap-gagap aku mengimbangi cara bicara mereka yang cenderung lincah, aku seperti anak gemuk yang adu lari dengan pelari profesional. Makhluk aneh bernama perempuan ini memang luar biasa membingungkan, mereka selalu punya cara untuk mengintimidasi karakterku. Cara bicara, nada suara, dan gestur tubuh mereka penuh teka-teki. Aku panik setiap kali mereka terang-terangan menggodaku setiap kali aku berada di kelas, semakin mereka menyukaiku mereka akan semakin gencar mengincarku.

Tahun awalku di fakultas kedokteran menjadikanku ninja yang selalu menghilang di balik kepulan asap putih ketika sedang tersudut, tetapi harus aku akui bahwa tidak seluruh mahasiswi di kelasku seperti itu. Ada juga yang bersikap ramah kepadaku.

Erina salah satunya.

Ia adalah perempuan pertama yang dapat membuatku nyaman bila berada di dekatnya, sesungguhnya ia adalah perempuan yang cantik jika aku boleh jujur. Aku tidak mengerti mengapa ia mau berteman denganku, wajahku memang agak lumayan. Namun, bila dibanding dengan temanku yang lain aku ini bukan apa-apa. Aku begitu sederhana untuk ukuran mahasiswa kedokteran yang didominasi anak konglomerat, baju yang kukenakan lebih banyak baju lawas ketimbang baju baru. Aku naik bus setiap hari, tidak ada mobil mewah yang setia seperti teman-temanku yang lain. Aku tidak berani mempertanyakan apa yang sudah Bapak berikan, apa lagi merongrongnya. Aku tahu ia sudah keluar uang banyak untuk membiayai kuliahku.

Aku dan Erin sering mengobrol melalui dunia maya, setiap kali yahoo messanger-ku aktif ia selalu menyapaku dan dilanjutkan dengan chatting sampai berjam-jam. Walaupun terlahir dari keluarga orang kaya, Erin tidak pernah memamerkan hartanya. Tidak ada topik yang berhubungan dengan fasilitas mewah, kami lebih sering membahas hobi, selera musik, dan sedikit tentang studi kami.

Notifikasi yahoo messanger berkedip-kedip di layar komputer yang kubiarkan menyala saat aku sedang mandi, aku duduk di meja komputerku dan menggerakan tetikus untuk membuka jendela chat yang baru saja masuk. Itu Erina.

“Hai, baru sampe rumah, ya?” ia menambahkan emoticon tertawa lebar. Kau tahu, emoticon yang terdiri dari tanda titik dua dan huruf “d” kapital.

Aku menarik keyboard komputerku dan membalasnya, “kok tahu aja, sih.”

Aku menggosok rambutku yang masih terasa lepek dengan handuk kecil seraya mengenakan celana pendek. Erina membalas.

“Aku kan paranormal, aku juga tahu pasti kamu lagi duduk bengong sambil main gitar.”

Aku menyeringai mengejek, sayang sekali tebakanmu salah. Kau tidak berbakat jadi paranormal.

“Salah! baru aja mandi, yeee.”

Ia membalas dengan deretan “hahaha” panjang.

Aku meninggalkan komputerku sejenak dan pergi ke dapur untuk membuat mie instan, pembantu tengah hari di rumahku tidak datang karena sakit. Ketika aku kembali ke kamar aku menemukan notifikasi chatting menyala lagi.

“Maaf sebelumnya kalo aku lancang, tapi kata anak-anak ibu kamu sudah meninggal, ya?”

“Iya, pas masih SMU.”

Aku meniup uap mie instanku yang mengepul, kugunakan garpu untuk menarik seutas mie dan kumasukan ke dalam mulutku. Sial, masih panas!

“Aduh Andra, maafin aku, ya. Aku gak maksud bikin kamu sedih loh, sekali lagi maaf aku udah lancang.”

Aku sesungguhnya sudah tidak lagi merasa sedih ketika orang menanyakan Mamak, aku malah iba pada mereka yang harus berkali-kali minta maaf ketika menanyakan itu. Dua tahun ini aku sudah dapat menerima kepergiannya tanpa kesedihan sedikitpun.

“Gak apa-apa kok, udah gak sedih, ini baca chatting sambil makan mie.” Balasku tidak lupa menyelipkan emoticon mengejek.

“Ah, Andra. Aku udah deg-degan aja, takut kamu marah. Eh, malah lagi makan mie. Bagi doooong.”

“Mau? Bikin sendiri!”

Tanpa kusadari senyum tak pernah lepas dari wajahku kala itu.

“Tapi pasti sepi ya di sana?”

“Kadang, sih. Tapi suka ada temen main ke sini, ya gak sepi-sepi juga.”

Mie instan di tanganku sudah hampir habis, perutku memang keroncongan akut.

“Ibu kamu pasti bangga, punya anak pinter kayak kamu. Calon dokter lagi.”

“Ah, bisa aja. Ngomong-ngomong tugas apa yang bisa dibantu?”

Aku hampir bisa menerawang ekspresi Erin ketika membaca chatting-ku, antara sebal dan geregetan.

“Ah, Andra. Aku emang kayak yang lain apa, aku bener-bener memuji loh. Kamu beruntung dapet pujian dari aku, bukannya bersyukur malah ngeledek. Huh.”

Aku tertawa kecil ketika membalasnya, “iya,deh. Makasih, ya nona Erin atas pujiannya.”

Erin benar, aku seharusnya bersyukur mendapat pujian darinya. Ia adalah salah satu mahasiswi paling diincar di kelasku. Rambut lurus panjang yang selalu tertata rapi setiap hari, wajah tirus dengan rahang tegas bak supermodel, tubuh ideal, dan kaki jenjang. Siapa yang tidak tergila-gila. Erin memiliki komposisi ras yang sempurna, bayangkan apa yang terjadi jika Sumatra Utara, Tionghoa, dan Belanda bercampur menjadi satu? Erin adalah jawabannya.

“Kamu harus kuat Andra, ibu kamu sekarang udah tenang sama Tuhan.”

Ya, ya, ya. Kata-kata itu lagi, aku mulai bosan dengan itu. Setiap orang yang tahu bahwa Mamak sudah tiada pasti mengatakan bahwa saat ini pasti ia ada di tempat paling indah.

“Makasih Erin. Gak nyangka kamu itu berhati ibu peri.”

“Ah, Andra. Serius dikit kek.” Balasnya jengkel.

Lalu ia membalas lagi, “hahaha”

Aku suka melihatmu tertawa Erin, andai saja aku sekarang berada di sana dan melihatmu tertawa. Kau boleh saja membicarakan Mamak sepuasmu tanpa membuatku sedih sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *