Jasad; Pembukaan

Awal maret 2014

Banyak orang mengatakan ‘menulislah ketika ada sesuatu yang ingin kau ceritakan’, aku setuju dengan apa yang mereka katakan. Meski aku bukanlah seorang penulis yang mahir, aku hanya punya sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada siapa saja yang membaca manuskrip ini. Di saat yang sama aku hanya berusaha jujur kepada diriku sendiri tentang apa yang aku rasakan, selama ini aku lelah berkubang di dalam kebohongan. Aku babi gemuk yang jenuh dengan lumpurnya sendiri walau itu sungguh membuatku nyaman, aku ingin dikenal sebagai diriku sendiri. Aku memang berbeda, itu kenyataan. Sekeras apapun aku mengikuti manusia normal, aku malah semakin tersiksa. Jadi, di sinilah aku. Menulis bak penulis masyur. Mungkin setiap deretan kata yang aku bangun tidak megah tapi ini adalah jujur, kau akan mengenalku apa adanya. Tolong jangan membenciku, apa yang aku alami hanya debu kosmik bumi. Tak ada untungnya bagi semesta atau kalian yang ada di dalamnya. Namun, orang-orang sepertiku memang nyata adanya, walau kerap dicap sebagai manusia tak bermoral. Tak bermaksud untuk sembunyi, tetapi lebih ingin membuka diri.

Namun, aku bahagia. Inilah yang aku cari dalam perjalananku, berbaring di kasur sempit hotel melati di antah berantah bersama Michelle. Ia adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal, rendah hati, tidak neko-neko, dan yang pasti tulus menyayangiku. Aku punya luka di dalam dadaku, banyak, tetapi ia tidak peduli. Michelle merangkulku setiap kali ketakutanku datang lagi, dalam diamnya aku menemukan rumah penuh cinta yang telah lama hilang. Surga dengan anggur dan susu yang tak pernah habis.

Waktuku tidak banyak, sesegera mungkin mereka bisa datang, aku harus menulis cepat jika ingin kisahku ini dapat terselesaikan. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun yang membaca ini, aku yakin kau telah menerima kisahku tanpa penghakiman yang menyakitkan, mereka yang berhati bersih semenjak membuka halaman pertama. Ini janjiku, aku tidak akan mengecewakan, siapa pun kau.

Aku sekarang berada di tempat terakhirku, jika kalian bertanya-tanya. Kamar hotel kelas kacangan –hotel yang biasa dipakai supir truk menghabiskan malam bersama lonte di kawasan melarat- bersama Michelle. Kalian akan mengenal Michelle, aku tidak perlu memberitahu sekarang.

Udara di kamar ini sangat pengap, asap rokok mengepul di mana-mana, bola mataku perih akibat nikotin yang pekat. Aku perokok berat yang payah, sama asap rokok sendiri pun keok. Maafkan aku, Michelle. Aku tahu kau tidak suka aku merokok, mau bagaimana lagi? Hanya rokoklah yang dapat menenangkanku saat ini.

“Selesaikan kisahmu, aku akan selalu bersamamu sayang.” Michelle berbisik di telingaku dengan suara lembutnya setengah merayu.

Aku melepaskan pelukanku lalu bangkit menyingkirkan pakaianku yang berserakan di mana-mana, kamar ini mirip kapal pecah. Aku duduk di meja kecil dengan cermin penuh ukiran asal-asalan, jenis cermin ini sering aku lihat dibawa oleh tukang perabotan keliling di komplek ketika aku masih kecil. Aku melihat pantulan diriku sendiri di dalam cermin, seorang pria berumur dua puluh delapan tahun dengan rambut hitam berminyak dan janggut menyedihkan yang mulai tumbuh. Aku mirip sekali gelandangan yang biasa tidur di kolong jembatan, dan itu mengecewakan diriku sendiri. Dulu aku adalah pria yang tampan, seorang keturunan terbaik dari pohon keturunan Sumatra Utara yang memiliki rahang tak terlalu kotak dan berkulit putih. Kacamata yang kukenakan menambah kesan pintar di wajah yang sudah menjadi modal dasarku, aku dilahirkan dengan nama Diandra. Namaku memang tidak seperti nama orang Sumatra Utara lain yang khas dengan nama bule, ayahku memang bukan orang yang terlalu suka nama yang kebarat-baratan. Ia suka nama pribumi yang ringkas, jadilah namaku yang kayak begitu. Aku sepenuhnya setuju dengan ide ayahku, tidak pernah terbayangkan jika namaku meniru orang asing yang selalu berlebihan di telingaku. Bisa-bisa tahi kupingku bertambah tebal setiap kali orang memanggil nama lengkapku, aku lebih suka orang memanggilku Andra.

Aku jadi malas untuk menulis karena sudah keburu tenggelam dalam keputusasaan kepada penampilanku yang tidak setampan biasanya, namun ketika aku melirik ke belakang, Michelle duduk di atas tempat tidur kami yang usang.

“Tidak apa-apa, menulislah. Kamu tetap pria paling seksi menurutku.” Ia mengedipkan matanya genit.

Semangatku terbakar bagai api tersulut bensin, kubuka buku catatanku dan mulai menulis. Aku menulis dengan tanganku sendiri, aku meninggalkan laptopku di rumah. Aku meninggalkannya bukan karena aku lupa, tetapi karena kau memang tidak membutuhkannya. Diluar hujan deras, aku bisa mendengar suara guyuran airnya. Aku melamun sejenak dan mulai menggerakan penaku di atas kertas putih yang masih suci, sesuci hidupku sebelum ini. Sayangnya aku tidak bahagia hidup di dalamnya, aku memutuskan untuk keluar.

Dan aku memulai kisahku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *