Jasad; Aku Mulai Mencintai Kematian

9

Selain The Beatles, aku mulai mendengarkan musik alternatif era sembilan puluhan. Band seperti  Nirvana, Radiohead, Pearl jam, mulai mengusir kesendirianku.

Aku mulai mencocokan lagu dari band-band itu kepada hidupku, bagaimana aku merasa aneh terhadap diriku sendiri. Aku yang kaku, pendiam, dan sering dianggap memiliki gangguan mental karena luar biasa tenang. Kerap kali orang menemukan tatapan mataku kosong melompong mirip manekin yang dapat bergerak dan bernapas, terima kasih kepada didikan Mamak yang memagari gerak-gerikku di ruang publik. Ia tidak ingin boneka kesayangannya melakukan tindakan yang tidak pantas, walaupun begitu aku tetap menyayanginya hingga saat ini. Sebenci apapun kau dengan Mamak, di tempat terkecil di dalam hatiku aku selalu tulus mencintainya.

Aku menolak dan menegaskan kepada diriku sendiri bahwa aku bukan orang aneh, aku tidak memiliki keanehan apa-apa. Aku hanya butuh sedikit berusaha membaur dengan lingkungan sekitar dan itu aku lakukan sepeninggal Mamak. kumanfaatkan waktu untuk membuka diri kepada teman baru, aku berhasil. Di kelas dan di lingkungan tempatku tinggal aku mempunyai teman, dan sosok Erin pernah mengisi hidupku walau singkat. Aku yakin bahwa tidak ada yang janggal dalam diriku, aku adalah mahasiswa kedokteran yang sehat tanpa pengaruh obat-obatan atau tukan hisap ganja. Satu-satunya benda laknat yang pernah masuk ke dalam tubuhku adalah nikotin rokok, aku sempat belajar merokok sampai akhirnya menjadi perokok kecil-kecilan di tahun terakhirku di SMA. Namun, semua itu sudah kutinggalkan.

Menginjak tahun keempat, aku ditampar dengan kenyataan yang dulu pernah menghantuiku; aku adalah seorang yang aneh, ada sesuatu yang salah di dalam diriku. Kala itu tidak seperti biasanya, Bapak menelponku untuk pulang lebih awal.

“Kita makan malam bersama, sudah lama kita tidak melakukan itu.” Ia berkata dengan semangat membara di seberang telpon.

Aku hanya membalas dengan anggukan curiga yang tidak ia lihat, bibirku bergerak lambat, “iya, ini aku langsung pulang.”

Sepanjang perjalanan pulang, aku banyak melamun di dalam bis kota. Aku mempertanyakan ajakan makan malam bersama Bapak yang tiba-tiba itu, aku tidak suka keadaan seperti ini. Pasti ada sesuatu di balik sikapnya.

Semua terjawab ketika aku sampai di rumah, ada sebuah mobil terparkir di depan. Mobil putih itu lagi. Mobil Bapak terparkir tenang di dalam garasi. Aku masuk ke dalam rumah dengan tenang, ruang tamu tampak lengang tapi ada sebuah kegaduhan di dapur. Suara perabotan dapur dan suara seseorang yang sedang bercakap-cakap sampai ke telingaku, dengan langkah hati-hati aku mendekati dapur. Setidaknya ada tiga suara berbeda di dapur, dua suara perempuan dan suara ayahku. mereka sedang asyik bersenda gurau. Langkahku terhenti di pintu dapur, mataku mengerjap-ngerjap melihat seorang perempuan seusia Bapak dan seorang gadis muda tengah memasak sambil tertawa terkekeh-kekeh. siapa gerangan mereka? mengapa Bapak kelihatan akrab dengan mereka.

Kehadiranku membawa kecanggungan di rona wajah mereka, Bapak melepaskan rangkulan tangannya di pinggang perempuan itu. Ia menatapku dan tersenyum.

“Sudah pulang, Andra. Cepat mandi dan ganti baju, abis itu makan.”

Aku tidak menghiraukan ucapan Bapak, mataku menyorot pada perempuan dan gadis itu. Mereka salah tingkah dengan tatapanku.

“Oh,” pekik Bapak seakan baru teringat sesuatu, “kenalkan ini tante Marliana dan anaknya Tari.”

Mereka maju beberapa langkah untuk menyalamiku, aku pun menyambut mereka. Tante Marliana adalah perempuan berusia awal empat puluh yang masih tetap terlihat cantik, rambut hitamnya tertata rapi. Ia mengenakan kemeja krem berkancing besar berwarna perak dan rok hitam selutut. Sedangkan Tari mirip gadis pada umumnya, umurnya kuperkirakan baru menginjak tujuh belas tahun atau delapan belas. Ia memakai jeans dan kaus berwarna cokelat.

Bibirku sudah gatal ingin menyerang mereka dengan rentetan pertanyaan, tetapi Bapak memaksaku untuk segera mandi dan berpakaian yang pantas. Mereka akan menungguku di meja makan.

Aku keluar kamar masih dengan semangat yang sama untuk mendapatkan informasi lebih tentang jati diri tante Marliana dan anaknya Tari, dan yang terpenting apa yang mereka lakukan di sini. Aku duduk bersama mereka di meja makan dengan aneka ragam makan yang terhidang, sepertinya enak. Diam-diam perutku berbunyi karena belum diisi semenjak siang.

Kami memulai makan malam, mataku lincah berpindah-pindah dari Bapak ke tante Marliana dan Tari. Aku menuntut penjelasan dari mereka, siapa saja yang bicara aku tidak peduli.

Akhirnya Bapak angkat bicara.

“Bapak menyuruh kamu pulang memang bukan tanpa alasan,” Bapak menurunkan sendok dan garpunya, perhatiannya terpusat padaku, “Bapak dan tante Marliana sudah cukup lama saling kenal, kebetulan tante Marliana bekerja untuk salah satu klien Bapak.”

Aku teringat akan mobil bercat putih itu, mobil itu adalah mobil yang mengantar Bapak pulang malam itu ketika mobilnya rusak.

“Cukup lama Bapak dan tante Marliana saling mengenal hingga akhirnya kami memutuskan semua ini, kamu sudah dewasa dan Bapak yakin sudah paham keadaan kita pasca kepergian Mamak. Jujur, Bapak kesepian dan membutuhkan seseorang untuk mendampingi Bapak. Bukan karena Bapak tidak mencintai mamak lagi, tapi karena Bapak ingin melanjutkan hidup dan sekarang hidup Bapak ada di tante Marliana. Bapak yakin ini juga yang ibumu kehendaki.”

Setelah kepergian Mamak, ini kali pertamanya Bapak berbicara panjang lebar seperti ini. Aku terpukau seakan mendengar suaranya untuk yang pertama kali.

“Kami sudah menimbang semuanya dari jauh-jauh hari, jadi ini buka keputusan buru-buru. Banyak proses yang kami tempuh hingga kami sampai di keputusan untuk menikah. Tante Marliana sudah lama pisah dari suaminya dan sekarang dia tinggal sama anak-anaknya, dan Bapak pun duda beranak satu. Bapak pikir tidak ada pihak yang dirugikan akan keputusan kami.”

Aku melihat tante Marliana menggenggam tangan Bapak.

“Tari sudah mengizinkan kami untuk membina rumah tangga yang baru, begitu juga keluarga besar tante Marliana. Saat ini kami berdua ingin meminta izinmu, Andra. Kamu adalah anak Bapak satu-satunya, dan satu-satunya yang Bapak miliki sekarang.”

“Tante harap kamu bisa merestui hubungan kami.” Akhirnya tante Marliana bersuara, aku pikir dia patung bernyawa yang tidak dapat bicara.

Aku tidak merespon apa-apa, kupandangi mereka dan Tari yang tidak hentinya tersenyum kepadaku. Seakan-akan ada sebuah tulisan berisi “selamat datang kakak tiri” tersulam di bibirnya.

“Bagaimana, Andra. Apakah kamu merestui hubungan kami?” lanjut Bapak dengan nada penuh harap.

Tentu saja aku tidak setuju, apakah Bapak sudah sinting? Menikah lagi tidak menghasilkan apa-apa, lagi pula ia tidak akan bisa menggantikan aura dari sosok Mamak untuk rumah ini. Kehadirannya nanti tidak akan serta merta membuat rumah ini hidup lagi, aku sudah cukup nyaman dengan keadaan kita dan tolong jangan memperparah. Aku bukannya egois, aku hanya tidak merasakan kebahagiaan yang berkobar di bola mata kalian, kebahagiaan ini hanyalah untuk kalian bukan untukku. surga kalian akan berubah menjadi neraka bagiku. Aku kebas, tidak ada sedikitpun kehangatan yang terpancar dari kalian mengenaiku. Aku tetap dingin dan gelap, Bapak hanya mencari jalan keluar untuknya sendiri bukan untukku.

Di bawah meja, tanganku mulai mengepal. Namun, aku tidak kuasa untuk mengatakan tidak. Jika itu kulakukan maka aku akan sama egoisnya dengan Bapak, biarlah dia dengan kebahagiaannya sendiri dan aku dengan kesendirianku sendiri. Yang jelas mereka tidak akan bisa menjangkauku, aku sudah terpental jauh dan tersesat.

“Baiklah, kalo itu yang terbaik menurut Bapak. Aku nurut.” Jawabku singkat dengan suara putus-putus.

Keceriaan bercampur kelegaan terpancar dari wajah mereka, tante Marliana berulang kali mengucapkan terima kasih kepadaku. Puncaknya ia beranjak dan mengecup keningku sebagai tanda ikatan hangat antara ibu dan anak tiri.

Satu bulan setelah makan malam itu Bapak menikah di gereja tempat kami beribadah, tidak ada resepsi megah hanya sebatas pemberkatan di gereja. Kami resmi hidup sebagai sebuah keluarga yang utuh lagi; ayah, ibu, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan. Tentu tempatku akan selalu kosong karena aku selalu menghindari mereka, kegiatan kuliahku yang semakin sibuk mejadi alasan yang tidak terpatahkan tentang seringnya aku absen setiap kali ada pertemuan keluarga besar. Aku tidak ingin diriku bersanding dengan mereka, aku akan selalu bersanding dengan Mamak yang sudah membusuk tinggal tulang di liang lahatnya.

Semenjak itu aku mengakui bahwa aku berbeda dengan orang lain, ada perasaan dingin yang abadi berkobar di dalam hatiku, aku tak lagi merasakan hal-hal tertentu. Ada satu indera yang mati di dalam tubuhku, indera itu adalah mata hatiku. Aku melihat tapi buta, aku hidup tapi mati. Aku berbicara tapi diam.

Mulai saat itu aku mati di tengah-tengah hidupku; hatiku mati, asaku mati, cintaku mati; aku mulai mencintai hal-hal yang berhubungan dengan kematian.

10

Pertengahan tahun 2008 aku sudah sampai di tahun akademisiku yang terakhir, waktu yang kupunya semakin sempit. Tumpukan ilmu-ilmu yang seakan tidak ada habisnya terus dijejalkan dalam otakku, beberapa ilmu medis yang bersangkutan dengan KOAS seperti ilmu kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kandungan, ilmu kesehatan kulit, ilmu penyakit mata, ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan jiwa, dan berbagai macam ilmu lainnya yang sudah tak mampu lagi kuhafal satu per satu. Terlepas dari keruwetan aktivitas akademisku yang semakin menjerat, setidaknya ada keuntungan yang kudapat dari sana. Aku jadi jarang di rumah, sebagian besar waktu kuhabiskan di kampus bersama rekan-rekan sefakultas dan dosen. Tidak ada tatapan sinis atau curiga dari Bapak yang mencium aroma penolakanku, aku bebas dari tuduhan apapun.

Lebih dari itu, Bapak justru memberikanku sebuah mobil Nissan Xtrail miliknya demi menunjang mobilitasku.

“Sudah waktunya kau punya kendaraan, sebentar lagi kau jadi dokter muda.” Bisiknya ketika menyerahkan kunci mobil yang baru saja ia bayar lunas dari dealer.

Sebagai gantinya ayah menjual mobil lama kami, ia membeli sebuah mobil ekonomis sebagai kendaraan sehari-harinya. Aku agak canggung menerima pemberian yang begitu melimpah dari Bapak, bertahun-tahun aku menggunkan bus kota dan berongkos pas-pasan. Kita aku sudah mengendarai sebuah mobil bagus dan uang jutaan rupiah di dompet, belum lagi uang di rekeningku yang membengkak bagai ransel yang dijejali begitu banyak pakaian. Penampilanku kini sudah lebih mirip mahasiswa kedokteran sekarang.

Selain memberiku mobil, Bapak juga membelikan sebuah laptop keluaran terbaru untuk menggantikan komputer usangku. Sesungguhnya aku masih ingin menggunkan komputer berlayar cembung dan ber-keyboard putih kotor itu. Namun, kesibukkanku dan keengananku berada di rumah memaksa kami untuk berpisah, terima kasih karena sudah menemaniku selama ini, sobat. Kau akan selalu jadi komputer yang terbaik untukku. setidaknya seminggu dua kali Bapak menyuruhku membeli kemeja baru, sebagai calon dokter aku tidak pantas memakai kaus dan jeans belel lagi. Aku harus bertransformasi demi gengsi yang berujung pada nilai jualku nanti.

Tante Marliana berdecak kagum kepadaku, ia terus menerus mengutarakan betapa bangganya ia tatkala menatapku dan ibuku pasti akan merasakan hal yang sama.

Perubahan besar-besaran bukan hanya terjadi penampilanku, tetapi juga terjadi pada pencarianku. Walaupun tidak yakin, kejadian itu sempat membuatku berpikir bahwa aku menemukan apa yang aku cari selama ini. Aku menemukan pengisi dalam kekosongan hatiku meski dalam bentuk yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Semua bermula ketika aku mempelajari ilmu anatomi dasar manusia,  ilmu anatomi dibagi menjadi dua mata kuliah berbobot empat SKS. Cukup berat memang, namun aku langsung menyukai mata kuliah anatomi satu semenjak hari pertama. Mataku berbinar-binar ketika mengetahui bahwa selama satu semester aku akan belajar lewat media cadaver. Aku melihat sesuatu yang menarik di balik rupa cadaver yang hitam dengan kulit sekeras kayu itu, ada sesuatu yang mengagumkan dari sikap diamnya yang sempurna; diam tanpa nyawa. Mengingatkanku akan sosok Mamak ketika terakhir kali aku melihatnya dalam tubuh yang sudah dikuasai formalin. Bisa dibilang aku jatuh cinta semenjak pertama kali aku melihat cadaver yang akan menjadi obyek pembelajaran selama satu semester, aku yakin ketika hidup ia adalah sesosok pria yang disegani melihat postur tubuhnya yang bongsor dengan dada bidang yang menjulang bak benteng kokoh yang mampu menahan musuh dalam jumlah besar. Mata kuliah anatomi satu lebih menitik beratkan pada tulang manusia, dari mulai dari Ossa crani atau tulang tengkorak sampai tulang belakang.

Ini adalah mata kuliah terumit yang pernah kupelajari selama masa akademisku, tetapi itu semua tidak menyurutkan semangatku. Ada yang berhasil menarik perhatianku sepanjang tiga jam yang melelahkan; sosok cadaver lelaki. Tanpa sepengetahuan siapa-siapa aku mengagumi sosok itu, bak seorang model lukis berparas luar biasa sempurna ia menyihirku dalam diamnya yang terasa gemerlap. Beberapa kali kutangkap matanya yang terbuka tertuju kepadaku, bibir hitamnya melengkungkan senyum tulus. Ingin rasanya aku lari ke dalam pelukannya yang mungkin saja bisa membakar kulitku akibat kandungan formalin yang menjajah setiap lapisan tubuhnya, aku tidak akan keberatan.

Baru kali ini aku melihat sosok manusia yang begitu polos tanpa sedikitpun polesan duniawi, aku seperti melihat sosok bayi yang baru lahir ke dunia. Sebuah senyuman sumringah menjawab tatapannya padaku, sedetik kemudian aku menyadari bahwa sepasang mata Erin sedang tertuju padaku, menatapku heran. Erin adalah satu-satunya mahasiswa yang berdiri tegap menatapku, yang lain tengah membungkuk dan mempelajari tulang lengan atas.

Aku tersadar dengan napas terengah-engah, kulirik cepat wajah cadaver itu, matanya tertutup, bibirnya bagai garis lurus.

Aku melepaskan tatapanku pada Erin dan ikut membungkuk bersama teman-temanku, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku bersama puluhan mahasiswa lain tengah belajar tentang tulang lengan atas.

Sepuluh detik berselang kembali kulirik Erin, ia masih menatapku dengan tatapan aneh. Ia mungkin sedang menerka-nerka senyum sumringahku, ia tidak juga menemukan jawaban pasti. Akhirnya ia menyerah dan berhenti menatapku.

Mata kuliah anatomi satu berjalan lancar, aku mendapatkan nilai yang cukup baik. Berbekal nilai itulah aku mendatangi dokter Andre yang kelak menjadi dosen untuk anatomi dua.

“Kamu yakin mau menjadi asisten saya?” tanya dokter Andre, ia mengerutkan kening.

“Iya, dok. Saya yakin dan siap dengan konsekuensi yang harus saya tanggung.” Jawabku mantap.

Dokter Andre mendorong tubuhnya ke sandaran kursi, ia tampak tengah menimbang-nimbang. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan, aku tak mau segala upayaku berakhir pada sebuah penolakan.

Aku sudah bersusah payah membuat janji dengan dokter Andre yang merangkap menjadi dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di rumah sakit, dan aku tidak mau gagal.

“Sesungguhnya yang tersulit jadi asisten dosen adalah kamu harus bisa membagi waktu antara kuliahmu dan tugas sebagai asisten dosen. Semester nanti kamu juga akan mendapatkan anatomi dua, kan?”

“Iya, dok. Saya yakin saya bisa membagi waktu, kalau tidak mana mungkin saya susah-susah mendatangi dokter ke sini.” Sorot mataku lurus dan tajam.

Dokter Andre mengangguk kecil, “baiklah, jika tekad kamu sudah mantap. Saya kasih kesempatan, tapi kalo kamu mempermainkan kepercayaan saya, udah bisa saya pastiin kamu gak akan lulus.” Ujarnya singkat.

Aku senang campur takut, setelah bicara itu aku pamit meninggalkan dokter Andre. Setidaknya ancaman itu sepadan karena jika aku menjadi asisten dosen maka aksesku pada ruangan anatomi akan semakin mudah karena ruangan itu menjadi tanggung jawabku, dan kans untuk lebih mengenal si pria gagah itu semakin besar. Jantungku berdegup kencang menunggu kesempatan itu datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *