Pada Akhirnya, Kita Mati Sendiri

Pernahkah kalian merasa jatuh cinta seberat-beratnya kepada seseorang hingga rela melakukan apapun? Aku pernah, kepada Dewi. Teman sekantorku. Rasa cinta itu tetap terasa meski pisau kini merobek leherku, memutus setiap jaringan darah dan sebagian tulang belakang hingga tenggorokan. Aku bahkan bisa merasakan bau karatnya setiap kali menarik udara berikut darah naik turun. Kupegang leherku berharap rasa sakitnya berkurang, tapi nyatanya tidak. Semakin menggila seperti kuda yang menendang-nendang ulu hati. Jemariku basah oleh darah dan potongan kulitku yang masih hangat, melambai bagai gerakan tangan Dewi ketika lari tunggang langgang menjauh dariku.

Kini tinggal aku dan dua orang pemuda tanggung ini, mereka mengepungku. Namun kemudian kabur ketika aku ambruk ke trotoar jalan sambil mengigil, meregang nyawa, menangis, tertawa, kemudian diam untuk selamanya. Terlepas dari apa yang terjadi padaku, aku masih sempat-sempatnya melihat sekelebat wajah Dewi padahal raganya sudah tidak bersamaku. Begitupun ragaku sendiri.

Beberapa jam sebelum itu aku bersama Dewi di kantor, kami membicarakan film yang baru saja keluar di bioskop. Kami berdua ingin menonton film tersebut, dan tidak usah-usainya membahas akan seperti apa ceritanya nanti. Di sisi lain aku tidak bisa berhenti membahas betapa cantiknya Dewi dalam balutan pakaian kerjanya, begitu pas, tidak berlebihan namun tetap mempesona.

Di dalam hati aku suka membahas bagaimana rambutnya selalu terlihat sempurna setiap saat, jemariku gatal ingin menyusurinya dan membuatnya agak berantakan untuk menegaskan perempuan yang dihadapanku masih manusia bukan manusia super sempurna.

“Nonton yuk nanti malem,” kata Dewi.

“Boleh, abis balik kerja ya.” jawabku.

“Oke, gue cek dulu jadwalnya.”

Dewi mengambil ponselnya, dan memeriksa jadwal pemutaran film di bioskop terdekat dari kantor. Ia terlihat begitu serius. Apakah dia akan begitu seriusnya ketika aku mengatakan tentang perasaanku yang selama ini terpendam, atau dia malah tertawa terbahak-bahak? Entahlah.

“Yah, penuh semua lagi. Ada barisan paling depan, males banget.” Katanya kecewa.

“Namanya juga film yang lagi hot, pasti banyak bener penontonnya.” Aku mencoba mengobati kekecewaannya, mungkin setelah itu akan menawarinya makan saja ketimbang nonton film.

Tiba-tiba Dewi berpekik girang, “Eh, masih ada kok nih. Tapi jam 9 malem.” Katanya.

Aku pura-pura ikut senang, padahal kesal. Gagak sudah rencana untuk mengajaknya makan. “Ya udah, sikatlah.” Kataku.

Dewi menatapku, “Tapi lo anterin gue pulang ya?”

Aku tertawa kecil, “Gak masalah.”

Akhirnya aku bisa mengantarkannya pulang, soalnya selama ini Dewi selalu memilih naik angkutan umum tiap kali aku menawari diri untuk mengantarnya pulang. Sore itu kami sengaja untuk tidak pulang, kami meneruskan pekerjaan sampai pukul 8 malam dan kemudian berangkat menuju bioskop dengan motorku. Di dalam perjalanan, Dewi mendekap tubuhku. Aku kaget, perasaanku melayang.

Aku harus bereaksi apa? Apa harus kutolak atau nikmati saja? Pastinya kunikmati saja lah. Kapan lagi.

Sebelum film masuk kami sudah masuk bioskop, dan duduk di barisan tengah saat layar bioskop masih menampilkan iklan dan trailer. “Kira-kira kayak gimana ya lanjutannya?” tanya Dewi, ia terlihat antusias. “Mau gue bacain spoilernya?” aku menampilkan senyum jahat kepadanya. “Enak aja, jangan bikin kegaduhan deh.” Dewi setengah mengancam.

Film berlangsung seru, dan ceritanya jauh dari tebakan kami namun tetap menyenangkan. Sepanjang film aku tersenyum bahagia. Bukan, bukan karena cerita film tapi karena tangan Dewi memegang erat tanganku. Apakah diam-diam Dewi juga menaruh perasaan padaku? Buktinya ia memegang tanganku cukup erat, aku sampai keringat dingin. Ini pertanda bagus, aku tidak cinta bertepuk sebelah tangan. Apa aku langsung kuutarakan saja perasaanku padanya? Momennya pas, kuantar dia pulang, setelah sampai rumahnya aku langsung mengutarakan perasaanku. Iya, gitu aja.

Pukul 11 malam, Dewi duduk di belakang jok motorku sementara aku mebawanya pulang dengan perasaan bahagia. Dewi mendekapku lagi.

Sedikit lagi sampai ke tujuan, aku dipepet dua motor berisi 4 orang pemuda tanggung. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan, namun lama kelamaan mereka mendekat dan menyuruhku berhenti. Aku awalnya menolak, perasaanku tidak enak. Namun salah satu dari mereka menendang motorku hingga oleng, bila aku tidak segera menuruti perintah mereka maka aku akan ditendang lagi. Kali ini sampai jatuh.

Aku pun menepi diikuti oleh mereka, tidak lama dari sana motorku berhenti. Aku dan Dewi berhenti dan menghadapi keempat pemuda itu.

“Sini hape lo sama kunci motor.” Kata salah satu dari mereka.

“Apa-apaan nih.” Aku langsung menepis tangan salah satu dari mereka yang ingin meraih kantung celana Dewi.

“Udah cepetan kasih hape lo sama kunci motor, daripada gue tusuk lo berdua.” Orang itu mengeluarkan pisau dari balik bajunya.

Aku menyuruh Dewi mundur, biar aku yang menghadapi mereka. Meski membawa pisau, aku tidak takut. Mereka tidak lebih dari pemuda tanggung yang sekali tabok jatuh. “Apa-apaan lo minta hape sama kunci motor, anjing.” Aku berkata lagi kepada mereka.

“Ngepet lo!” pemuda yang membawa pisau langsung menyerangku namun berhasil aku tepis. Dengan cepat aku meninju kepalanya hingga terjauh. Melihat itu, ketiga temannya ikutan mengeroyok. Aku mengandalkan sedikit kemampuan berkelahiku untuk menghadapi mereka. Walaupun terkena pukulan sebanyak 3 kali, aku berhasil mengusir dua dari tiga pemuda itu. Mereka langsung lari menggunakan motor, kini tinggal dua orang lagi yang masih belum menyerah menghadapiku.

Aku lihat Dewi masih berdiri di sisi motorku, memperhatikan ketika aku berusaha menumbangkan salah satu dari dua orang pemuda itu. Usahaku berhasil, namun kemudian aku terkesiap karena suara teriakan Dewi, aku menoleh namun sudah terlambat. Si pemuda yang membawa pisau bangun dan menyelinap ke belakangku. Ia menusuk leherku dengan pisah berkaratnya, bajingannya ia sempat-sempatnya memutar pisau yang masih menancap di leherku sementara aku mengerang kesakitan.

Putaran pisau itu membuatku merasa ngilu yang amat besar hingga membuat kepalaku pusing, darah hangat mengalir deras dari luka leherku yang cukup lebar. Tidak puas, pemuda itu menarik pisaunya dan menikamku dua kali di area dada. Tikaman kedua dan ketika tidak sesakit tikaman di leherku, namun salah satunya berhasil menembus jantungku. Kucuran darah semakin menggila, membasahi celana sepatu. Rasanya aku seperti kehujanan.

Si pemudia tersenyum dan lari bersama temannya tanpa mengambil apa-apa dari kami. “Kok dada gue panas banget ya?” tanyaku kepada Dewi. Namun ia malah lari meninggalkanku. Dalam kondisi kehabisan darah, aku tak menyangka Dewi meninggalkanku begitu saja. Apa artinya dekapan dan pegangan tangan tadi? Apakah aku tidak pantas mendapatkannya lagi sekarang?

Kuraba leherku rasanya lembek dan lengket, aku baru sadar yang kupegang adalah lapisan daging di bawa epidermis. Pantas lembek. Pandanganku berputar-putar liar. Pernah liat sapi ketika dipotong saat Idul Adha namun berhasil lepas lalu berlari-lari dengan tenggorokan menganga lebar dan darah mengucur? Itulah aku sekarang. Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, rasanya rasa sakit ini membuatku lelah dan ingin tidur.

Aku jatuh terlentang di trotoar, bola mataku berputar-putar. Jika pada akhirnya kita mati sendirian, buat apa mencintai seseorang?

One thought on “Pada Akhirnya, Kita Mati Sendiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *