Jasad; Awal

1

Aku lahir di keluarga yang serba ada, Bapak dan Mamak berdarah Sumatra Utara tulen. Mereka mengadu nasib di Jakarta puluhan tahun silam dan akhirnya dapat bertahan di pusat segala modernitas, aku anak satu-satunya yang dapat mereka hasilkan sepanjang pernikahan mereka. Dokter mengatakan bahwa rahim Mamak kering sehingga ia sulit untuk punya anak lagi, semenjak itu aku menjadi satu-satunya harapan mereka. Bapaku bernama Bertus dan Mamak Melati, sama seperti orang Sumatra Utara lain, mereka sangat memelihara tradisi. Aku dididik untuk selalu patuh dengan semua peraturan yang ada, aku harus ikuti daftar kegiatanku sehari-hari; sekolah, les bahasa inggris, les piano, dan bimbingan belajar. Tidak ada satupun yang boleh terlewat, imbasnya aku jadi jarang keluar rumah untuk bermain. Temanku hanyalah anak-anak kerabat yang kebetulan tinggal di komplek yang sama, mereka sering hadir ketika ada acara arisan atau ibadah. Aku mulai berteman dengan mereka, dan hanya mereka teman yang aku punya.

Aku tumbuh di keluarga yang begitu teratur dan dingin, Mamak adalah figur yang sangat mempengaruhiku. Ia adalah sosok yang dapat menjadi seorang penyayang dan ototriter secara bersamaan, caranya menjaga sikap ketika berhadapan dengan orang lain sungguh luar biasa. Seakan setiap langkahnya sudah ia hitung dan gerakan yang ia buat sudah ia rencanakan dengan matang agar tidak ada yang mubazir, caranya berbicara dapat membuat lawan bicaranya grogi. Mamak memang sangat disegani oleh setiap lawan bicaranya, sama seperti Bapak.

Namun, di mataku ia tidak selalu seperti itu. Di lain kesempatan ia tampak sangat perhatian, ia sering memelukku ketika aku diomeli Bapak karena nilai ujian yang jelek. Ia menjadi satu-satunya lentera yang menerangi hubunganku dengan Bapak. Bapak bukanlah orang yang mudah disukai, sikapnya yang arogan terhadap siapapun termasuk anaknya membuatnya seperti besi panas yang menyakiti siapa saja yang menyentuhnya. Ia adalah sosok yang tegas dan pendiam, caranya berbicara sungguh jujur. Itulah bagian yang mengerikan, kejujurannya seperti duri tajam.

Musik adalah satu-satunya kebahagianku di masa kecil, piano menjadi pintu gerbangku. Aku menyukai puluhan tuts yang bernada itu, setiap kombinasi tuts menghasilkan simfoni yang berbeda. Walaupun begitu, umurku dengan alat musik itu tidak langgeng. Aku mulai jengah ketika alat musik itu mulai sulit untuk dimengerti, partitur sulit menghadangku untuk menikmati setiap nada yang ia hasilkan. Aku mulai membencinya atas peraturan yang tidak membiarkanku bebas untuk mengeksplorasi, aku meninggalkannya.

Aku mulai beralih ke gitar, alat musik petik yang tidak sengaja kutemui di rumah temanku ketika SMP. Awalnya aku hanya memetiknya secara acak untuk mendengar bagaimana alat itu berbunyi, rupanya Yohanes, temanku, melihatnya dan menyadari ketertarikanku. Ia bersedia mengajarkanku bermain gitar, semenjak itu setiap pulang sekolah aku mengisi waktu yang tadinya aku gunakan untuk les piano untuk belajar gitar bersama Yohanes.

Lima bulan aku belajar gitar bersamanya, aku pun membeli gitar pertamaku. Sembilan bulan belajar gitar bersama Yohanes dan memiliki gitar sendiri, aku memutuskan untuk berhenti. Aku takut aku mulai membenci gitar ketika pola sulit dan peraturan yang mengekang menghadang lagi seperti ketika belajar piano.

Aku keluar dari kamar Yohanes dengan ilmu yang cukup, semua kunci sudah kukuasai. Selanjutnya aku akan menikmatinya untuk diriku sendiri, aku begitu percaya diri.

Semenjak SD hingga SMP aku menjadi anak yang berprestasi, tidak pernah lepas dari tiga besar. Untuk itu semua aku harus rela jadi anak yang kurang pergaulan, aku adalah kutu buku berkacamata yang selalu didaulat untuk menjadi guru dadakan ketika ujian sudah dekat. Walaupun begitu ketampananku tidak begitu saja luntur, banyak cewek yang diam-diam menaruh hati kepadaku. Aku tidak menggubris mereka, aku sibuk dengan gitarku. Aku menjadi pribadi yang tidak bisa benar-benar masuk ke dalam pergaulan sehari-hari, aku bergabung sebagai orang luar. Aku memerhatikaan teman-temanku, tertawa bersama mereka, menghabiskan bersama mereka tetapi tidak benar-benar membaur. Aku berdiri di luar lingkaran, aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian mereka, selalu ada jarak antara aku dan orang-orang di sekitarku.

Aku tak pernah bisa melihat seperti apa yang mereka lihat atau merasakan kecerian yang menyala-nyala seperti mereka. aku terlalu redup, tersembunyi di dalam bayang hitam yang tak pernah hilang. Aku ada tapi tak ada, kehadiranku hanya sebatas raga tak bernyawa. Aku lebih nyaman menutup rapat-rapat pintu kamarku, menguncinya dan diam berhari-hari di sana sendirian. Hanya aku, dan pikiranku yang seluas langit dan sedalam lautan tapi tak pernah sekalipun kujamah. Mereka sesuci perawan Maria. Aku belajar memahami diriku sendiri dalam diam.

Aku mulai mempelajari lagu-lagu The Beatles dengan gitarku, sudah lama aku ingin mempelajari lagu dari musisi yang sudah kudengar karyanya semenjak aku masih orok. Bapak penggemar The Beatles.

Sehari-hari kuhabiskan dengan gitar, lagu-lagu The Beatles, dan suara falsku. Aku juga mulai membuka diri kepada lagu-lagu baru yang cocok dengan telingaku, tetapi misi utamaku tetap The Beatles. Aku memiliki daftar lagu sendiri untuk kumainkan dalam keadaan tertentu. Ketika aku sedang sedih, aku memainkan let it be di gitarku hingga aku pulih. Ketika aku sedang senang, kumainkan all you need is love, don’t let me down, ticket to ride, dan sederetan lagu The Beatles yang agak rock and roll.

Ketika aku sedang mempertanyakan hidupku, aku memainkan across the universe, happiness in warm gun, because, dan strawberry fields forever.

Selalu ada lagu yang cocok untuk setiap momen yang aku rasakan, itulah yang membuatku mendewakan The Beatles.

2

Penderitaanku dimulai ketika aku duduk di bangku SMU, tepatnya Agustus 2002. Setelah sekian lama Mamak akhirnya memeriksakan rasa nyeri di dada yang bertahun-tahun ia sembunyikan, rasa nyeri itu sudah berubah jadi benjolah sebesar buah anggur. Sore itu kami berkendara ke rumah sakit untuk memeriksakan benjolan itu, setelah dua jam pemeriksaan secara detil dan menyeluruh. Mamak resmi dinyatakan mengidap kanker payudara, aku masih ingat ekspresi Bapak ketika mendengarnya; tidak ada ekspresi apa-apa di wajahnya, tetapi matanya yang perlahan basah menjelaskan segalanya. Jauh di dalam sana Bapak jatuh dalam tangisnya.

Kanker yang makam derita semakin parah merupakan akibat dari sikap diamnya, mengapa ia bisa bertahan selama itu?

Aku tidak kuasa menahan diriku, aku terpekur dan menangis tersedu-sedu. Aku tahu hitungan mundur sudah mulai berjalan bagi Mamak, kemungkinan kesembuhan 60/40. Dokter berjanji untuk melakukan apapun untuk memerangi kanker yang diidap Mamak, tetapi itu tetap tidak bisa menghilangkan kesedihan di dalam hatiku.

Semenjak itu rumah sakit telah jadi tempat favorit baru kami bertiga, jika tidak Bapak, akulah yang mengantar Mamak. Aku menyaksikan bagaimana Mamak berubah perlahan-lahan karena deru rasa sakit dari berbagai macam obat dan tindakan yang ia jalani ditambah hatinya yang semakin hari semakin hancur, badan Mamak makin kurus, kulitnya mulai kusam dan wajahnya pucat. Rambuntnya rontok sehelai demi sehelai, tetapi ia tetap tegar. Tahun itu adalah tahun-tahun terberat dalam hidupku, tahun di mana sekeras apapun perlawanan ibuku terhadap kanker ia tetap kalah. Kanker itu datang, dan datang lagi seperti tamu yang tidak diinginkan.

Suatu malam, ketika aku menemani Mamak di dalam kamar perawatan. Ia mengusap wajahku dengan tangan kurusnya. Ya Tuhan, tangan Mamak sudah mirip rangka.

“Kamu harus jadi orang sukses, Andra.” Ucap Mamak, bibirnya begetar.

“Iya, Mak. Andra akan jadi orang sukses buat Mamak, tapi Mamak juga harus sembuh buat Andra.”

Mamak tidak menjawab, matanya malah menerawang kemana-mana.

Mamak kembali menatap wajahku, “kamu harus jadi dokter, selamatkan orang-orang seperti Mamak. Kuatkan keluarga mereka.”

Aku sedih tatkala melihat rahang Mamak yang begitu nyata terlihat di balik kulit tipisnya.

“Kamu mau mengabulkan permintaan Mamak?”

“Iya, Mak. Andra akan menuruti permintaan Mamak. Andra akan berusaha sebisa mungkin untuk jadi dokter.”

Mamak tersenyum lepas.

“Kamu tahu, Bapak itu sayang kamu. Dia menangis ketika kamu lahir, kamu adalah cahaya hidupnya.” Suara Mamak sudah tidak setegas dulu. Ibuku yang otoriter sudah pergi.

Aku tidak menjawab, Mamak dapat melihat keraguan di wajahku.

“Bapak memang bukan orang yang mudah menekspresikan rasa cintanya, Dia itu orangnya keras tapi percayalah dia itu sayang sama kamu.” Mamak menggenggam tanganku.

“Apa Mamak bakalan mati?” aku tidak bisa menahan diri untuk menanyakan itu, pertanyaan itu sudah menghantuiku semenjak hari Mamak divonis mengidap kanker.

“Mamak tidak akan mati, nak. Mamak akan selalu hidup untukmu, di sini.” Mamak menunjuk dadaku, “tidak ada seorang ibupun yang meninggalkan anaknya sendirian.”

Bola mataku mulai basah, dadaku sesak, aku tidak tahu harus menatakan apa. Aku memeluk Mamak erat dan menangis di dekapannya, aku tidak tahu apakah ini kesempatanku yang terakhir untuk memnangis di dalam dekapannya.

Malam itu kami berbicara berdua untuk pertama kalinya, aku berbaring di sisi Mamak. Ia memelukku, tangannya melingkar di leherku dan berakhir di kening. Ia menceritakan bagaimana bahagianya ketika ia melahirkanku, ia adalah perempuan paling bahagia saat itu.

“Pas kamu masih kecil, kamu gak bisa diem. Selalu ada hal yang membuatmu tertarik. Mamak harus bekerja ekstra untuk menjagamu dari hewan berbahaya di halaman, dan memastikan kamu gak makan tanah.” Ia tertawa kecil.

“Ketika ulang tahunmu yang ke tujuh, Mamak bikin perayaan kecil-kecilan. Ketika itu ada gadis kecil yang tidak sengaja terantuk kursi, lututnya tergores. Kamu tahu, kamu anak yang paling khawatir. Mamak ingat bagaimana kamu lari sekencang-kecangnya dan berteriak meminta bantuan. Ketika Mamak membalut lukanya kau memperhatikan baik-baik, sesekali kau bertanya apakah lukanya bakal sembuh.”

“Mamak bisa melihat jiwa seorang penolong sejati di sana, kamu suka membantu orang.”

Cara Mamak bercerita membuatku tenang, ia seperti sedang menceritakan kisah dongeng alih-alih masa kecilku.

Di akhir setiap ucapannya aku bisa merasakan semangatnya untuk menjadikanku orang sukses, kata-kata itu lebih mirip mantra bagiku. Aku sendiri tidak tahu arti kata itu, jadilah aku seorang yang dihantui oleh hal yang abstrak.

Kami bercerita ke sana kemari hingga kau tertidur dalam pelukannya, aku merasa begitu damai hingga sempat berpikir bahwa aku mati dalam dekapan Mamak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *